Subuh tadi, satu titipan Tuhan diambilNya kembali. Sepeda satu-satunya yang sering menemani kesendirianku dipinjam orang tak dikenal tanpa permisi (dicolong maling -red). Pfuff, sepeda yang telah menemaniku hampir setahun ini; menemani jalan ke Bintaro, Car Free Day di Sudirman-Thamrin, Night Ride, sepeda santai, beli makan di warteg, atau sekedar putar-putar Rawamangun di sore hari.

Pagi harinya sambil meratapi nasib (ciee, istilahnya coy!) saya baca-baca detik.com. Sebuah judul berita seketika saja menghentikan ratapan nasibku. “Sebuah Taxi dirampas Penumpangnya”, bunyi  sebuah judul berita di halaman pertama laman daring khusus berita tersebut.

Alhamdulillah, hanya sebuah sepeda saja yang hilang. Bukan sebuah mobil (+emang punya jack? -hora) , bukan sebuah sepeda motor (+emang punya Jack? -hora :)), juga bukan sebuah laptop (+emang punya? -hora. +Yoalah le le, trus duwemu opo to lee. -Setidaknya saya masih punya mimpi dan iman pak) dengan file-file super penting seperti yang dialami teman satu kost adikku.

Dan yang pasti aku masih diberi nyawa untuk menikmati indahnya Sabtu pagi yang cerah ini. Maka tak ada alasan untukku tuk tidak bersyukur. Bahwa begitu banyak nikmat yang tercurah untukku. “Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan”.

Syukur dan instropeksi diri. Mungkin saja sepeda itu akan lebih bermanfaat di tangan orang lain. Mungkin karena saya tidak bisa menjaga barang dengan baik.

Kesimpulannya, saya kudu lebih hati-hati dalam menjaga barang. Safety first. Saya sering malas mengunci ganda motor dan sepeda karena ribet. Dan hari ini saya menanggung akibatnya, hehehe.

Sesungguhnya semuanya berasal dari Allah dan kepada-Nya lah semua itu akan kembali

-Pisangan Lama, sambil leyeh-leyeh, berbaring di atas kasur, dua hari menjelang Valentine Day yang saya tidak merayakannya, hehehe-