(23-26 Desember 2010)

Tiket kereta jalur selatan gagal kami dapatkan. Untungnya kami masih kebagian tiket kereta ekonomi Tawang Jaya jurusan Semarang.
“Kenapa gak naek kereta kelas bisnis atau eksekutif saja jack?”
“Gundulmu kuwi, regane larang dab!”
Mulai tanggal 17 Desember 2010 kemaren PT. KAI menaikkan tiket kelas bisnis dan eksekutif dalam rangka libur natal dan tahun baru. Aneh ya, saat rakyat ramai-ramai butuh moda transportasi, eee malah digencet dengan harga tinggi. Hukum ekonomi, pasar yang menentukan harga katanya, wekkkkkk prettttt😛

Alhasil kami berdesak ria di dalam gerbong yang oleh temanku Aboy disebutnya kaleng berjalan. Lebih mending jadi sarden dalam kaleng katanya, masih lega. Lah ini, mo geser kaki sekedar melemaskan kaki yang pegel saja susahnya minta ampun.

Selisih harga tiket kereta kelas ekonomi dan kelas bisnis memang jauh. Kereta yang kami naiki ini harga tiketnya Rp. 33.500. Murah tooo, maklum dapat subsidi dari pemerintah. Sedangkan harga tiket kelas bisnis di atas Rp. 120.000, sedangkan kelas eksekutif di atas Rp. 250.000. (Sekali lagi) Maklum, kelas bisnis dan eksekutif dijadikan ladang mengeruk keuntungan oleh PT. KAI. Sebenarnya ada yang murah meriah, kerata AC Ekonomi Bogowonto jurusan Jakarta-Kutoarjo. Harganya cuma Rp 70.000, tapi ya itu tadi, dah ludes sejak jauh-jauh hari.

Berangkat dari stasiun Senen pukul 21.50 (terlambat 20 menit dari jadwal semestinya), kereta kami sampai di Stasiun Poncol Semarang pukul 06.30, telat satu jam lebih dikit. Langsung saja kami bertiga (saya sendiri, Aboy Supiyandi dan Ikhsan N’cek) menuju ke musholla stasiun tuk sholat dhuha (sholat subuh ding, hihihi, sholat subuh di kereta gak memungkinkan gann).

“Pantesan keretanya sering anjlok ya Pak, penumpangnya pada gak sholat sehh, hahaha”, celetuk si Aboy, dan saya cuma bisa mengamini :malu.

Di luar stasiun ternyata dah menunggu dua turis wanita😀. Peserta pendakian yang mendadak ikut. Bagaimana gak dibilang dadakan, lha wong 30 menit menjelang keberangkatan saya, mereka baru konfirm mau ikut. Untung saya baru packing waktu itu.

“Ok, asal perlengkapan keselamatannya lengkap yaa!”, jawab saya menyetujui permintaan bergabung dari Combro dan Kopyor. Combro dan Kopyor ini adik junior di Stapala, baru magang kerja di Semarang.

Tadinya peserta pendakian Sumbing kali ini cuma bertiga saja, jadi cukup membawa satu tenda Consina Magnum kapasitas 3-4 orang milik teman si Aboy. Dengan tambahan dua orang peserta (cewek pula), kami harus membawa satu tenda lagi, tenda Coleman usang yang selalu menemani setiap pendakian saya. Lumayannnn, saya mendapatkan bonus beban tambahan satu buah tenda yang nantinya akan membuat perjalanan turun saya terseok-seok, hehehe.

Kami bertemu Combro dan Kopyor di depan stasiun. Mereka membawa dua buah daypack, satu buah matras dan sekantong plastik penuh sayuran segar lengkap dengan bumbu masak. Hehehe, tadi pagi-pagi sekali mereka memberi tahu saya kalau meraka mau pergi ke pasar dulu, cari raincoat. Ya sudah ane kerjain aja suruh beli beras, sayur-sayuran segar, bumbu dapur dan tali rafia. Men kapok! Hahahaha

Perjalanan kami lanjutkan, dari stasiun Poncol kami naik angkot (masyarakat Semarang menyebutnya daihatsu) yang banyak tersedia di depan stasiun menuju jalan Dr. Cipto. Tarifnya Rp 4000 per orang. Sedikit kemahalan agaknya, harusnya sih Rp. 2000-Rp. 3000 sahaja.

