Hasrat itu masih membara

“Kabut Oro-oro Ombo”, sebuah status saya ketik di jejaring social facebook siang itu. Banyak tanggapan dari teman-teman. Ada yg mengira saya sedang mendaki Semeru; ada yang “memberikan” jempol mereka; ada pula yang bernostalgia dengan pendakian yang telah mereka lakukan ke Semeru. Padahal saya hanya iseng saja waktu itu, saya kebetulan teringat kembali akan keinginan untuk mendaki gunung Semeru.

Gunung Semeru adalah sebuah daya tarik. Semeru mempunyai daya pikat layaknya sebuah magnet yang mampu menarik besi. Pun begitu jua bagi saya, sudah dua tahun saya merencanakan mendaki gunung tertinggi di tanah Jawa ini. Dua kali rencana mendaki gunung ini pada tahun 2008 gagal karena musibah yang menimpa keluarga saya. Yang pertama karena Bulik saya meninggal, dan yang kedua, musibah yang hampir sama, kali ini nenek saya yang meninggal. Kedua musibah ini terjadi pada hari-hari menjelang keberangkatan yang telah saya rencanakan. Sedikit aneh memang, kedua musibah itu seakan menahan saya agar saya tidak menjamah gunung itu😦. Beberapa teman dan keluarga saya malah bilang bahwa saya memang gak boleh mendaki ke sana, he he he, sedikit mistis. Tetapi apa mau dikata, bara itu makin lama makin besar, dan habis juga membakar hati ini untuk segera mewujudkan hasrat itu.

Semeru itu……..

“Gong”, begitu saya menyebutnya. Dengan mendaki Semeru, maka lengkap sudah “misi” saya untuk menyapu (meskipun bukan sapu bersih, karena di dua gunung, saya tidak -atau belum mencapai puncak sejatinya) semua gunung di atas 3000 mdpl di tanah Jawa. Pangrango, Slamet, Raung, Argopuro, Arjuno-Welirang saya daki pada 2006. Ciremai dan Merbabu pada tahun 2007; serta Lawu, Sundoro dan Sumbing pada tahun 2008. “Saking” semangatnya saya tuk mengoleksi puncak-puncak itu, sampai-sampai mencuatkan sindiran yang sering terlontar dari anak-anak posko Stapala yang menyebut kalau saya tidak akan menikah kalau belum menginjakkan kaki di Mahameru, he he he, ada ada saje.

Dari mana sebenarnya hasrat tuk mendaki Semeru itu muncul? Hmmm, salahkan saja Donny, penulis novel 5cm. Dia berhasil mengaduk-aduk perasaan dan emosi saya mengenai Semeru ini. Jangan lupa salahkan juga Dewa19 dengan lagunya Mahameru yang melegenda dan telah menjadi lagu kebesaran para pendaki gunung. Hasrat itu selalu meletup tiap kali melihat gambar pendaki dengan latar cendawan besar wedhus gembel yang disemburkan kawah Jonggring Saloka. Wuihhh, tak tergambarkan bagaimana perasaan ini saat melihat foto-foto tersebut sambil membayangkan sayalah yang berdiri di tempat itu. Dan satu lagi, tragedi Soe Hok Gie 1969 juga sangat berandil memupuk angan untuk menginjakkan kaki di Mahameru dan bersimpuh di samping memoriam Soe Hok Gie itu.

Semeru, Now or Never

Ritual akhir tahun bagi saya adalah perjalanan, menghabiskan cuti dan kembali ke alam. Akhir tahun 2007 saya mendaki Merbabu. Akhir tahun 2008 saya ke Pulau sempu, juga melakukan duet bersama rekan saya -Bandrex mendaki Merbabu. Timbang menimbang pilihan, akhirnya saya putuskan untuk mendaki Semeru akhir tahun ini, menuntaskan hasrat besar itu.

Mulailah saya melempar “bola” ke teman-teman di facebook. Beberapa teman menyambut umpan lambung itu. Pada awalnya lumayan banyak yang berminat bergabung. Namun satu persatu mundur teratur, he he he🙂.

Sebuah notes dari rekan saya Selly Kuntiardini “menghenyak” facebook (weits, pilihan katanya…). “Semeru, now or never”, begitu judul notes-nya. Sebuah tim pendakian Semeru telah terbentuk. Beberapa teman tertarik bergabung dengan tim putri ini. Saya menyebutnya tim putri karena inisiator dan tulang punggung timnya adalah srikandi-srikandi luar biasa. Selly “Gerrie” Kuntiardini sebagai inisiator juga menulis satu notes lagi tentang rencana perjalanan yang cukup lengkap.

