Bulan yang paling ditunggu oleh lebih dari satu milyar penduduk muslim dunia akhirnya datang juga. Ramadhan kembali menyapa kita, kali ini yang ke 1431 di tahun Hijriyah. Ini adalah Ramadhan ke 28 dalam hidup saya, Ramadhan ke 10 saya di perantauan dan ramadhan ke 4 setelah saya bekerja. Dan tetap saja euforia menyambut Ramadhan selalu mewarnai hari-hari menjelang Ramadhan tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya. Tak terkecuali, euforia itu juga merambah dunia internet, -social media khususnya. Demam menyambut bulan Ramadhan melanda facebook dan twitter (Ini tahun kedua saya ber-Ramadhan ditemani facebook dan tahun pertama bersama twitter). Di dua social media paling top di negeri tersebut demam Ramadhan terlihat dari banyaknya ucapan maaf dan selamat Ramadhan yang berselieran di wall dan timeline penggunanya. Tradisi yangbeberapa tahun lalu masih terbatas melalui pesan singkat/SMS. Ya, semua bergerak dinamis, kita lihat nanti seberapa lama facebook dan twitter akan bertahan, :) .

Ngomong soal Ramadhan, selalu saja saja ingatan saya melambung ke masa lalu. Memori manis yang akan selalu terkenang. Kenangan ramadhan waktu kecil memang tak akan lekang oleh waktu.

Ruwahan dan Padusan

Ritual menyambut puasa yang paling populer di kampung halaman saya ada 2: ruwahan dan padusan. Entah mengapa nyadran tidak populer di daerah saya. Menziarahi makam leluhur dan kerabat baru dilakukan sehari menjelang lebaran atau sehabis sholat Ied.

Ruwahan adalah tradisi kenduri dan do’a bersama pada bulan Ruwah/sya’ban menyambut datangnya bulan puasa. Masing-masing rumah membuat satu paket menu lengkap yang rata-rata seragam dengan susunan menu: nasi, sayur lodeh krecek, srundeng, tempe tahu bacem, ayam goreng / telur dadar gulung / telur bulet bacem, gudeg, kerupuk,urap, teri. Nasi kenduri ini kemudian dibawa kerumah kepala dusun setelah maghrib untuk dido’akan dan saling ditukarkan.

Sementara tradisi padusan adalah tradisi mandi besar membersihkan badan yang dilakukan sehari menjelang Ramadhan. Ada yang melakukannya di rumah masing-masing, tapi tempat mandi yang paling populer adalah sebuah sumber mata air yang terletak kira-kira 1 km dari rumah saya. Sumber mata air ini juga digunakan sebagai pemandian umum. Air yang jernih pada hari biasa mendadak keruh dan menjadi lautan manusia saat tradisi padusan berlangsung. Pemandian umum ini juga yang menjadi tempat mandi favorit kami anak-anak kecil saat puasa. Sering kami mandi di siang hari saat matahari sedang terik-teriknya. Bisa berjam-jam pula kami berendam dan bermain air. Pulang-pulang mata kami merah, kulit gosong dan perut kembung kebanyakan minum air. ( *loh, batal dong puasanya? Kan gak sengaja minumnya, he he he).

Sumber Ponjong - tempat favorit untuk padusan

Meskipun 2 tradisi ini tidak ada tuntunannya dalam syariat Islam, hingga saat ini masyarakat masih melaksanakannya.

Puasa mBedug, Asyar dan Curi-curi Minum

Waktu kecil, saya pertama kali berpuasa saat masih TK nol kecil. Seperti halnya anak-anak kecil lain di lingkungan saya, saya puasa setengah hari atau di tempat saya lebih populer dengan istilah puasa mbedug ( karena buka puasanya tepat saat bedug Dzuhur bergema). Memang kami tetep makan 3 kali sehari, hanya saja merupakan ujian yang berat juga bagi kami anak-anak kecil untuk tidak jajan. Rentang waktu pukul 9-11 tentu saja menjadi waktu dengan godaan terberat mengingat biasanya pada waktu tersebut kami biasa jajan makanan kecil di warung kecil deket rumah.

Mengingat cuma sekedar latihan, aturan tambahan pun menyertai puasa mbedug tersebut: buka puasa tengah hari itu terbatas pada waktu antara adzan dan iqomah sholat dzuhur. Alhasil kami makan secepat dan sebanyak mungkin sebelum iqomah berkumandang, J.

Menginjak TK nol besar, saya mulai puasa satu hari penuh. Hanya kadang-kadang, saya juga berpuasa Asyar, he he he, satu lagi sarana latihan berpuasa yang kami lakukan saat itu. Buka puasa pada puasa jenis ini dilakukan saat adzan Asyar berkumandang, he he, lumayan kan mendahului 3 jam dari puasa normal🙂.

Namanya juga anak kecil, saya juga pernah curi-curi kesempatan minum segelas air di siang hari saat rumah dalam keadaan sepi,🙂. Pernah juga saya merengek kepada ibu agar dibolehkan membatalkan puasa (moka’/mokah) saking tidak kuatnya menahan lapar, he he he. Momen masa kecil yang masih saya ingat adalah saat saya menemani ibu berbelanja ke pasar di ibukota kabupaten yang berjarak 15 km dari rumah. Karena tak kuat menahan lapar, saya minta ijin batal puasa. Akhirnya saya dibeliin seporsi bakso dan segelas es jeruk, nikmat banget dah, ha ha ha. Saya lihat ibu saya Cuma menelan ludah melihat saya menyantap bakso dengan lahapnya, he he he, maaf Bu’.