Tujuan selanjutnya adalah kota kecil Parakan di kabupaten Temanggung. Kalau dari arah Magelang, letak Parakan adalah setelah kota Temanggung. Kami naik bus Semarang-Purwokerto yang melewati Temanggung-Parakan-Wonosobo-Banjarnegara-Purbalingga. Tarif bus sampai Parakan Rp. 15.000 per orang. Butuh waktu kira-kira tiga jam bagi bus untuk sampai di Parakan. Kami turun di depan Rumah Sakit Kristen Ngesti Waluyo. Saat itu tepat jam 11.00, waktu menjelang sholat Jum’at. Sebelum sholat jum’at kami sempatkan (kalo yang ini harus disempatkan, sedari semalam belum makan soalnya :D) makan soto dan es dhawet dulu di warung depan RS. Soto 5.000 rupiah, es dhawet 1.500 rupiah.

Sehabis sholat jum’at di masjid belakang RS, kami cari-cari info dulu mengenai moda transortasi menuju dusun Cepit, dusun terakhir tempat pendakian dimulai. Info yang kami dapatkan, angkutan rutin ke Cepit sangat jarang, berupa colt bak terbuka yang ngetemnya lama menunggu penumpang penuh. Ada juga jasa ojek dengan tarif Rp 15.000 (sampai dusun terakhir) atau Rp. 25.000 (sampai batas hutan). Alternatif lainnya adalah menyewa kendaraan pick up bak terbuka atau minibus station wagon (tesen/stesyen). Kami memilih menyewa stesyen dengan tarif Rp. 70.000 sampai dusun Cepit. Sang pengemudi tidak berani untuk naik sampai batas hutan, takut mobilnya tidak kuat nanjak.

Kalau dari arah Kota Temanggung, jalan masuk menuju Cepit berapa di sebelah Indomaret, belok kekiri sebelum RS. Tak sampai satu jam, kami dah sampai di dusun Cepit. Kami diturunkan di pertigaan dusun, tepat di depan sebuah gardu yang berfungsi sebagai base camp pendakian. Ada peta jalur pendakian di dinding gardu tersebut. Juga ada tulisan Pos I di gapura bambu sebagai gerbang dimulainya jalur pendakian. Tak ada penjaga di gardu tersebut, sehingga kami tidak melapor dulu. Penduduk yang kami temui sesekali bertanya : “Badhe minggah mas?” sambil melempar senyum saat kami sapa. Kami rasa menegur sapa para penduduk cukup tuk dianggap sebagai pengganti ijin mendaki, hehehe. Sebelum mulai mendaki, kami sempatkan dulu tuk mengisi amunisi air di bak yang berada di dekat tower BTS, tak jauh dari gardu basecamp pendakian. Di sini Ikhsan baru sadar kalau baterai kamera digitalnya ketinggalan di rumahnya di Bogor, :capedehhhh. Alhasil, pendakian kali ini kami Cuma berbekal dua kamera HP dengan kondisi tenaga baterainya yang mulai menipis.

Sementara melongok keatas, sepanjang mata memandang, ladang pertanian membentang jauh. Jalan aspal nampak berkelok-kelok anggun melilit punggungan menghindari jurang. Weww, belom naik kok sudah keder duluan dengan panjangnya jalur ladang yang harus ditempuh, nanjak habis pula😦.

