Dari balik tirai jendela kantor, samar-samar terlihat hujan yang masih saja tercurah dari haribaan langit ibu kota. Adzan magrib sebentar lagi berkumandang. Kuberesi laptop, kumasukkan ke softcasenya. Sial, gak bawa ponco aku. Bagaimana ini, padahal sebentar lagi harus menuju Senayan, ada pertandingan persahabatan antara timnas Indonesia melawan Uruguay -sang peringkat 4 Piala Dunia Afsel.

Untunglah, sesaat setelah maghrib hujan mulai mereda. Dibawah rintik gerimis, dengan tas ransel sebagai tudung kepala, kuberlari kecil, pulang menuju kost. Cukup tiga menit dah sampai kost. Maklum jarak kost-kantor kurang dari 100 meter🙂.

Setelah berganti baju, langsung saja kuberlari mengejar bus kota arah Pulogadung yang lewat depan kantor. Turun di fly over Pramuka, kena charge Rp. 2000 . Kalau diitung-itung, tarif busnya Rp 500 per 100 meter mengingat jarak kantor – fly over yang cuma setengah kilo meter. Tapi tentu saja tidak demikian, tarif bus kota kan jauh dekat sama saja, tetap Rp. 2.000🙂.

Perjalanan dilanjutkan dengan bus Trans Jakarta melalui shelter busway paling sepi di dunia. Ya, shelter busway di samping fly over Pramuka ini sungguh sepi. Hanya ada mbak penjaga loket dan seorang penumpang (mungkin) yang berada di shelter sambil merokok (huh). Kubeli tiket bus seharga Rp 3.500, sejurus kemudian datang bus yang dinanti. Bis ini yang akan mengantar saya menuju shelter Dukuh Atas untuk kemudian saya harus over bus ke arah Senayan, tanpa harus beli tiket lagi.

Bus berangkat pukul 19.40. Awalnya bus sepi-sepi saja. Tapi kemudian lama kelamaan penuh juga. Saya sempatkan calling Syafi’i, temen yang akan menonton bareng saya,  menanyakan posisinya dan kabar tiket pertandingan. Dia masih ngantri bus di Kawasan HI. Antrinya luar biasa katanya. Kami berdua belum dapat tiket pertandingan, agak gambling juga berarti. Apalagi baca berita siang hari yang katanya terjadi kerusuhan di Gelora Bung Karno akibat calon penonton yang mengamuk karena gak kebagian tiket. Waduh…

Ternyata dua tiket dah diamankan untuk kami berdua. Ada teman kami yang entah dari mana dapat kelebihan tiket. Tiket kami yang termurah Rp. 75.000, kelas III. Tempatnya di tribun paling atas. Viewnya? Bayangkan saja sedang menonton semut sedang bermain bola, ha ha ha. Enggak separah itu lah. Masih bisa kita melihat nomor punggung para pemain. Hanya saja wajah mereka tak nampak dengan jelas. Seringkali kita harus bertanya ke penonton lain, “Siapa pemain nomor punggung 19 itu? Mainnya jelek kaleee.” he he he.

Pukul 20.15 bus sampai di shelter Dukuh Atas. Dan benar saja, penumpang bus tumplek blek memenuhi shelter, antri memanjang hingga ke jembatan penghubung dengan shelter koridor I di jalan Sudirman. Untungnya para penumpang itu bukan ke arah Senayan, mereka menunggu bus jurusan Ragunan.

Ohh my God, pemandangan yang sama terjadi di shelter bus arah Senayan di jalan Sudirman. Ratusan penumpang sedang antri menunggu bus. Antrian ini tak bergerak karena bus yang datang tak mampu lagi mengangkut tambahan penumpang, sudah penuh. Orang bilang seperti ikan sarden dalam kaleng: saling tergencet, saling himpit. Memang parah btl konsisi bus Trasjakarta ini, penumpangnya membludak, bus datangnya lama pula. Setelah lima belas menit saya antri, bus yang ditunggu tak datang juga. Satu-satunya bus yang lewat tidak lagi berhenti menaikkan penumpang di shelter itu.

Tik tak tik tak tik tak, kuberfikir bagaimana caranya tuk sampai di Senayan tepat waktu. 30 menit lagi pertandingan akan dimulai. Naek bis kota biasa? Sepertinya gak memungkinkan, jalan Sudirman malam ini (sama seperti malam-malam yang lain) macet parah. Jalur cepat merayap lambat, jalur lambatnya pun demikian. Atau naik ojeg saja? ampun, mahal booo.

Hap, kumelompat dari pintu shelter busway. Dan seketika saja, jalur bus trans Jakarta yang kosong melompong itu saya resmika menjadi lintasan lari, start di shelter Dukuh Atas pukul 20.30, finish di pintu timur Gelora Bung Karno, entah jam berapa nanti.

