Menampa sawah tadah hujan membentang sepanjang jalan

Padi yang mulai berbunga

Liuk jalanan hitam legam nan mulus

Karang kokoh dihempas ombak

Pasir putih indah menawan

Libur Imlek kemaren, saya menyempatkan untuk kembali mengunjungi pesisir pantai selatan Gunungkidul.

Sudah lama rasanya tak menjejakkan kaki di pasir putih pantai Gunungkidul semenjak masih kuliah dulu (lebih dari 5 tahun yang lalu :))

Awalnya, tak ada tujuan pasti, pantai mana yang akan kami pilih. Antara Indrayanti atau Sadeng, bingung kami mo datangi yang mana. Rencananya sih mo menyisir semua pantai dari mulai Sundak hingga Sadeng. Terbersit juga tuk mengunjungi situs Bengawan Solo Purba. Ternyata oh ternyata, tak cukup sehari tuk menyapu sekedar setengah dari pantai-pantai di Gunungkidul.

Terus, pantai-pantai mana yang kami kunjungi?

Pantai Indrayanti

Ternyata jiwa petualang kami menuntun roda motor kami tuk mengunjungi pantai-pantai yang sedang populer di acara-acara wisata, acara petualangan, juga di blog-blog travelling.

Indrayanti

Pantai Indrayanti sedang naik daun akhir-akhir ini. Konon katanya, syuting Honda Revo mengambil tempat di pantai ini. Saat kami kesana, pantai ini sungguh ramai dipadati wisatawan.

Ketika wisatawan sudah sedikit “bosan” dengan pantai Baron-Krakal-Kukup-Sundak, munculah pantai ini dengan sistem pengelolaan yang baru. Pantai ini dikelola oleh swasta dengan fasilitas yang lebih lengkap: restoran berkelas, penginapan (vila), gazeebo, speedboat dan deretan payung pantai yang disewakan untuk umum.

Bagi pengunjung yang sekedar ingin menikmati pasir putih dan debur ombak, jangan khawatir, pengelola tidak mengenakan charge khusus, cukup ongkos parkir saja. Biaya hanya dikenakan untuk penggunaan vila, gazeebo, speedboat dan payung pantainya. Jika ingin menggunakan gazeebo untuk berteduh, pengunjung cukup memesan makanan di resto Indrayanti Beach. Sekilas melewati resto Indrayani beach, aroma udang bakarnya sungguh menggugah selera. Sayang sekali, saat kami coba memesannya, stoknya sudah habis :(.

Letak pantai Indrayanti ini berada kurang lebih 1 km  di sebelah timur pantai Sundak, terpisah oleh Pantai Semaung, yang juga dikelola oleh swasta. Tanah sepanjang pantai di Gunungkidul sejatinya adalah Sultan Ground, tanah milik keraton Jogja. Jadi, swasta di sini diberi ijin oleh kraton untuk mengelola pantai, bekerjasama dengan karang taruna setempat.

Dari jendela Padepokan Karangjati

Di sebuah bukit, arah Timur Laut dari Pantai Indrayanti, berdiri megah sebuah bangunan yang masih baru. Inilah Padepokan Karangjati. Bangunan joglo berdinding kayu ini dimiliki oleh seorang priyayi dari Jakarta dan disewakan untuk umum.

Dari padepokan ini, kita bisa memandang luas samudera Hindia yang membiru.

Tarif Sewa Padepokan

Padepokan ini dilengkapi fasilitas yang cukup lengkap: listrik di malam hari, air bersih, toilet jongkok dan duduk, serta ruangan utama yang cukup luas yang bisa digunakan untuk sebuah pertemuan sekaligus tempat menginap untuk sekitar 50 orang.

Pantai Pok Tunggal

Pantai Pok Tunggal

Tujuan berikutnya adalah Pantai Pok Tunggal. Kenapa kami ke situ? Tak lain hanya karena tergoda oleh papan petunjuk arah pantai pok Tunggal. Di situ tertulis jaraknya +/- 1 km. Dan ternyataaa, eng ing enggg, 1 km plus plus; plus jalan batu makadam yang bikin indehoy, plus jauhnya yang aje gile, hehehe.

