Sudah pernah melihat buah mojo (Aegle Marmelos)? Penampakannya menarik sekali kan. Bulat licin, berwarna hijau dan tumbuh langsung di batang pohon atau rantingnya. Besarnya kira-kira sebesar buah jeruk bali. Bunganya juga cantik, mirip bunga anggrek atau sekilas mirip kantung semar yang bercorong.
Alkisah dahulu kala, ketika lari dari Singosari dan mendirikan kerajaan yang baru, Raden Wijaya belum memiliki nama untuk kerajaannya. Ketika para pengikutnya membuka hutan untuk membangun istana pusat pemerintahan, mereka menemukan buah aneh yang besar sekali, sebesar kepala anak kecil dan berwarna hijau, sangat menggiurkan untuk dicicipi. Begitu dibelah dan dirasakan ternyata rasanya sungguh pahit. Buah itu namanya buah mojo. Dari situlah asal muasal nama kerajaan Maja Pahit.
Buah yang satu ini memang pahit rasanya. Kulit buahnya keras seperti cangkang meskipun tak sekeras batok kelapa. Bagian dalamnya seperti buah melon, berair dan berisi biji yang banyak.
Kalau rasanya saja pahit dan tidak bisa di makan, terus manfaat buah ini apa dong? Meskipun jarang sekali yang menanamnya, daun mojo bisa digunakan untuk makanan ternak. Selain itu, masyarakat di kampung asal saya sering menggunakan cangkang buah mojo yang telah tua untuk membuat “beruk”, alat takar tradisional yang masih digunakan di pasar-pasar untuk mengukur volume barang curah. Cara membuatnya cukup mudah. Tinggal memotong sedikit bagian atasnya dan mengeluarkan isi buahnya, kemudian dibersihkan dan dijemur.
Artikel dan foto terkait:
Ternyata mojo bisa digunakan untuk obat gosok dan pestisida



Sep 27, 2011 @ 03:24:01
wah, seumur umur, saya baru pertama kali melihat foto buah mojo pahit, foto ini diambil di daerah mana kang? bisa ditanam di gunungkidul ngga?
Sep 27, 2011 @ 08:59:24
Buah mojo ini saya foto di pekarangan rumah saya mas Jar, di Ponjong. Cara nanemnya juga gampang, bisa dengan metode stek.