Lantunan bacaan Alqur’an memecah sunyinya pagi, riuh menyambut naiknya sang fajar. Sholat Subuh berjamaah baru saja selesai ditunaikan. Ada 15 orang yang ikut berjamaah subuh kala itu, kesemuanya para pemuda, mahasiswa tampaknya. Adzan subuh menggerakkan hati dan kaki mereka menuju bangunan kecil itu, sebuah musholla berukuran 8 x 13 meter di pinggiran Jalan Gejayan. Tulisan Al-Jihad terpampang di atas pintu musholla, mungkin itu nama mushollanya -tentu saja,🙂.

Musholla itu sendiri lebih mirip seperti sekretariat sebuah organisasi. Tak pernah sepi ditinggal para pemuda-pemuda penuntut ilmu dan aktivis dak’wah kampus. Di sisi kiri musholla terpajang dua rak penuh buku. Judul-judul berbobot mengisi rak-rak itu, entah itu buku kuliah, agama, majalah, juga koran laris terbitan ibukota. Kitab-kitab agama babon bersanding dengan buku-buku politik kontemporer.

Dua buah payung kayu kuno berdiri menyender tembok di sudut tempat imam berdiri, tertutup bilahnya . Payung itu yang sering dipakai untuk mengiringi jenazah ke pemakaman. Dua mahasiswa menjadi penghuni tetap dan menjaga musholla ini. Mereka makan, mandi dan tidur di sini. Ruang kecil sebelah tempat imam disulap menjadi gudang serbaguna; menampung barang inventaris masjid sekaligus barang pribadi mereka. Dua buah kamar mandi dan tempat wudhu berada di depan musholla. Di samping ruang wudhu itu terselip lorong kecil yang menampung kompor minyak dan beberapa alat masak sederhana: wajan dan panci.

Musholla ini tak sekedar tempat orang melaksanakan sholat berjamaah. Obrolan renyah tentang topik-topik hangat dan kontroversial berlangsung tiap hari. Diskusi agama, politik, juga akademik tak mengenal waktu terjadi di sini, tampak hidup dan bukan sekedar debat kusir. Pagi itu topiknya mengenai salah satu penghuni musholla yang akan menikah. Sepanjang hari dia jadi bahan gurauan teman-temannya. Tentang akadnya yang akan dilangsungkan berbarengan dengan akad adik laki-lakinya. Tentang buku-buku yang akan dijadikan mas kawin. Juga tentang sepatu kulit yang baru saja dibelinya dengan uang hasil pinjam teman untuk acara akad nikahnya. Si ‘korban’ pun tak mau mengalah begitu saja jadi bahan gurauan. Dia ganti menyindir teman-temannya yang tak punya nyali tuk menikah.

Tawa renyah selalu mewarnai musholla kecil itu. Muka-muka penghuninya selalu ceria, tak menampakkan berbagai kesusahan yang sedang membebani mereka. Tak tampak kalau beberapa dari mereka tak kunjung jua lulus dari kampus yang telah mereka jejaki semenjak tujuh tahun lalu itu. Tak tampak kalau kiriman bulanan dari orang tua belom juga sampai. Tak tampak kegalauan apakah pekerjaan serabutan yang selama ini dijalani akan mampu menutup biaya hidup setelah mereka berkeluarga nanti.

Pemandangan semacam ini tentunya adalah hal yang biasa kita temui di seputaran kampus di Jogja, juga di kampus kota-kota lainnya. Semangat yang masih membara dari pemuda-pemuda rantau penuntut ilmu. Keterbatasan dan kesederhanaan telah mendekatkan diri mereka kepada Allah. Semoga saja semangat itu akan terus melekat di hati mereka, meskipun keterbatasan telah menjauhi mereka- di saat kemapanan dunia telah mereka raih.

Lihatlah, banyak di antara kita yang tak kuasa menahan diri saat diberi cobaan dengan kelapangan dan kecukupan. Mari kita lihat realitas di sekitar kita. Banyak dari kita begitu dekatnya dengan Allah saat diberi cobaan kesusahan. Akan tetapi menjadi kufur ni’mat ketika Allah berikan cobaan dan ujian keluasan harta dan kuasa.

Hendaknya kita tidak putus asa dengan sedikit yang kita punya. Sesungguhnya yang sedikit disertai dengan syukur jauh lebih baik dibandingkan dengan banyak tetapi kufur.