Awalnya sih, selepas berbelok ke kanan dari jalan aspal utama, jalan menuju pantai ini berupa cor beton, namun ternyata itu cuma beberapa ratus meter sahaja. Sisanya lebih banyak jalan batu cadas yang mantab bikin badan enjot-enjotan :D.

Sesampainya di pantai itu, kami lihat ada sepasang remaja sedang camping di atas pasir, dibawah puun. Syahdu sangat sepertinya, prikitiwww.

Di kemudian hari, setelah saya tinjau lewat google map, ternyata oh ternyata, pantai Pok Tunggal lebih dekat jika ditempuh dari pantai Indrayanti dengan cara tracking jalan kaki melewati jalan setapak. Pantai ini berada sedikit di timur Pantai Indrayanti, terpisah oleh satu-dua pantai dan bukit kecil, jauh lebih dekat jika dibandingkan dengan jarak yg kami tempuh dengan motor Vega pinjeman itu. Pantai ini masih perawan, belom banyak yang tahu keberadaan pantai ini.

Pantai Timang

Setelah semi offroad mengunjungi Pantai Pok Tunggal, kami tak jua kapok tuk kembali menjelajah pantai-pantai terpencil lainnya.

Lagi-lagi, papan petunjuk kecil yang menggiring kami ke tujuan berikutnya, tanpa direncanakan sebelumnya melajulah kami menuju pantai Timang, tentunya dibumbui dengan rasa penasaran akan pulau kecil dengan kereta gantung yang saya lihat di acara-acara jelajah alam di TV.

Pertama kali saya tahu pantai ini dari acara Jejak Petualang beberapa tahun lalu. Sang presenter kala itu menyeberang ke pulau karang kecil di lepas pantai dengan menggunakan kereta gantung alakadarnya. Kereta gantung berujud kursi kayu yang digerakkan dengan bantuan tali tambang dari plastik (tampar) yang membentang dari pinggir pantai menuju pulau Panjang di seberang. Benar-benar alat transportasi yang tidak safe menurut saya. Bagaimana tidak, jika tali plastiknya putus, atau kursi kayunya patah maka jurang dalam yang menganga dengan karang-karang tajam sudah menanti di bawah. Ngeriiiiii

Di papan petunjuk tertulis jarak menuju pantai Timang sejauh 4 km. Sebenarnya saya sangsi dengan petunjuk itu, jangan-jangan seperti yang terjadi di pantai Pok Tunggal sebelumnya, namun rasa penasaran mengalahkan keraguan saya.

Dan benar saja, pantai Timang benar-benar jauuuuuh dan melelahkan. Sama seperti jalur menuju Pantai Pok Tunggal, jalanan menuju pantai ini di dominasi jalanan terjal dari batu cadas yang menyiksa motor dan pengendaranya. Sangat tidak dianjurkan menuju ke pantai ini dengan motor bebek (jangan tiru kami pokoknya), hehehe. Minimal dengan motor kawasaki semi trail yg bisa buat semi offroad itu loh …

Di tengah-tengah jalan, sempat kami berfikir tuk balik kanan saja. Jalanannya benar-benar acakadut: cadas, terjal dan naik turun. Namun karena air laut sudah kelihatan, nanggung juga kalau putar balik, sayang banget.

di titik ini kami sempat pingin balik mundur

Pulau Panjang dengan kereta gantungnya

Pantai kecil di sebelah timur pulau Panjang

Akhirnya sampai juga kami di pantai Timang. Motor bebek kami parkir di gubug yang terletak di ujung jalan, kira-kira 100 m dari bibir pantai. Nampak juga satu rumah penduduk di tengah ladang, tak jauh dari pantai.