Mungkin saja para sopir dan penumpang yang sedang bermacet ria di sepanjang jalan Sudirman heran; ngapain orang ini lari di jalur trans Jakarta, kurang kerjaan saja. Ah, emang gue pikirin, gak kenal ini. Dengan celana jeans, ransel daypack di punggung, dan sesekali membetulkan celana yang melorot, terus saja kukayuh langkah mengejar kick off. Sampai di Semanggi abis juga nafasku, ngos-ngosan. Pfuf capek juga ternyata. Selanjutnya saya pindah lintasan lari ke jalur cepat, takut ada bis trans Jakarta yang lewat. Kali ini sisi jalan di pinggir jalur cepat selebar kira-kira satu meter yang saya jadikan lintasan lari (jogging ding, kadang-kadang jalan, dah ngos-ngosan soalnya🙂 ). Lintasan ini pula yang sering saya lewati dengan besepeda saat gowes ke Bintaro.

Pukul 20.00, sampai juga di GBK. Tiga puluh menit waktu yang saya perlukan. Jika bersepeda pada jalur yang sama biasanya cukup lima belas menit saja. Sepanjang saya berlari tak ada satupun bus trans Jakarta yang menyalib saya. Berarti selama tiga puluh menit itu pula tak ada bis trans Jakarta yang datang. Sekali lagi mari kita teriakkan bersama: foke parah parah parah!

Penonton tumplek blek di luar stadion. Apakah tiketnya habis sehingga penonton ini gak bisa masuk? Saya sms Syafi’i, dimana dia berada. Ternyata dia dah nyampai duluan, sedang menunggu di Pintu 13. Saya sempatkan tuk beli kasos timnas Indonesia dan syal seharga Rp 40.000. Kemudian saya memutar stadion mencari pintu 13. Saat itu saya masuk kompleks menuju pintu 8. Berarti saya harus memutar ke kiri setengah stadion dulu melewati 5 pintu lagi untuk sampai di pintu 13.

Loh loh loh, kok pintunya cuma sampai 12? Whalahhh, ternyata saya salah baca sms, harusya sektor 13 bukan pintu 13. Dan tahukah Anda letak sektor 13? Persis di samping kanan pintu 8.

Lumayan, malam ini saya lari dari Dukuh atas ke Senayan, ditambah bonus keliling stadion. Kaos saya basah dengan keringat. Alhasil, syal yang barusan saya beli itu berubah menjadi handuk penyeka keringat.

Riuh supporter terdengar dari dalam stadion. Lagu Indonesia raya berkumandang. Sial, ketinggalan kita. Padahal, salah satu hal yang menarik dari memonton bola secara langsung adalah saat ikut menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya bersama ribuan supporter lainnya. Merinding sekali rasanya.

Saya bertemu dengan kawan saya Syafi’i, Rizal dan Andec di depan gerbang sektor 13; hanya saja kami masih harus menunggu seorang teman lagi yang sedang dalam perjalanan. Jadilah saat kami masuk stadion, pertandingan sudah berjalan lima belas menit. Untung saja kedudukan masih imbang 0-0. Dan ternyata jumlah penonton gak sebanyak yang saya kira. Gak sampai sepertiga tribun penonton yang terisi. Mungkin disebabkan mahalnya harga tiket.

Pertandingan itu sendiri berakhir 1-7. Meskipun Diego Forlan gak ikut turun, tim Uruguay masih jauh di atas kelas tim Indonesia. Duet striker Luis Suarez dan Edison Cavani dengan mudahnya mengobrak-abrik pertahanan timnas Indonesia. Permainan kita benar-benar kalah jauh dah. Sebenarnya jika dilihat dari peringkat FIFA, kita bisa prediksi kekuatan kedua tim. Uruguay saat ini menempati rangking 7 dalam daftar peringkat FIFA, sedangkan Indonesia sendiri berada pada peringkat 131 FIFA.

Pertandingan malam ini juga menjadi ajang pelampiasan kekesalan para supporter atas kinerja PSSI. Tiap kali gawang Indonesia terkoyak, para supporter kompak berteriak “Nurdin turun, Nurdin Turun, Nurdin Turun!” Piye to, emangnya Nurdin Halid bisa main bola, kok malah disuruh turun ke lapangan, ha ha ha🙂.

Meski kalah, gak kecewa kita menonton langsung pertandingan malam ini. Gol yang banyak serta suguhan aksi-aksi pemain Uruguay yang ciamik menjadi alasannya. Beberapa momen goal sempat saya lewatkan. Memang resiko menonton langsung adalah terlewatnya moment-moment penting. Ditinggal ngobrol bentar aja dah goal. Hanya saja menonton langsung tetap saja menarik. Kita bisa berteriak sepuasnya, jingkrak-jingkrak bersama ribuan supporter lain. Dan tentu saja kita bisa merasakan atmoser pertandingan yang sesungguhnya.