Siti Nurbaya, Layar Terkembang, Robohnya Surau Kami, Atheis, Si Jamin dan Si Johan, Salah Asuhan, Mencari Pencuri Anak Perawan adalah sedikit dari sekian banyak karya sastra klasik hasil karya sastrawan ulung angkatan Balai Pustaka. Semenjak kita SD, kita sudah dikenalkan dengan karya sastra-karya sastra legendaris Indonesia tersebut. Film dan sinetron yang diangkat dari kisah-kisah itupun sudah sering kita lihat di layar kaca.

Tapi sayangnya, sedikit sekali dari kita yang pernah membaca naskah karya sastra itu secara utuh. Saya sendiri terakhir kali membaca sastra klasik indonesia adalah ketika saya masih SMA. Saat itu saya meminjam satu novel Robohnya Surau Kami karangan Ali Akbar Navis (AA Navis) dari perpustakaan sekolah.

Di sekolah dulu, sastra-sastra legendaris itu sekedar diambil sepotong-sepotong untuk dijadikan bahan pembelajaran pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sedangkan naskah utuhnya sebagian besar lusuh menguning terlapis debu, tersingkirkan di sudut pepustakaan sekolah. Buku-buku itu tak tersentuh, kalah bersaing dengan buku pelajaran wajib ataupun novel terjemahan yang meledak di pasaran.

Cerita macam Siti Nurbaya dan Sengsara Membawa Nikmat pernah singgah di hati pemirsa TVRI pada awal dekade 90an. Memang, dalam proses alih cerita dari naskah tulis ke layar kaca banyak cerita yang digunting maupun ditempeli cerita tambahan untuk mendukung tampilan visualnya.  Namun tak bisa disangkal, alih cerita dari novel atau roman ke layar kaca berperan mengenalkan sastra tulis itu sendiri. Tokoh macam Dato Maringgih pun bisa terkenal melalui layar kaca, bukan dari buku aslinya.

Akses terhadap buku itu mungkin yang bikin anak muda jaman sekarang tidak meliriknya. Hampir tidak mungkin Susah sekali kita temui buku sastra Indonesia jadul itu di deretan rak toko buku terkenal macam Gramedia atau Gunung Agung. Sementara penerbitnya (Balai Pustaka) yang berstatus persero pun seakan tak mampu mempromosikan buku-bukunya ke pasaran luas. Kita memang bisa mendownload gratis naskahnya di internet. Namun tentunya itu bukan suatu pilihan yang bijaksana.

toko buku balai pustaka

Beberapa waktu lalu saat mengunjungi kantor Aminef di kawasan Senen untuk mengikuti test TOEFL, saya melihat sebuah toko buku di lantai dasar gedung tempat Aminef berkantor itu. Di gedung itu pulalah Balai Pustaka bermarkas. Saya juga sempat masuk kedalamnya, melihat koleksi buku yang kesemuanya merupakan terbitan Balai Pustaka. Tak disangka, karya-karya klasik bertebaran di sana, dalam cetakan terbaru tentunya.

Armijn Pane

foto Idrus dan STA dipajang di toko

Kamis minggu kemarin, saya kembali ke toko buku ini untuk memboyong beberapa judul. Dan surprisenya, toko buku ini tinggal berumur beberapa hari lagi😦. Tepatnya hari Senin kemarin (21 Maret 2011), toko buku Balai Pustaka itu resmi tutup. Waduh, terus kalau mau cari buku-buku terbitan Balai Pustaka harus pergi kemana dwong?

tutup lapak

Jangan kuatir, Balai Pustaka juga melayani pembelian buku secara online. Kurang manteb memang, kita tidak bisa timang-menimang buku yang akan kita beli. Akan tetapi saat ini pembelian online bukannya sudah jamak di kalangan pelaku bisnis buku. Sebelum memutuskan membeli bukunya, tentunya kita bisa mencari resensi bukunya  terlebih dahulu di internet. Timang-menimang secara online🙂.

Beli Buku Sastra Klasik.

peluncuran buku 8 karya klasik Indonesia.

Sastra Indonesia Klasik Lainnya.