Setiap kali pulang kampung, kegiatan yang tak pernah saya lewatkan adalah bernostalgia dengan makanan tradisional . Salah satu yang tak boleh terlupa untuk disantap adalah puli/gendar. Bentuknya mirip nasi ketan yang dipadatkan. Warnanya kuning gading, kenyal (twing-twing kalau kita towel ). Puli paling enak disajikan dengan tempe bacem goreng atau di taburi kelapa parut goreng (srondeng). Bisa juga dimakan bareng pecel. Rasanya? Lejaaatt brutaalll🙂.

Puli juga bisa dibikin kerupuk nan lejaat, biasa disebut kerupuk karak, kerupuk gendar, atau di beberapa daerah disebut lempeng.

Bahan dasar puli adalah nasi putih biasa yang dikasih semacam bahan pengenyal yang biasa disebut obat puli/cethithet/bleng. Cara pembuatanya (inget-inget lupa saya, dah lama gak lihat ibuk bikin puli), nasi dikukus dicampur dengan obat puli yang diencerkan. Kemudian nasi dipadatkan dengan cara ditumbuk selagi panas dalam ember bersih. Setelah dingin, barulah dipotong kotak-kotak. Jika ingin dibikin kerupuk maka potongan puli ini diiris tipis-tipis, dijemur hingga benar-benar kering. Baru kemudian digoreng dalam minyak panas. Rasanya…. kemriyuk gilaaaa..:). Kerupuk karak ini mudah dikenali dengan warnanya yang khas kuning gading dan rasa yang sedikit pahit, mungkin karena efek dari bahan pengenyal tersebut.

Yang jadi pertanyaan adalah bahan pengenyal yang digunakan. Apakah bahan yang berwarna kuning keemasan berbentuk kristal (kadang juga berbentuk bubuk putih atau bongkahan kuning mirip jamur oncom) ini aman untuk dikonsumsi? Perlu penelitian lebih lanjut untuk menjawabnya, tapi yang jelas puli sudah sangat populer sebagai camilan tradisional Jawa.

Dari referensi yang saya baca, obat puli tersebut tak lain dan tak bukan adalah wujud lain dari boraks. Fungsinya sebagai pengenyal sekaligus pengawet bahan makanan. Dan seperti yang kita tahu, boraks termasuk bahan berbahaya bagi tubuh kita. Bersama dengan formalin, boraks menjadi momok menakutkan bagi masyarakat.

Di daerah asal saya, Ponjong-Gunungkidul, puli dan obat puli/bleng masih dijual bebas. Konsumsi puli di daerah ini pun masih sangat massive, baik dalam bentuk puli tempe ataupun dalam bentuk kerupuk karak/lempeng. Layaknya gorengan lain, puli-tempe adalah cemilan favorit masyarakat di kampung saya. Penjual puli tempe bisa ditemui di pasar-pasar tradisional. Bahkan di salah satu titik yang biasa di sebut Proliman-Ponjong, kita bisa menemukan penjual  puli tempe harian. Tak hanya satu penjual saja, di sudut pinggir jalan itu terdapat tiga penjual puli tempe. Para pembeli menyemut, bahkan sampai antri tuk menikmati cemilan tradisional Jawa itu.

Kalo para penjual bakso yang mengandung boraks menjadi musuh aparat dan masyarakat, mengapa para penjual puli dan bleng masih dibiarkan bebas? Mungkin karena kurang sosialisasi saja. Selayaknya kita melaporkan fenomena ini ke Badan POM untuk penelitian dan tindakan penyuluhan lebih lanjut.

Info mengenai bleng/boraks bisa diakses di Wikipedia, di sini atau di sini. Kalau mengenai bahan pengawet makanan yang berbahaya bisa ditengok di sini.  Bahkan, boraks juga ada dalam pecel dan daun singkong rebus di masakan padang (baca artikelnya di sini). Jika masih kurang, cukup ketikkan kata “bleng” pada mesin pencari internet, niscaya akan bertebaran informasi mengenai bahaya bleng tersebut.

Pengganti Bleng:

Bikin karak tanpa bleng.

Garam Bleng Tanpa Borax.

STPP Pengganti Bleng.