Daya tarik utama pantai ini tentu saja pulau karang (Pulau Panjang) dan kereta gantungnya. Kereta gantung tersebut dibangun oleh para nelayan untuk menuju pantai Panjang yang merupakan spot ideal untuk memancing dan menangkap lobster. Tentu saja kami tidak berani mencoba menyeberang ke pulau itu. Selain beresiko tinggi, tak ada petugas yang mengoperasikan kereta gantung tersebut. Saat itu, kami berdualah satu-satunya dua-duanya pengunjung di pantai tersebut.

Di sebelah timur, tak jauh dari kereta gantung itu terdapat pantai pasir kecil, mungkin itulah pantai yang dinamakan Timang.

Tak sampai 15 menit kami menghabiskan waktu di atas pantai karang itu. Selain sepi, panas, juga bingung mau ngapain di pantai ini.

Senang tak terkira adalah ketika roda motor kami kembali menapak di jalan aspal. Alhamdulillah motor tidak mengalami gangguan sepanjang jalan menuju pantai Timang. Benar-benar pengalaman yang indah tuk dikenang tapi tidak tuk diulang.

Pantai Jogan

Air Terjun Pantai Jogan

Pantai Jogan terkenal karena air terjunnya. Pantai yang satu ini dipopulerkan situs-situs fotografi macam panoramio. Coba saja ketikkan kata kunci pantai Jogan atau air terjun Jogan, maka yang akan muncul adalah foto-foto air terjun yang sungguh eksotis, langsung tercurah ke laut lepas.

Letak Pantai Jogan

Pantai Jogan tepat berada di sebelah barat pantai Siung, terpisah oleh karang-karang besar dan sebuah pantai kecil, yakni Pantai Nglambor. Jalur menuju ke sananya pun masih satu jalur dengan pantai Siung. Untuk pantai Siung sendiri, pantai ini sudah sangat populer, tak lain karena jalur panjat tebingnya yang sudah mendunia. Jangan khawatir tersesat di tengah jalan menuju Pantai Siung karena papan petunjuk akan banyak ditemui di sepanjang jalan aspal yang mulus itu.

Beberapa km sebelum pantai Siung akan ada pertigaan ke kanan. Ada plang penunjuk menuju pantai Jogan di pertigaan ini. Dari pertigaan ini hingga sampai ke pantai Jogan jalannya berupa cor semen. Terdapat lapangan parkir dan warung kecil di lokasi pantai Jogan.

Air terjun pantai Jogan berasal dari mata air sungai bawah tanah yang terus mengalir sepanjang tahun. Letak mata airnya tak jauh dari pertigaan yang disebutkan di atas. Meskipun air sungai ini mengalir terus sepanjang tahun, waktu yang tepat untuk mengunjungi pantai Jogan tetaplah pada musim penghujan, air terjunnya akan nampak besar dan indah.

Saat air laut surut, pengunjung bisa scrambling menuruni tebing untuk menuju dasar air terjun. Namun saat air laut pasang, dasar air terjun akan terendam air laut dan menjadi bahaya jika pengunjung turun ke bawah.

Pantai Siung

Pantai Siung

Di Pantai Siung, kami sempatkan untuk naik ke kawasan panjat tebingnya. Banyak sekali pilihan jalur panjat yang bisa dicoba. Jalur panjatnya pun sudah dilengkapi dengan hanger (besi pengait untuk tambatan tali pengaman).

Untuk menuju ke kawasan tebing pemanjatan, ada jalan setapak naik di sebelah mushola/pondok pemanjat, letaknya di deretan bangunan paling barat (dekat pintu masuk). Ketika sampai di kompleks tebing panjat, nampak sekelompok pemanjat sedang mencoba beberapa jalur panjat di samping camp ground yang cukup luas.

Di Pantai ini pula kami membeli ikan segar hasil tangkapan nelayan setempat. Hanya saja, kami tak sempat tuk naik ke bukit di ujung pantai sebelah timur, bukit di mana biasanya pengunjung menikmati sunset yang indah.

Artikel terkait:

Sejarah kereta gantung pantai Timang

Yang berminat naik kereta gantung pantai Timang, klik di sini

Foto-foto pantai Indrayanti

About these ads