the gajah wong mejeng di jatinegara

Nama Kereta      : Gajah Wong

Kelas                 : Ekonomi AC

Jurusan              : Lempuyangan (Jogja) – Pasar Senen (Jakarta), Ps Senen – Lempuyangan

Jam Berangkat   : 7.45 (dari Ps Senen), 19.30 (dari Lempuyangan)

Jumlah Gerbong: maksimal 12 gerbong

Jumlah Penumpang Tiap Gerbong: 80 orang

Harga Tiket       : Rp.120.000 (135.000 pada akhir pekan dan 170.000 saat libur panjang), bisa dipesan H-40

masih kinclong

Saya sudah dua kali mencicipi kereta ini. Pertama ketika ikut arus mudik, Jumat pagi tanggal 26 Agustus 2011. Waktu itu kereta ini masih berumur tiga hari karena baru saja diresmikan oleh Menhub pada tanggal 24 September 2011. Gerbong dan interiornya masih baru semua. Bahkan bangku dan lantainya pun masih terbungkus plastik.

Yang kedua, saya naik Gajah Wong tanggal 18 September 2011 lalu, berangkat dari Lempuyangan-Jogja.

Testimoni (+):

Untuk masalah fasilitas dan interior, kereta ini bisa diadu dengan kelas bisnis. Meskipun tidak stabil, pendingin udara tentu menjadi andalannya. Fasilitas pendingin udara ini tidak ditemui pada kelas bisnis.

Kemudian setiap bangku juga terdiri dari dua orang saja. Beda dengan kelas ekonomi yang tiap bangkunya diisi tiga orang di deretan kiri dan  dua orang di deretan kanan. Hanya saja bangkunya saling berhadapan dan tidak bisa diputar, sehingga setengah dari penumpangnya akan duduk membelakangi arah laju kereta.

Jarak antar bangku yang berhadapan lumayan lega. Namun jangan harap bisa tidur di lantai, bangku yang berhadapan menjadi sebabnya.

tidur di kolong

Jarak antara bangku di deretan kanan dengan bangku di deret kiri juga lebih luas dibanding kelas ekonomi biasa. Ini tentu menjadi nilai plus bagi para pemegang tiket tanpa tempat duduk yang biasanya duduk lesehan di lantai. Oh iya, nantinya tiket tanpa tempat duduk ini akan ditiadakan, gerbong hanya diisi penumpang sejumlah tempat duduk saja.

Tiap gerbong dilengkapi dengan layar display di kedua ujungnya yang menampilkan petunjuk deret kursi (A, B, C atau D) dan peringatan larangan merokok.

Yang paling menarik adalah tidak adanya penjual asongan yang hilir mudik di dalam gerbong. Saat pertama naik kereta ini dulu, tiap gerbong dijaga oleh satu orang polisi. Begitu ada pedangang yang coba masuk ke gerbong saat kereta berhenti di stasiun, polisi penjaga dengan sigap akan menghadangnya. Pada kesempatan kedua naik kereta ini, tidak ada polisi yang menjaga gerbong. Meski demikian, para pedagang masih “sungkan” masuk ke dalam gerbong yang selalu tertutup rapat itu, paling-paling mereka menjajakan dagangannya hanya sampai di bordes/ruangan batas antar gerbong.

Testimoni (-):

Karena menyandang kelas ekonomi, maka penumpang kereta Gajah Wong harus bersiap-siap “sakit hati” ketika kereta sering kali menepi di stasiun untuk memberi jalan kepada kerata kelas bisnis dan eksekutif yang akan menyalipnya. Hal ini tentunya mempengaruhi waktu tempuh kereta yang lebih lama. Di jalur rel kereta double track antara Cirebon-Jakarta pun, kereta Gajah Wong sering mengalah, menunggu kereta kelas bisnis dan eksekutif lewat.

Demikian halnya dengan stasiun persinggahannya, kereta ini berhenti di banyak stasiun. Dalam perjalanan dari Jakarta, Gajah Wong berhenti di stasiun-stasiun kecil di Jawa Tengah untuk menurunkan penumpang.

Ketepatan jadwal keberangkatan dan kedatangan juga menjadi kekurangan paling menohok. Saat naik tgl 26 Agustus, keberangkatan kereta molor dua jam dari jadwal. Kereta ini baru berangkat pukul 10.00 dan sampai di Jogja pukul 19.00, padahal tertera di tiket, kereta akan sampai di Lempuyangan jam 16.04. Sedangkan pada tgl 18 September, kereta tepat waktu berangkat dari Jogja pukul 19.30, hanya saja sampai di stasiun Jatinegara pukul 07.00 pagi, molor dua jam lebih dari jadwal seharusnya, yakni pukul 04.38.

Satu lagi kekurangannya, karena kereta ini sampai di Bekasi sudah terang, maka para commuter di stasiun Bekasi berbondong-bondong menumpang naik kereta ini menuju Jakarta dan dengan tanpa membeli tiket tentunya. Akibatnya gerbong menjadi penuh sesak dan menyulitkan penumpang untuk bersiap-siap turun di stasiun Jatinegara.

Harapan dari kami:

Kereta Gajah Wong hanya terdiri dari satu rangkaian kereta saja, beda dengan kereta Senja Jogja, Fajar Jogja atau Taksaka yang masing-masing terdiri dari dua rangkaian, sehingga memungkinkan keberangkatan yang hampir bersamaan dari masing-masing kota (Jakarta dan Jogja). Ditambah dengan adanya kebijakan meniadakan tiket tanpa tempat duduk, maka penambahan armada kereta menurut hemat saya mutlak diperlukan. Dengan masih adanya tiket tanpa tempat duduk saja, masih banyak penumpang yang tidak bisa terangkut. Bisa dibayangkan jika nantinya kebijakan tiket tanpa tempat duduk ini dihapus, akan semakin banyak penumpang yang tidak bisa terlayani.

Strerilisasi kereta di stasiun Bekasi hendaknya diberlakukan untuk mencegah para penumpang tanpa tiket yang ikut “nebeng” kereta ini menuju Jakarta.

Update:

Jumat, 10 Februari 2012 lalu, saya kembali naik kereta ini dari Stasiun Jatinegara, berangkat pukul 8.00 dan sampai di stasiun Tugu, Jogja jam 17.00, harga tiket Rp.135.000,-. Semua penumpang dapat tempat duduk, dalam artian tidak ada lagi tiket tanpa tempat duduk.

Sayangnya mulai bulan Maret 2012, kereta Gajahwong tidak berhenti di Stasiun Jatinegara. Jadi, penumpang harus naik di stasiun Senen.

Tanggal 8 April 2012, longweekend kemaren saya naik Gajahwong. Saya naik dari Stasiun Tugu karena terasa lebih lega saat menunggu keberangkatan bersama sang pengantar setia -_- . Beda dengan stasiun Lempuyangan yang kurang nyaman bagi para pengantar. Ada kemajuan krusial dari Kereta Gajahwong ini, tak lain adalah waktu kedatangan di stasiun Jatinegara yang tepat waktu, yiiihaaa. Jam 05 pagi lebih dikiiit, kereta sudah merapat di Stasiun Jatinegara. Jadi tak ada lagi para commuter yang ikut numpang kereta ini di stasiun Bekasi. Senengnyaaa bisa sampai di Jakarta pagi-pagi sehingga bisa istirahat sebelum masuk kantor :D

About these ads