Ta’jil

Selama bulan Ramadhan, di masjid Arrohim, sebuah masjid kecil RW di kami diselenggarakan pengajian tiap sore menjelang buka puasa. Hampir semua anak-anak mengikuti pengajian tersebut, tak lain dan tak bukan adalah karena daya tarik ta’jil, buka puasa gratis. Makanan kecil seperti bakwan, es lilin, kue bolu kering, kue apem dan “galundheng” sangat familiar bagi kami. Meskipun saat pengajian anak-anak ramainya minta ampun, namun saat pembagian ta’jil kami bisa duduk dengan khidmatnya menunggu pembagian jatah ta’jil. Kadang-kadang celetukan dan keluhan muncul dari anak-anak yang merasa jatah ta’jilnya sedikit lebih kecil volumnya dari yang diterima anak di sebelahnya. Tak jarang pula terjadi perebutan ta’jil antar anak, :) . 5 menit sebelum buka, diputar pengajian radio melalui pengeras suara masjid. Dan satu suara yang paling kami tunggu akhirnya berbunyi juga, suara sirine dari radio kota Jogja yang menandakan waktu buka puasa telah tiba. Kami biasa menyebut suara sirine itu dengan “NGING”. Memang aneh, suara sirine di daerah saya lebih populer sebagai penanda buka dari pada suara adzan maghrib.

Sehabis berbuka, dilanjutkan dengan sholat Maggrib berjama’ah. Begitu salam, kami anak-anak langsung berhamburan. Selayaknya para pelari yang memulai start lomba maraton, tanpa dzikir tanpa doa kami langsung berlarian menuju rumah masing-masing. Bayangan menu masakan ibu yang lezat sudah memenuhi pikiran kami, bahkan sejak masih di tengah-tengah sholat tadi,🙂.

Tak banyak waktu yang tersisa setelah berbuka karena kami biasanya langsung makan besar setelah Maghrib. Setelah itu kembali ke masjid untuk sholat isya’ dan tarawih berjamaah. Anak-anak kecil yang mengantuk dan tak kuat mengikuti 11 rokaat biasanya cuma duduk menunggu sholat selesai, termasuk saya, kadang-kadang,🙂.

Kebiasaan para pemuda di kampung kami yang gak patut dicontoh adalah kebiasaan nongkrong di perempatan jalan sebelum tarawih. Sambil nongkrong, -kadang menyalakan petasan, para pemuda menunggu kira-kira siapa yang akan menjadi imam sholat tarawih. Seandainya pak ustadz yang terkenal lama dalam mengimami shalat tarawih lewat menuju masjid, banyak di antara pemuda yang balik kanan batal sholat tarawih, ha ha ha.

Dor-doran, Long dan Pup berjama’ah

Sebagian dari pemuda masjid biasanya tadarus setelah tarawih, menghabiskan satu juz setiap malam. Beberapa di antara mereka tidur di masjid, membangunkan penduduk saat sahur tiba.

Selepas sholat subuh berjama’ah, pemuda dan anak2 biasanya bergerombol nongkrong di perempatan jalan. Ada yang menyalakan dor-doran atau long. Dor-doran adalah istilah untuk petasan butan sendiri. Bentuknya seperti palu/martil, yang di ujung kepala martilnya terdapat dop ban sepeda yang diisi material dari penthol korek api dan dilapisi material dari kertas pemantik korek api. Kemudian ditutup dengan paku tumpul yang terikat dengan karet pentil. Untuk menyalakannya tinggal memukulkan martil ini ke batu. Maka akan terdengar suara ledakan layaknya petasan. Keras-lemahnya suara tergantung banyak-sedikitnya amunisi yang dimasukkan ke dop. Dor-doran ini sangat populer di kalangan anak-anak karena harga petasan cenderung mahal. Sering kali kami mengganggu orang yang sedang lewat, mengagetkannya dengan membunykan dor-doran didekatnya, he he he. Saya pernah mengagetkan ibu-ibu yang lewat menuju ke pasar. Begitu dor-doran saya bunyikan di dekatnya, ibu muda itu langsung roboh. Rupanya ibu itu penyakit kagetnya gak ketulungan. Untung saja dengan sempoyongan ibu itu bisa berdiri lagi, gak sampai pingsan, he he he, deg-degan juga saat itu.

Long

Sementara itu Long adalah sebutan untuk meriam dari bambu yang diisi minyak tanah atau karbit dan disulut dengan api. Nama lainnya adalah mercon bumbung. Semakin besar dan panjang bambu yang digunakan, semakin keras pula bunyi yang dihasilkan. Sering kali kami perang meriam dengan mengarahkan ujung meriam yang telah diisi daun-daun atau botol kearah meriam lawan. Seru sekali lah pokoknya.

Ritual lain yang agak jorok yang sering kami lakukan saat kecil adalah pup bareng di saluran irigasi pinggir kampung. Biasanya kami lakukan selepas solat subuh. Saat itu memang bulan ramadhan bertepatan dengan musim hujan. Dengan asumsi kotoran kami akan segera tersapu banjir, kami dengan cueknya nongkrong berderet-deret menghujamkan bom-bom biologis ke arah saluran irigasi kampung. Parahhhhhh…