Kami mulai mendaki pukul 13.30. Dan benar saja, kami butuh waktu 1,5 jam tuk sampai di batas hutan. Lebih dari sekedar lumayan tuk disebut sebagai pemanasan. Kami istirahat sebentar di gardu tanpa atap, melahap biskuit dan minum air seperlunya. Energi yang dihasilkan dari soto dan dhawet yang kami santap tiga jam yang lalu nampaknya telah habis terkuras tuk mendaki jalur aspal sepanjang ladang ini.

Ok lanjut kitaaa. Mulai masuk ke hutan, 100 meter setelahnya, di kiri jalur terdapat sebuah bangunan berupa aula yang cukup megah namun sudah rusak di sana-sini. Denger-denger sih ini tempat angker, ada penunggunya, Siluman Macan, hiiii :atuttt.

Dari aula tersebut, Jalur mendakinya agak belok ke kanan menyeberangi sunga kecil tak berair, terus memasuki hutan hingga sampai di Pos II Kamasan Sondo. Terdapat pondok tanpa dinding yang cukup luas dan masih dalam keadaan bagus. Butuh waktu 1,5 jam untuk mencapai pos ini dari batas hutan. Hanya saja kami agak bingung juga, sebab pada pohon yang telah tumbang di sebelah pondok tedapat plang dengan cat warna orange dengan tulisan “Pos I”. Mana yang benar coba?

Sayup-sayup terdengar adzan asyar dari kampung nun jauh di bawah sana. Aneh aja, saat itu sudah pukul 16.30, kok baru adzan asyar yak? Tak Cuma satu masjid pula yang telat adzan, hehehe

Pukul 19.00 kami sampai di sebuah tempat tanpa shelter, terdapat tanda Pos 3 pada sebuah pohon. Sedikit naik dari tempat itu terdapat shelter yang cukup luas, bisa untuk menampung beberapa tenda. Shelter ini dikelilingi pohon cemara muda yang baru tumbuh setinggi 2x orang dewasa. Terdapat beberapa balok kayu sisa-sisa bangunan pondok. Kami sempatkan untuk sholat jama’ qosor terlebih dahulu, juga meneguk sedikit air dan makan makanan ringan.

Jalur setelah ini cenderung terbuka berupa savana. Selanjutnya kami menyeberangi sungai kecil berair yang cukup curam dengan batu-batu besar di sekitarya. Hati-hati menyeberang karena jurang menganga menanti di pinggir jalur. Kami mengira tempat inilah yang disebut watu/batu kasur. Namun keesokan harinya kami baru tahu kalau watu kasur masih jauh di atas dari sungai kecil ini.

Kami istirahat sebentar di pinggir sungai kecil ini, memandang kerlip lampu kota di bawah sana.
Dari balik punggungan muncul rembulan ¾ dengan anggunnya. Sementara di kejauhan sosok Gunung Sindoro menjulang dengan gagahnya. Sesekali terlihat kerlip lampu senter para pendaki Sindoro. Wow, sungguh indah nian pemandangan malam itu: cuaca cerah, bintang bertaburan, rembulan malam, kerlip lampu kota dan gunung Sindoro. Wiuw wiuw wiuw, suasana seperti ini nih yang bikin mupeng tuk naek gunung. Tapi jangan tanya fotonya ya, hehehe kamera HP kami tak cukup mampu untuk menangkap cahaya bintang, lampu kota atau cahaya bulan sekalipun.

Dari sini jalur mulai terjal mengikuti sungai kecil di sebelah kiri melewati batu-batu besar. Terus naik mengikuti punggungan dengan kanan kiri jurang. Kami terus nanjak hingga pada pukul 22.00 bertemu dengan shelter kecil di sebelah bongkahan batu besar. Shelter ini berada pada ketinggian 2700 mdpl dan hanya cukup untuk mendirikan dua buah tenda. Saya dan Aboy melepaskan carier, naik sebentar untuk memeriksa apakah ada shelter yang lebih layak di atas sana. Dan ternyata tak ada lagi tempat yang representatif untuk mendirikan tenda, sedangkan stamina kami sudah terkuras habis. Lumayan juga, kami jalan sedari 8 jam yang lalu.

