Meski hampir tiap hari melihat sosok Mbah Maridjan di TV dalam iklan minuman energi, sekalinya bertemu langsung dengan Mbah Maridjan adalah ketika saya mengikuti sarasehan Stapala di Kaliurang tahun 2008. Saat itu rombongan Stapala dibawa oleh mas Aris Handaru dkk selaku EO berkunjung ke kediaman juru kunci Merapi itu sekaligus menengok Gardu Pandang Kali Adem yang berada tak jauh dari kediaman mbah Maridjan di Kinahrejo, Cangkringan, Sleman.

Rombongan Stapala sebanyak 2 minibus diterima khusus oleh beliau. Sambil menikmati makanan khas daerah setempat (jadah + tempe bacem), kami mendengarkan wejangan dari Simbah. Dengan bahasa Indonesia yang kadang salah diksi, Simbah pun tak segan menjawab pertanyaan dari beberapa senior Stapala.

Forum yang rada kaku saya menyebutnya. Yang saya tangkap dari beliau saat itu adalah bahwa beliau terpenjara dengan popularitasnya. Seakan beliau terpaksa tuk menemui para tamu. Beliau juga melarang untuk diambil gambarnya.

Hal itu bisa dimaklumi mengingat beliau adalah warga kampung biasa yang sehari-hari bertani dan beternak sapi perah. Ketenaran mendadak membuatnya mengalami fenomena yang biasa disebut gegar budaya. Namanya tiba-tiba melambung semenjak erupsi Merapi tahun 2006. Puncaknya ketika salah satu minuman energi menggaetnya sebagai bintang iklan dengan slogan ”rosa-rosa”-nya. Tiap akhir pekan, orang berbondong-bondong tuk menyambangi kediamannya, ingin tahu sosok beliau yang sebenarnya.

Selesai bertemu dengan mbah Maridjan, saya duduk-duduk di emperan samping rumah beliau. Kebetulan saat itu ada dua orang pendaki dari Hancala Universitas Negeri Yogyakarta yang baru saja turun gunung. Salah satunya bernama Endog. Wuih, gila juga nih dua orang. Mereka mendaki Merapi melalui lereng selatan hingga mencapai daerah yang mereka sebut ”Sekop”. Daerah ini jauh berada di atas batas vegetasi dan hanya beberapa ratus meter saja dari puncak. Padahal setelah erupsi tahun 2006, pendakian dari jalur selatan paling mentok sampai di batas vegetasi. Seringnya terjadi guguran lava di atas batas vegetasi menjadi alasan para pendaki tuk tidak naik lebih jauh. Namun dua orang ini nekad naik hingga hampir mencapai puncak. Gilanya lagi, mereka turun melalui jalur lava. Ck ck ck Benar-benar gila. Lebih gila lagi, mereka menuruni tebing-tebing curam di jalur lava itu hanya dengan bantuan tali rafia (geleng-geleng kepala).

Ok, kita lupakan kegilaan mapala UNY, mari kita bahas mbah Maridjan saja. Saat saya utarakan uneg-uneg saya mengenai Mbah Maridjan kepada anak-anak Hancala tersebut, ternyata tanggapan mereka berbeda dengan saya. Mbah Maridjan di mata para pendaki gunung adalah sosok yang sangat dihormati, sebagai sesepuh, sekaligus sebagai kawan. Tak heran, rumahnya dijadikan base camp pendakian Merapi jalur Selatan.

Seperti yang Endog ceritakan saat itu, mbah Maridjan akan menerima dengan tangan terbuka setiap pendaki. Beliau mempersilahkan para pendaki menginap di rumahnya. Mbah Maridjan dengan santainya menemani para pendaki menghabiskan malam, ngobrol sambil menghisap rokok. Mbah Maridjan Putri-pun akan menyediakan minuman gratis kepada para pendaki.

“Kita bisa menitipkan motor kita di sini, gratis” kata Si Endog sambil menunjuk motornya yang diparkir di rumah belakang Mbah Maridjan.

Efek dari pemberitaan media memang sungguh kejam. Simbah kalem dan lugu itu diangkat tinggi-tinggi oleh media. Tak sadarkah mereka bahwa simbah Maridjan adalah sosok sederhana, yang malu difoto, segan disorot kamera, tak mau diekspose. Pun ketika mau dijadikan sebagi bintang iklan, honornya digunakan untuk membangun masjid kecil dekat rumahnya. Masjid yang hingga saat ini masih kokoh berdiri, tetap tegak meski dihantam awan panas.

Selamat jalan Simbah rosa*! Slamat jalan simbah taat sholat lima waktu dan rajin sholat malam!

*rosa=kuat

Bacaan Terkait Mbah Maridjan:

Memahami mbah Maridjan

Mbah Maridjan, Piala Dunia dan Sapi-sapinya

Dinding Selatan Merapi dan Mbah Maridjan

Pengajian di Lereng Merapi

“Ojo difoto yo, Mbah isin. Mbah udu artis.”