Mungkin sebagian besar dari kita lebih memilih untuk menyuap polisi saat ditilang daripada mengikuti sidang di pengadilan. Alasannya bermacam-macam: lebih murah katanya, ga perlu buang-buang waktu pergi ke pengadilan, ga mau ribet mengikuti proses peradilan, dan lain sebagainya….

Ternyata mengikuti sidang pelanggaran lalu-lintas tak seribet, tak selama dan tak semahal yang kita bayangkan. Pengalaman yang saya alami pada bulan Januari lalu mungkin bisa dijadikan bahan pertimbangan bagi kita tuk tidak menyogok polosi lagi saat ditilang.

Waktu itu saya kena tilang di daerah Terminal Kampung Melayu karena ga punya SIM (ceritanya ada di postingan blog saya yang laen). Saya memilih untuk ditilang saja, alasan terkuatnya karena saya pingin mencoba mengikuti proses persidangan pelanggaran lalu-lintas. alhasil saya ditilang dan harus mengikuti persidangan dua minggu kemudian di Pengadilan Negeri jakarta Timur, di daerah pulomas.

Setelah selesai mengikuti proses sidang, bayangan saya selama ini mengenai sidang sebagian besar tidak terbukti. Proses sidang tidak memakan waktu terlalu lama. Dari saat kita memasukkan surat tilang hingga kita selesai keluar ruang sidang cuma butuh waktu tak lebih dari satu setengah jam. Prosesnya gampang dan dendanya sudah jelas.

Berikut ini kronologis sidang yang saya ikuti beberapa waktu lalu:

18-01-08, Hari Jumat
09.30
Meluncur ke Pulomas, pengadilan Negeri Jakarta timur
Jarak 100 meter dari kantor pengadilan udah banyak calo yang menawarkan jasanya.
Nyampe di kantor pengadilan negeri langsung parkir, Busyet banyak banget yg ngantri. Ada kali 100 orang. Di tempat parkir, di depan loket pendaftaran, di sekitar ruang sidang, banyak banget calo berkeliaran, abaikan saja.

Langsung saja saya masukin surat tilang saya ke loket untuk pendaftaran sidang, letaknya di ada di sebelah kanan dari saat kita masuk komplek gedung.
Setelah beberapa lama (kira-kira 20 menit) nama saya dan nomor kendaraan saya dipanggil menuju loket untuk mengambil surat tilang dengan menunjukkan KTP. Selanjutnya, saya disuruh menunggu di depan ruang sidang untuk menunggu panggilan sidang. Ternyata pelaksanaan sidang bisa diwakilkan. Artinya tak harus orang yang kena tilang yang datang ke pengadilan. Hanya saja orang yang mewakili harus hafal nomor kendaraan yang ditilang, juga harus membawa identitas oang yang ditilang (yg tercantum di surat tilang).

Di depan ruang sidang tampak beberapa orang sedang mencari informasi ke PKD (petugas keamanan dalam). Si PKD menawarkan beberapa alternatif, ikut sidang ato ambil STNK lewat pintu belakang dengan membayar markup kira-kira 10.000 dari denda normal.

Setelah menunggu kira-kira 10 menit akhirnya nama saya dipanggil. Seperti halnya orang-orang sebelum saya, begitu dipanggil saya langsung masuk ke ruang sidang. Di dalam ruangan dah menunggu beberapa orang yang siap menyidang kita, hakimnya seorang perempuan. Berderet-deret, satu persatu para “terdakwa’ menghadap sang Hakim. Tiba giliran saya sampai di depan Bu Hakim. Bu Hakim bertanya: “Ga’ punya SIM ya?” saya langsung menjawab: “Ya” sambil menangguk. Bu Hakim langsung menjawab: “Empat puluh satu ribu, bayar di sebelah!”. Setelah membayar denda saya mengambil barang bukti -STNK motor dan saya keluar ruang sidang, proses sidang dah selesai.
Gampang kan.

Jam 11.00 saya dah sampai kantor lagi.