Segera saja kami mendirikan camp di shelter itu, bikin minuman hangat, masak mie bakso dan langsung tidur sambil berharap malam ini gak didatangi badai. Tempat camp kami sebenarnya kurang aman, berada di area terbuka yang sangat rawan badai. Belum lagi tenda Coleman saya tidak tahan badai. Tenda ini yang dulu pernah dihajar badai di Puncak Syarif Merbabu hingga framenya patah.

Hari Kedua

Syukur Alhamdulillah, semalam kami tak didatangi badai sehingga kami bisa tidur nyenyak. Sekalinya bangun, pukul tiga saat serombongan pendaki yang berisiknya minta ampun melewati tenda kami.

Pagi yang cerah, Sindoro langsung menyapa dengan anggunnya. Puncaknya tertutup kabut. Sayangnya, kami tidak bisa menyaksikan terbitnya matahari karena terhalang punggungan di sebelah kanan.

Sementara itu, puncak Sumbing sendiri nampaknya masih jauh dari tempat kami mendirikan tenda. Kali ini nampaklah kegagahan Sumbing dari tempat kami berdiri, biikin ciut nyali saja. Memang, mendaki gunung dengan jalur yang terbuka kadang-kadang bikin kita putus asa. Jalur yang kelihatan jelas seakan-akan tak ada akhirnya.

Setelah berfoto-foto ria kami masak besar pagi itu. Menu pagi ini: nasi tuk-tuk, sayur sawi putih, oseng kangkung, kornet telor goreng dengan hidangan penutup puding rasa pandan. Minumnya susu Milo dan biang jahe super pedes.

Matahari sudah beranjak tinggi saat kami selesai packing. Pukul 09.00 kami memulai pendakian. Agak terlambat memang, tapi setidaknya tenda dan flysheet sudah kering dari embun. Tenda tidak kotor sama sekali karena shelternya tertutup rumput yang lumayan tebal. Jadi tak perlu lagi mencuci dan menjemurnya nanti sesampainya di rumah.
Pos Watu Kasur kami lewati, tak ada shelter di sekitarnya. Sesampainya di Pos Segremeng jalur melipir kekiri. Aboy sempat salah jalur. Dia naik terus mengikuti punggungan, sedikit scrambling dan akhirnya mentok di tebing. Kalau dipikir-pikir ini mirip dengan jalur Garung selepas pos Pasar Watu di mana banyak pendaki yang kesasar karena kurang teliti mengamati jalur.

Tidak sampai 30 menit kami sampai di Pos Watu Lawang/ Batu Pintu. Hanya saja kami tak melihat adanya batu besar yang berlubang layaknya pintu seperti yang terlihat di foto-foto di basecamp Garung. Yang kami temui justru Batu Semar, sebuah batu gendut yang sangat mirip sosok Semar dalam cerita pewayangan.

Akhirnya setelah menempuh 3 jam perjalanan sampailah kami di kolam air kaldera Sumbing. Tempat ini populer disebut Segoro Wedhi (Lautan Pasir).Jalur Cepit memang langsung muncul di Segoro Wedhi. Air melimpah di sini, hanya saja tidak layak minum karena sumber airnya berasal dari kawah Sumbing yang mengandung belerang. Combro, Kopyor dan Ikhsan saya tinggal di sana, duduk santai di hamparan pasir. Sementara saya dan Aboy menuju kawah Sumbing sekalian orientasi jalur menuju puncak.

Untuk mencapai kawah, kami tinggal mengikuti aliran sungai kecil, menelusuri sumber air kolam segoro wedhi berasal. Di sekitar kawah terdapat area camp yang cukup luas dan sebuah goa. Juga terdapat petilasan Kiai Mekukuan yang bentuknya mirip dengan sebuah makam. Jalur pendakian Kaliangkrik-Magelang juga bertemu di sini. Untuk turun melewati jalur Kaliangkrik, kita harus turun ke savana luas bekas kaldera Sumbing.