Tim putri telah bersiap, lalu apa yang sudah saya lakukan untuk mendaki Semeru? Apakah saya bergabung saja dengan tim putri itu? Sebagian besar berpendapat bahwa tim putra , tim kami, belum ada persiapan sama sekali. Beberapa teman yang berminat mendaki Semeru akhirnya memilih bergabung dengan tim putri. Memang saya hanya sesekali melempar isu pendakian ini di facebook, terutama di forum komentar gambarnya mbah Terong (Cahyo Ari Wibowo). Saya tak menyuratkan rincian rencana perjalanan ke umum. Bukan karena saya belum membuatnya. Rincian rencana perjalanan itu sebenarnya sudah ada, hanya saja saya ingin adem ayem saja, tak terlalu anyak polemik dan perdebatan. He he he…

Saya menyusun rundown/itinerary pendakian Semeru kali ini tidak mulai dari nol. Tinggal buka saja satu file folder yang saya simpan di komputer, folder dengan nama “proyek Semeru”. Folder yang cukup usang, created Mei 2008. Dan jadilah itinerary tahun 2008 yang pernah saya susun itu menjadi acuan saya, tinggal menyesuaikan waktu pendakian dan sedikit utak-atik di sana-sini. Cukup lengkap – kalo gak boleh dibilang sangat lengkap, terdiri dari itinerary dengan plan A hingga D, list peralatan, list logistik, rencana anggaran, daftar contact person, folder foto-foto Semeru, folder video pendakian, dan folder musik –saya menyebutnya OST pendakian Semeru, yang terdiri dari dua buah lagu: Mahameru oleh Dewa19 dan satu lagu –atau video lebih tepatnya, keroncong Mahameru oleh Sundari Sukotjo. Tak terlewatkan juga berisi sebuah folder yang di dalamnya terdapat puluhan artikel dan catatan perjalanan tim-tim yang pernah mendaki ke Semeru.

Satu persatu file-file itu saya buka, saya baca dan saya simak. Seketika itu pula pikiran saya melambung ke Semeru. Membaca beberapa catatan perjalanan itu, seakan-akan saya telah berkali-kali mengunjungi Semeru, hafal spot-spot di sana serta hafal tiap kelokan jalurnya. Semeru benar –benar telah membius pikiran saya.

Berjudi dengan Surat Permohonan Cuti.

Minggu-minggu sebelum keberangkatan, saya masih saja berkutat dengan kerjaan kantor yang menggunung. Seperti biasa, akhir tahun adalah puncak kesibukan di sub bagian tempat saya bekerja. Hanya saja, sesekali saya masih bisa berkoordinasi dengan calon anggota tim. Kerjaan yang super duper banyak di bulan Desember itu pula yang membuat saya belum bisa menentukan waktu pendakian. Ada dua pilihan waktu pendakian: libur tahun baru Hijriyah atau libur Natal. Dengan berbagai pertimbangan, dipilihlah waktu pendakian saat libur tahun baru Hijriyah, sehingga tim sudah turun gunung saat libur Natal. Malangnya, hingga dua hari menjelang hari H surat cuti dari kantor belum disetujui, jiahhhhh. Jadi selama ini, saya asal pede aja menyusun jadwal dan sukses meyakinkan anggota tim bahwa surat cuti saya pasti di-approve, he he he.🙂

Dan …… Inilah Anggota Tim Kami

Siapa saja yang akan menjadi teman perjalanan saya? check this out!:

timAndika “Malingseng Cina” Atma Gahara. Jaoh-jaoh datang dari Singkawang booooo’. Anggota tim pertama yang memastikan ikut. Dia sengaja ambil cuti jangka panjang -8 hari, sekalian pulang kampung ke Tangerang dan mengunjungi serta melepas rindu dengan Ayang-nya, *prikitiwwww, swim swuittttt, cethok-cethok, dor dor dor dwarrrrrr. (*kayak pesta hajatan Betawi ajah,🙂 he he he)

tim 2 Anton “Beton” Wijaya. Entah apa yang bikin Budak Bandung yang satu ini begitu ngebet ingin ikut ke Semeru. Yang pasti, pada H-5 dia masih sempat-sempatnya mampir ke salah satu Rumah Sakit di Bandung. Ngapain? Mau tes kesehatan sebelum mendaki Semeru? Ternyata bukan, dia kena demam berdarah dan harus opname, he he he, parahhh. Sempat menyatakan mundur dari tim, tiba-tiba pada H-3 dia menyatakan siap sedia membela tim nasional pendakian Semeru 2009. Saluteeee…

