Ngebayangin, andaikata saya jadi atasan di sebuah institusi pemerintah, kemudian ada anak buah yang dudul abis: pasti sering datang telat, pasti sering kabur dari kantor, kerjaan gak ada yang beres, bikin masalah di mana-mana, gak akur dengan anak buah yang lain, bla bla bla and so on and so on…yang pertama terlintas dalam kepala saya pastinya adalah kata-kata:  “Asli, parah banget neeh orang”. Dan kemudian pasti kalimat, “Tendang kemana ya neeh orang?Pulang Pisau, Jagoi Babang, Teluk Nibung, atau Sangata?” Secara untuk memecatnya sebagai pegawai amat susah terkait birokrasi ruwet pemerintahan negeri ini.

Di “negeri antah berantah itu” pastilah akan jadi tempat yang cocok baginya tuk merenung, memikirkan segala amal perbuatannya yang telah lalu. Bakalan terasing dia dari gemerlapnya kehidupan kota yang selama ini dia jalani, terasing dari segala fasilitas kemudahan hidup. Atau kasarnya juga bisa dikatakan tempat itu adalah tempat pembuangan yang pas, sebagai hukuman baginya atas kinerjanya yang bobrok. “Men kawus!” kalau kata Lik Gino, tetangga saya di Gunungkidul sono.

Ternyata oh ternyata, atasan nyata-yang sebenarnya, tak demikian adanya. Dia kasih kesempatan orang macam ini untuk instropeksi diri. Di mana itu? Pertama sang bawahan disekolahkan kedisiplinan. Digembleng fisik, mental dan disiplinnya. Selanjutnya dia disekolahkan lagi (dimutasi) ke kantor paling modern, paling ketat penerapan kedisiplinannya. Kantor di mana reward & punishment diterapkan dengan sangat baik, tak mengenal istilah PGPS, pinter goblog penghasilan sama.

Nah, kita lihat saja apakah kedua sekolah itu akan berhasil mengubah karakter sang bawahan. Ataukah dia masih tetap gak mau berubah sehingga tergilas oleh aturan kantor barunya. Atasannya sudah memberi kesempatan kedua baginya untuk instropeksi diri dan belajar. Tak berhak dia sakit hati dan mendendam diri kepada mantan atasannya atau atasan barunya jika kemudian dia gagal lulus di sekolah yang kedua ini.

Selayaknya kita kasih hukuman dengan cara yang mencerdaskan, hukuman yang tetap memberi kesempatan bagi yang bersangkutan untuk memperbaiki diri.

Just give him one more chance!