Kabut tebal masih saja menyelimuti kawasan puncak. Kami kesulitan untuk melakukan orientasi medan. Puncak Buntu haya sesekali terlihat samar. Bahkan puncak sejati, tujuan kami, tidak terlihat sama sekali. Akhirnya saya dan Aboy kembali ke Segoro Wedhi. Di sana ketiga teman kami sudah membeku kedinginan, wkwkwk😛. Lumayan lama juga kami meninggalkan mereka.

Kami putuskan tuk mendaki puncak Buntu terlebih dahulu, baru kemudian melipir menuju puncak sejati. Kebetulan saya masih sedikit ingat jalur naik dari kolam Segoro Wedhi menuju Puncak Buntu (Tahun 2008 yang lalu saya pernah mendaki melalui Jalur Garung hingga puncak Buntu, kemudian turun ke Segoro Wedhi).

Jalur naik ke Puncak Buntu lumayan terjal, boleh dibilang sedikit ekstrim. Kami harus ekstra hati-hati, terlena sedikit bisa-bisa kami jatuh ke jurang. Pukul 15.00 kami sampai di Puncak Buntu. Kami bertemu dua pendaki asal Banjarnegara dan tiga pendaki asal Magelang.

Cuaca masih saja berkabut tebal disertai angin kencang. Kami berempat menuju puncak sejati tanpa carier, sementara Ikhsan tetap tinggal di Puncak Buntu bersama kedua pendaki Banjarnegara.

Saat itu kami hanya meraba-raba jalur. Kabut tebal tak mau diajak kompromi, sama sekali tak kelihatan batang hidung si Puncak Sejati. Setiap ada dataran yang lebih tinggi kami menuju kearahnya, berharap itulah puncak sejati.

Di depan kami ada puncakan terjal, Kopyor dan Combro saya tinggal di bawah tebing. Saya dan Aboy memanjat puncakan tersebut. Deg-degan juga saat itu. Kami harus scrambling, bahkan sampai memanjat tebing tuk sampai di dataran tertingginya. Sementara di bawah kami jurang yang dalam menganga, mengancam nyawa kami. Namun, alangkah kecewanya saat saya sampai di puncak itu. Tumpukan batu tampak tertata rapi di tanah tertingginya. Hanya saja tumpukan batu pada puncak tersebut tidak seperti yang ada dalam foto-foto puncak Sejati Sumbing. Juga tak ada keramik marmer warna kuning yang mengelilingi rumpun edelweiss, tanda paling khas dari puncak sejati Sumbing. Altimeter menunjukkan ketinggian 3360 (sedangkan Puncak Buntu 3345), selisih ketinggian keduanya cukup jauh. Konon katanya Puncak Buntu dan Puncak Sejati selisih ketinggiannya tak sampai 10 meter. Tapi ini jelas-jelas bukan puncak sejati.

“Sial, bukan ini puncaknya Jack!’’ gerutu saya dalam hati.

Karena waktu yang semakin senja, kami putuskan tuk turun kembali ke Puncak Buntu.

“Boy, gunung ini terlalu sayang sama saya. Dia mengharapkan saya mengunjunginya lagi lain waktu tuk mencapai Puncak Sejatinya, hehehe.”
“Masih ada jalur Kaliangkrik yang harus dicoba,” ucap saya kepada Aboy saat turun ke Puncak Buntu.

Angin semakin kencang menerpa Puncak Buntu.

“Inimah dah menjurus ke badai Jack!”
“Ok lah, mari kita turun dab, dah jam setengah lima sore.”

Kami perlahan turun melalui jalur Garung. Angin kencang dari sebelah kiri mengiringi perjalanan turun kami. Tak sampai 30 menit dah sampai Pos watu kotak.
BerrrrrrrrrR. Sesampainya di pos Pasar Watu angin bertiup semakin kencang, sangat kencang. Saking kencangnya, badai kali ini bisa bikin goyah langkah kami. Kami sesekali terhuyung diterpa angin. Untunglah badai kali ini tidak disertai hujan.