tim 2 “Asig” Sigit Luhur Pambudi. Sungguh luhur budinya, sang mantan kepala divisi Gunung Hutan ini alih-alih berpartisipasi dalam hajatan Pendakian Umum Stapala, dia malah membelot ikut tim kami ke Semeru, parah parah parah, ha ha ha, no oppense Sig😛. Dia menjadi satu-satunya anggota tim yang masih berstatus mahasiswa. Karena dialah anggota tim yang paling muda, tentu saja kami tak sungkan-sungkan menyebutnya “sang ujung tombak”, he he he..

lambhe Yusman “Lambhe Morningsick”. Penggangguran tidak jelas ini barangkali terlalu bosan berdiam di rumahnya sehingga saat saya tawarkan bergabung dalam pendakian ini dia lansung menyambarnya. Setelah di wisuda, dia resmi menyandang gelar status mengambang: mahasiswa bukan, pegawai apalagi. Alumnus Mahameru 2008 II, berdomisili di Jawa Timur, punya akses peminjaman alat-alat pendakian dan tarif gratisnya merupakan alasan kuat dia kami jadikan guide utama pada pendakian kali ini.

tim 2 Fajar “Bramus” Nugroho. Sama seperti si Lambhe, dia juga baru saja diwisuda. Saya sempat khawatir saat dia membelot dari tim putri dan menyatakan ingin bergabung dengan tim kami. Bukan apa-apa, saya cuma takut kalau-kalau kram kakinya kumat di tengah perjalanan seperti saat pendakian gunung Sundoro tahun 2008 silam. Bisa gagal pendakian ini dibuatnya, ha ha ha. Dengan model kepala botak licin berkaca mata, miriplah ia dengan tentara Hei Ho jaman pendudukan Jepang dulu, he he he…

tim Dwi “Udik”tya Pranowo Sapto. Termasuk salah satu pembelot juga. Hanya saja dia membelot dari rencananya sendiri mengunjungi Pulau Sempu, Malang Selatan. Kami ijinkan bergabung dalam tim dengan pertimbangan tenaga monsternya bisa kami manfaatkan, xixixixixi. Dia alumni Mahameru 2008 I.

tim Abi “Aboy” Supiyandi; seorang pendaki kagetan, he he he. Pendakian gunung pertamanya adalah Gede Pangrango tahun 2009. Berasal dari Cicurug, satu daerah di kaki Gunung Salak, Sukabumi. Anak IPB jurusan ilmu komputer  ini bisa dipastikan sejak dari orok selalu memandang megahnya Gunung Salak dari depan rumahnya. Hanya saja ia baru sempat menginjakkan kaki di puncak gunung itu pada bulan Juni 2009, ironis sekali, ha ha ha…

tim 2“Tarsan” Horison. Siapa dia? Kami tak mengenalnya. Berjenggot dan berambut panjang  hingga menutupi tengkuknya. Benar-benar orang yang aneh. Kami tak tahu di mana si Yusman menemukan anak yang satu ini. Barang kali dia boleh nemu di jalan dan karena saking kasihannya, dibawalah anak ini ikut bergabung. Dengan berat hati pula kami mengijinkannya ikut bergabung dengan tim pendakian kami. Dia berbadan kecil, kurus, dan sifatnya pendiam. Sungguh sangat tidak menjanjikan untuk diajak mendaki gunung. Satu-satunya alasan dia diterima menjadi anggota tim adalah karena ia mempunyai sebuah tenda dome. Kalau tidak, niscaya kami depak dia jauh-jauhhhhh. *😛 ha ha ha, puas puas puassss…

O iya, *hampir lupa saya, he he he, ternyata ada juga Andi “Ano” Pramono; alumni Rinjani. Sosok ini yang bakalan menjadi potographer utama. Selayaknya seorang tukang poto keliling, terkalung sebuah kamera yang sangat mahal (setidaknya menurut ukuran saya) di dadanya, dan memakai topi yang sengaja ujungnya diputar ke belakang. Kamera DSLR itulah daya tarik yang membuat anggota tim lain tak mau jauh-jauh darinya, ha ha ha, narsisholik mennnn. Dan mengingat profesinya sebagai potograper, maka resikonya adalah tak adanya foto dia di deretan foto-foto pendakian ini. Dengan alasan itu pula saya tidak memajang foto profilnya di sini, he he he. *kejammmm

(bersambung)