• Bunda: Mir, dikantormu masih sering bagi-bagi utrima*?
  • Amir: Sekarang sudah jarang bu, semenjak reformasi birokrasi, utrima menurun drastis
  • Bunda: Kalo ada yang begituan, trima aja yo lee. Nanti kasih ke Bunda aja. Biar Bunda nanti kasih ke tetangga-tetangga kita. Kasihan mereka lee, buat makan sehari-hari aja susah. Lihat itu Lik Karsi, dia janda kan lee. Sementara dia harus menanggung biaya hidup 9 anggota keluarganya hanya dengan kerja buruh serabutan. Lik Joyo juga, dia dan istrinya sakit-sakitan, anaknya dah gak peduli lagi. Apa gak kasihan kamu ama mereka lee?
  • Amir: Bunda, yang namanya utrima-gratifikasi-suap-uang pelican itu sama saja Bunda, hanya istilahnya saja yang berbeda. Hukum agama dan Negara kita jelas-jelas melarang kita tuk menerimanya.
  • Bunda: Iya, Bunda juga tahu. Tapi kita kan gak memanfaatkannya barang sepeserpun, kita Cuma menjadi perantara agar uang itu sampai ke fakir miskin, tak lebih lee
  • Amir: Bunda, terus apa bedanya saya dengan koruptor kelas kakap negeri ini Bunda. Mereka gunakan uang hasil korupsinya tuk membangun masjid-masjid yang megah, menyantuni ribuan anak yatim dan fakir miskin, membangun jalan aspal mulus di pelosok kampung yang dilewati ribuan orang tiap harinya. Bunda, amal sedekah sebesar apapun tidak bernilai di mata Allah jika berasal dari sesuati yang haram Bunda. Dengan menyedekahkannya ke fakir miskin dan anak yatim, tidak akan menghapus dosa korupsi kita Bunda.

*utrima: uang terima kasih