Menjelang maghrib kami sampai di pos Pestan. Tampak satu tenda Coleman (mirip dengan tenda saya) dengan “nyaman”-nya ditiup badai. Dua penghuninya berdiri di samping tenda menahan frame tenda dari ganasnya terpaan angin. Pendaki yang turun menyarankan mereka tuk turun saja. Badainya sangat kencang, sementara tempat ini terlalu terbuka.

Saat kami turun ternyata banyak juga pendaki yang sedang menuju ke Pestan.

“Bakalan “mimpi indah” mereka malam ini Jack, hehehe”.

Untuk menggambarkan kencangnya angin malam itu berikut kutipan status facebook dari salah seorang pendaki Sumbing, Gondo Harto Sabtu malam itu:
“Dihajar badai besar dr pukul 6 sore di puncak Sumbing, suasana mencekam byk tenda terbang n pendaki cewe histeris. So cold like in freezer!!!” “Sampai pagi inipun msh menggila badainya brooo, need survive food”.

Kami turun melalui jalur baru Garung. Sebenarnya saya trauma dengan jalur ini. Pada pendakian sebelumnya tahun 2008, saya terseok-seok menaiki jalur ini dalam keadaan gerimis. Namun pada akhirnya kami harus melewati jalur ini lagi karena tak tahu pintu masuk untuk turun menuju jalur lama.

Dan benar saja, jalur ini bener-bener (masih) rusak. Jalur turunnya seketika saja berubah menjadi ajang prosotan.Jangan tanya berapa kali kami jatuh terpeleset (ngebrok dalam bahasa Jawa). Sementara pendaki yang naik harus bersusah payah merangkak.

Sampai di batas hutan, ujian buat kami masih belum habis. Gunung Sumbing ini terkenal dengan panjangnya jalur ladangnya. Bayangkan saja, batas hutan dan ladangnya hampir berada di ketinggian 2000 mdpl. Itu artinya ladang pertanian masuk jauh ke atas gunung.

Lega tak terkira ketika kami memasuki perkampungan dusun Garung. Akhirnyaaa sampai jugaaa. Pendakian yang luar biasa capeknya. Bahkan pendakian ini saya nobatkan sebagai pendakian yang paling melelahkan. Ada dua sebab fisik kami habis pada pendakian kali ini. Pertama kami kelelahan di jalan karena tidak bisa tidur nyenyak di kereta. Kedua asupan makanan yang kurang. Jum’at pagi kami tidak sarapan; malamnya pun saat ngecamp sedikit saja makanan yang masuk ke perut: hanya mie bakso.

Saat itu pukul 22.30 ketika kami sampai di base camp pendakian Garung di rumah Pak Kadus. Yang ada di pikiran saya cuma satu: mudah-mudahan Ibu kadusnya belum tidur, sehingga masih sempat bikinin kami nasi goreng nan lejaattt.

“Nasi goreng dan teh manis terni’mat di dunia”, kata si Ikhsan mengomentari nasi goreng seharga 5000 rupiah dan teh manis 500 rupiah yang kami santap malam itu.

Memang tuk menikmati makanan terlejat tak perlu kita keluar biaya mahal. Cukup bikin aja perut kita selapar-laparnya, niscaya makanan apapun kan terasa lejat, swearrr dah. Jangan lupa satu lagi syaratnya: jangan kebanyakan, karena berlaku hukum sebaliknya: makanan selejat apapun akan terasa hambar jika kita makan kebanyakan.

Keinginan saya tuk menginap di base camp nyaman ini akhirnya terkabul. Boleh dibilang basecamp Garung ini termasuk salah satu basecamp pendakian terbaik. Ruangannya luas, tersedia kamar mandi dan WC yang banyak, air melimpah, colokan listrik, toko accessories dan tentu saja menyediakan makanan nan lejat brutal. Saking nyamannya hampir saja saya bangun kesiangan, hehehe.

