Mencoba kembali mengingat kejadian delapan tahun lalu. Catatan ini saya copy dari blog saya terdahulu. Sekedar sharing pengalaman dengan teman-teman pembaca.

Waktu : Pendakian Umum Stapala 2002

Tempat : Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Sabtu pagi, pukul 07.00 dengan ransel abal-abal seharga Rp. 75.000 (ransel/carier besar tanpa rangka yang saya beli di sebuah toko tas di jalan Solo/jalan Urip Sumoharjo, Jogjakarta), saya meninggalkan kost menuju Posko Stapala, gedung G Kampus STAN tercinta. Bersama Bayu, Widhi dan Topik (teman satu kost) dengan semangat tinggi, saya melangkahkan kaki menyusuri gang-gang kecil di kampong Kalimongso. Hari ini kami akan mengikuti Pendakian Umum ke Gunung Gede yang diadakan oleh Stapala, organisasi pencinta alam di kampus saya. Setiap peserta ditarik iuran Rp. 30.000,00. Dengan uang sebesar itu para peserta mendapat transport PP, dipinjami tenda dan tentu saja para pemandu dari STAPALA.

Pendakian ini akan menjadi pendakian gunung pertama saya. Pukul sembilan rombongan berangkat menuju Cibodas dengan menggunakan Truk tronton milik Kepolisian. Kondisi truk yang penuh penumpang dan berjejalan tak mengurangi keceriaan kami. Canda tawa senantiasa mengiringi perjalanan kami.

Pukul 12.00 kami tiba di Cibodas, istirahat sebentar, cheking kelengkapan peserta dan perjalanan pendakian pun dimulai.

Sampai menjelang magrib perjalanan aman dan lancar saja. Menjelang magrib rombongan tiba di Kandang Badak. Kami mendirikan tenda di sini. Malam ini kami istirahat, untuk kemudian melanjutkan perjalanan esok dini hari.

Kelompok saya kebagian tenda pramuka. Sebenarnya kami sendiri yang memilih tenda tersebut saat ditawari oleh panitia antara tenda dome dan tenda pramuka (bentuk huruf A). Kami memilih tenda pramuka dengan alasan lebih mudah membawanya dan tidak terlalu membebani. Satu keputusan yang nantinya akan sangat kami sesali.

Setelah menunaikan sholat maghrib, gerimis mulai datang. Hujan perlahan-lahan semakin deras. Semua orang mulai masuk tenda, termasuk kami. Awalnya tenda pramuka kami cukup ampuh menahan hujan yang tak terlalu deras. Akan tetapi seiring dengan semakin derasnya hujan malam itu, air hujan mulai menembus tenda. Setitik demi setitik air menetes melalui atap tenda. Jaket yang kami gunakan mulai basah. Dari bagian bawah, air hujan juga merembes masuk tenda. Rupanya tempat kemah yang kami pilih adalah jalur air ketika hujan.

Semakin malam hujan tak kunjung reda, malah semakin deras. Pakaian kami basah kuyup, tembus sampai pakaian dalam. Saya menyalakan sebatang rokok untuk mengusir dingin. Saat itu saya bukanlah perokok, namun karena saking dinginnya maka segala cara saya lakukan untuk mengusir dingin. Badan sayapun menggigil dengan kerasnya.

Pukul sepuluh hujan mulai melemah, tapi masih cukup deras. Saat itu teman satu tenda saya, Bayu mulai mengalami gangguan perut. Dia memintaku untuk mengantarnya buang air besar ke sungai. Dengan diiringi hujan saya menemani Bayu buang air besar.

Saat hujan tinggal gerimis saja, saya bermaksud mengganti pakaian yang saya kenakan dengan pakaian yang kering. Namun apa yang terjadi, pakaian cadangan sayapun ternyata ikut basah. Saya lupa (atau belum tahu lebih tepatnya) untuk menaruh semua pakaian ganti kedalam plastik. Alhasil, semalaman saya mengenakan pakaian basah.

Sekitar pukul 12 malam saya dan Bayu berpindah ke saung yang berada tak jauh dari tenda kami. Saung itu penuh dengan pendaki lain yang berteduh menunggu hujan reda. Lumayan, kami kebagian tempat yang kering, walaupun sempit sekali. Dengan menggunakan kompor gas, saya mencoba menghangatkan badan. Sambil menghangatkan badan, pakaian dalam saya taruh dekat api kompor dengan maksud untuk mengeringkannya. Karena terlalu dekat dengan api, beberapa bagian celana dalam saya terbakar.

Waktu seakan berjalan begitu lambat. Setiap kali menengok jam tangan, jarum jam hanya bergeser sedikit saja, tak lebih dari lima menit. Semalaman itu saya tak bisa tidur. Menggigil kedinginan berbalut pakaian basah. Saat itu satu-satunya yang ada dalam pikiran saya adalah berapa lama lagi pagi akan datang.

Akhirnya, ufuk timur mulai menunjukkan terangnya. Saat itu jam menunjukkan pukul lima pagi. Lega rasanya malam terpanjang dan terburuk sepanjang hidup saya akhirnya berlalu.

Pagi harinya tim melanjutkan perjalanan menuju puncak Gede. Rencana summit attact pada dini hari tak terlaksana karena hujan turun sepanjang malam. Pagi itu cuaca cukup cerah. Rombongan berangkat dari Kandang Badak sekitar pukul 07.00 dan mencapai puncak pukul 09.00. Di puncak matahari bersinar dengan terangnya, tak ada kabut ataupun mendung. Pakaian basah yang saya kenakan akhirnya kering juga. Saya sempat juga turun ke Alun-alun Surya Kencana bersama beberapa anggota tim lain. Butuh waktu kira2 satu jam untuk turun dan naik kembali dari Alun-alun itu.

Pukul 10.00 rombongan turun gunung. Lagi-lagi temenku, Bayu mengalami masalah. Jempol kaki kanannya mengalami luka sehingga terasa sakit saat bergesekan dengan sepatu. Dengan berjalan lamban kami menuruni gunung Gede. Pukul 15.00 semua anggota tim sudah sampai di Cibodas dan langsung menuju kampus dengan tronton yang sama saat berangkat. Rombongan sempat tertahan macet di Puncak. Sampai di kampus pukul sepuluh malam.

Perjalanan yang tak terlupakan. Saat itu saya sempat berjanji untuk tidak akan naik gunung lagi. Setahun kemudian saat diajak ikut Pendakian Umum lagi, dengan mentah-mentah saya menolaknya. Cukup sekali seumur hidup, ujar saya kepada teman yang membujukku. Tak disangka, aktifitas naik gunung kini menjadi hobi saya. Selalu saja saya mencari waktu luang untuk mendaki gunung. Entah apa alasannya, saya begitu gandrung dengan aktifitas yang satu ini. Ada kesenangan tersendiri saat kita bisa mencapai puncak. Membaui tanah basah, menghirup udara bersih dan berselimut kabut. Serasa diri ini bebas lepas, merdeka dari segala ikatan. Hingga saat inipun entah sudah berapa kali saya mendaki Gunung Gede itu, yang jelas sudah lebih dari lima kali, melalui ketiga jalur resminya. Dan tak diduga pula saya akhirnya ikut masuk menjadi anggota Stapala dan giliran saya yang menjadi panitia pendakian umumnya🙂.