Lampu minyak pun belum dipadamkan ketika “cengerrrrr”, sesosok jabang bayi merah menangis dengan kerasnya.
Menangisi kehadirannya di dunia fana ini.
Jam 6 pagi, seiring merekahnya sinar matahari di ufuk timur.
Di sebuah rumah sederhana di pinggir sawah,
beratap genteng tanah liat yang telah berlumut,
sebagian berdinding kayu,
sebagian lagi berdinding “gedheg”,
dengan tripleks sebagai sekat antar ruang.

Sang dukun anak yang diketahui bernama mbah Wono menyeka keringat di dahinya.
Bernafas lega setelah hampir 3 jam menunggu sang jabang bayi muncul.

Sementara itu, sekumpulan aki-aki masih saja belum beranjak dari rumah belakang,
rumah joglo peninggalan moyang yang turun temurun diwariskan.
Menghirup rokok linting tembakau, berbumbu klembak dan cengkeh, beraroma tajam.
Ditemani teh kental manis beraroma wangi dan sepiring singkong rebus.

Nini-nini sendiri ikut menunggui proses persalinan.
Layaknya cheerleader dalam sebuah pertandingan basket, terus menyoraki.
Bak motivator handal, terus menyuntikkan semangat kepada sang ibu muda.

Sang ayah melepaskan genggaman tangan istrinya, menyeka keringat di dahi sang istri.
Sambil tersenyum, membisikkan kalimat “laki-laki bu”.

-Bugel, Padangan, Ponjong, Kemis kliwon, 3 Suro tahun Alip 1915 (4 Muharam 1403 H)-