Pukul 8.00 kami berempat meninggalkan basecamp (Kopyor dah pulang duluan ke Magelang pagi-pagi tadi). Tak lupa kami berpamitan dengan nenek penjaga basecamp, orangtua Pak Kadus mungkin. Sampai di jalan raya kami mampir dulu di warung makan pertigaan, menunya istimewa: “Opor Entog”. Tahukan entog/mentog? Unggas yang mirip bebek, hanya saja tongkrongannya lebih besar dikit.

Saatnya Pulanggg

Saya bertiga -dengan Aboy dan Ikhsan, melanjutkan perjalanan ke Purwokerto naik bus dengan trayek yang sama dengan bis yang kami naiki kemarin lusa, tarifnya 20.000 per orang. Sedangkan Combro menuju Semarang dengan bis jurusan sebaliknya. Sampai di terminal Purwokerto lanjut naik bis eksekutif jurusan Jakarta. Cukup dengan biaya 60.000 sahaja. Berangkat dari Purwokerto jam 14.30, nyampai di Jakarta jam 02.00 dini hari. Dan saya harus melewatkan siaran langsung final leg I sepak bola piala AFF Malay-Indo. Meskipun kelas eksekutif, sepanjang jalan TV dalam bus tidak menyala😦. Beruntunglah mereka yang punya HP TV, bisa liat semut maen bola😀.

Notes:
1. Jalur Cepit: dari awal sampai puncak jalurnya jelas . Tempat camp yang di rekomendasikan adalah di Pos II (Kamasan Sondo), Pos 3 (Hutan Cemara), Pos Batu Pintu atau di kawasan kawah.

2. Setelah tanya ke teman yang pernah mencapai puncak sejati, baru saya tahu untuk menuju ke Puncak Sejati dari Puncak Buntu kita harus melipir puncak (dari puncak buntu ke kanan). Kemudian turun ke kiri ke arah kawah dan naik lagi menuju saddle di antara dua Puncak (puncak sejati di sebelah kiri dan puncak X di sebelah kanan, puncak X ini kemungkinan yang saya capai waktu itu). Sementara kalau dari kawasan kawah kita langsung saja menuju saddle di antara dua puncak. Tidak diperlukan alat pendakian khusus seperti tali atau webbing untuk mendaki hingga puncak sejati Sumbing. Hanya saja jalurnya sedikit ekstrem, sehingga kita harus ekstra hati-hati.Saat cuaca cerah puncak Sejati dan jalur naiknya kelihatan dengan jelas.

3. Pertengahan bulan Januari 2011, anak-anak Stapala kembali naik gunung Sumbing Melalui Jalur Cepit ini. Hanya saja karena disorientasi jalur di sekitar Pos Segremeng (jalan malam hari), tim ini lanjut lurus saja mengikuti punggungan hingga sampai di igir-igir barat puncak gunung Sumbing (padahal jalur yang umum adalah berbelok ke kiri menuju Watu Kothak untuk kemudian sampai di Segoro Wedhi). Untungnya, ada tempat camp di daerah puncakan barat itu. Pagi harinya tim ini melanjutkan perjalanan menyusuri igir2 hingga sampai di Puncak Buntu. Jadi jalur yang mereka lewati ini tidak melewati kolam kawah Segoro Wedhi. Dari info yang di dapat, jalur tersebut cukup jelas dan mudah dilewati. Bisa dijadikan alternatif jika kita ingin menuju Puncak Buntu tanpa harus melewati segoro Wedhi terlebih dahulu.

4. Foto-foto pendakian Sumbing Jalur Cepit dari Bang Hendri Agustin:http://hendriagustin.multiply.com/photos/album/79/Tahun_baruan_di_Gunung_Sumbing