(Rabu, 1 September 2010) Presiden malam nanti akan berpidato menanggapi isu sensitif konflik perbatasan dengan Malaysia. Sebagian besar masyarakat berharap presiden kita ini akan mengeluarkan statement gahar nan garang terhadap pemerintah Malaysia. Bahkan kalau perlu sekalian saja menabuh genderang perang, mengumumkan konfrontasi terbuka dengan negara tetangga ini seperti yang dilakukan Bung Karno di era 60-an:

“Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malasia, kurang ajar!

Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu

Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

Yoo…ayoo… kita… Ganjang…
Ganjang… Malaysia
Ganjang… Malaysia
Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!”

-Soekarno-

Dahsyat bukan pidato Bung Karno. Nah Kenyataannya pidato Presiden SBY yang di gelar di Mabes TNI Cilangkap cenderung lunak dan anti klimaks. Presiden tetap akan mengedepankan diplomasi dalam penyelesaian masalah dengan Malaysia ini. Dan bisa ditebak, berbagai komentar pedas muncul menanggapi isi pidato presiden. Banyak pula yang menghujat presiden, menyesali telah memilihnya atau sekedar menyindir halus.

Wajar menurut saya jika masyarakat marah karena merasa harga diri sebagai bangsa yang besar telah jatuh ke titik nadir. Terlebih lagi mengingat sejarah bangsa indonesia yang dulu lebih superior dibanding Malaysia kini menjadi inferior.

Yang tidak wajar dan sangat disayangkan adalah kelakuan kekanak-kanakan yang dilakukan sebuah ormas saat melakukan demo di kedutaan besar Malaysia beberapa hari lalu. Mereka melempari gedung kedutaan dengan kotoran manusia. Tak ayal, pihak Malaysia merah kupingnya melihat kelakuan segelintir masyarakat Indonesia itu.

Sebesar apapun jiwa nasionalisme seseorang, tak selayaknya diwujudkan dengan tindakan provokatif dan kekanak-kanakan semacam itu. Pun juga melakukan debat kusir  atau mencaci maki dengan sangat kasarnya di forum-forum dunia maya adalah tindakan yang tak berguna sama sekali. Bahkan tindakan semacam itu menunjukkan bahwa kita bukanlah masyarakat yang terpelajar.

Trus, apa yang kita musti lakukan? Mending denger apa kata Saykoji, balas dengan karya. Ato bisa kita contoh saudara kita yang satu ini, giat belajar, mengejar ilmu hingga ke negeri sebrang. Meskipun belajar di Malaysia tapi nasionalismenya tak diragukan.

Jadi ingat beberapa tahun lalu saat naik KRL dari Stasiun Tanah Abang menuju Pondok Ranji. Kebetulan saat itu bulan Agustus, sekitaran tanggal 17. Bendera kain merah putih berkibar disetiap petak rumah kardus dan triplek di sepanjang rel itu. Ya, hampir setiap rumah kardus kumuh itu mengibarkan bendera, tidak hanya satu dua sahaja. Gang-gang sempit diubah menjadi arena perlombaan 17-an. Merinding saya melihatnya, bergetar rasanya dada ini. Bendera-bendera itu seakan mewakili teriakan masyarakat pinggiran itu: “Lihatlah! Kami ini orang miskin, negara tak peduli lagi dengan nasib kami. Tapi jangan tanya, darah kami merah, tulang kami masih putih. Belahlah dada kami. Niscaya akan kau temui Indonesia di dalamnya!’

Andai saja, nasionalisme itu disalurkan pada jalur yang benar.

-Jakarta, 2 September 2010-