Diceritakan Oleh Joneh 925/2011

Argopuro, 7-10 maret 2011

Besuki 

Setelah menempuh perjalananan kurang lebih 7 jam dari Surabaya, kami tiba di Besuki jam 17.00. Karena kami tiba terlalu sore di Besuki sehingga angkot (Lyn) yang dapat membawa kami ke desa Baderan sudah tidak beroperasi, kami bermalam di Musholla Kantor Polisi Besuki dan disambut ramah oleh Pak Agus yang sedang piket jaga saat kami meminta ijin bermalam disana. Selain kami, ternyata ada seorang bapak yang juga mau bermalam di Musholla, lupa siapa namanya, yang  berbicara full bahasa Madura dan kamipun hanya bisa cengar-cengir kuda. Malamnya kami jalan-jalan di Alun-alun kota Besuki yang tidak jauh dari kantor polisi sekaligus membeli logistik yang masih kurang. Saat kami mau tidur, datang lagi seorang bapak, yang sama tuanya dengan bapak yang pertama, berasal dari desa Melanting (entahlah dimana desa itu berada) ikut bergabung bersama kami tidur di Musholla. Nampaknya Musholla ini Primadona tempat bermalam bagi orang-orang yang sudah kemalaman dalam perjalanan.

Pagi menjelang kami tidak sarapan di Besuki karena berniat sarapan di Baderan. Setelah solat, mandi, dan packing, kami berpamitan kepada bapak-bapak polisi yang berbaik hati mengijinkan kami bermalam sekalian mengambil KTP saya yang digunakan sebagai jaminan saat melapor dan meminta ijin untuk bermalam. Tempat pangkalan angkot atau biasa disebut Lyn berjarak 300 meter dari kantor polisi. Ternyata disana sudah ada Lyn yang stand by menuju Baderan. Kami langsung naik lyn tersebut, tetapi tidak langsung jalan karena harus menunggu pedagang lain yang mau ikut. Ya, kami naik Lyn bersama pedagang yang membawa ikan asin, sayur mayur, dan kue-kue jajanan pasar.

Lyn yang kami naiki benar-benar kuat meskipun tampak bobrok dari luar. Di dalam selain penumpang, juga dijejali ember-ember serta tampah berisi ikan asin serta karung-karung sayuran dan carrier milik kami diatas, dahsyat. Perjalanan menuju Baderan menghabiskan waktu selama 1 jam.

Di dalam angkot tersebut diisi oleh kami bertiga, 1 orang guru (guru SD Baderan), dan 5 orang pedagang. Bila diperhatikan ternyata mereka saling mengenal terutama sesama penumpang Lyn tersebut. Bahkan saat di sepanjang perjalanan mereka menegur hampir setiap orang yang sedang berjalan di pinggir jalan. Menurut guru yang seperjalanan kami Lyn yang kami naiki tersebut adalah SATU-SATUNYA Lyn yang tersisa dari 5 Lyn yang ada. Tidak beroperasinya 4 Lyn yang lain selain karena rusak juga supir yang biasa membawa keempat Lyn tersebut beralih profesi ditambah lagi adanya ojek. Satu-satunya Lyn ini pun hanya beroperasi untuk 1 kali perjalanan, di pagi hari naik ke Baderan, sore hari turun ke Besuki. Beruntunglah kami yang datang ke tempat pangkalan Lyn tepat waktu. Pak Guru tersebut juga bercerita mengenai hilangnya sejumlah Pramuka saat melakukan kegiatan pendidikan di Argopuro beberapa waktu yang lalu. Ternyata ada beberapa orang Pramuka tersebut memiliki niat lain selain melakukan pendidikan, maka “hilanglah” mereka. Pelajaran moral dari Pak Guru tersebut adalah dalam melakukan suatu kegiatan harus meluruskan niat, Insya Allah, Allah akan memudahkan jalan kita dalam menjalaninya.

Menunggu dan Akhirnya

Tiba di Baderan, kami disapa oleh vokalis Klanting, pemenang “Indonesia Mencari Bakat”, oh ternyata dia Mas Suryadi, asisten Pak Susiono kepala BKSDA PEGUNUNGAN YANG TIMUR. Mas Suryadi ini memang sudah menunggu kedatangan kami karena kami sebelumnya sudah konfirmasi untuk melakukan pendakian 2 hari sebelumnya. Pak Susiono sendiri sedang tidak di Baderan karena menghadiri rapat di Banyuwangi. Setibanya di Baderan, kami sarapan nasi beras jagung + telor dadar. Setelah sarapan kami ke kantor KSDA bersama mas Suryadi dan Acong, Pamswakarsa dari warga setempat yang menjaga KSDA PEGUNUNGAN YANG TIMUR.

Untuk memasuki area KSDA PEGUNUNGAN YANG TIMUR melalui Baderan, diwajibkan memiliki SIMAKSI dan mas Suryadi pun ada rapat di kecamatan tak lama stelah kami sarapan. Maka kami harus menunggu hingga mas Suryadi selesai rapat. Selama menunggu kami ngobrol-ngobrol dengan Acong tentang jalur pendakian, melihat peta jalur pendakian yang ada dalam sebuah pigura besar. Tak lama habis ngobrol-ngobrol, satu persatu dari kami tumbang dan terlelap terbuai sejuknya Baderan. 4 jam menunggu dalam kebosanan akhirnya mas Suryadi datang juga. Urusan Simaksi berlanjut ditambah info-info kondisi jalur yang banyak pohon tumbang pasca putting beliung beberapa waktu lalu yang menyebabkan pendakian ke argopuro ditutup serta wejangan-wejangan.

Yeah, akhirnya jam 14.10 kami dapat memulai pendakian diiringi cuaca yang sedikit mendung. Sesaat sebelum berangkat kami sempat ditanya oleh mas Suryadi “kalian beneran mau naik cuma make celana pendek dan kaos lengan pendek aja?”, kami pun mengiyakan tanpa ragu. Mas Suryadi memperingatkan adanya tanaman kemaduh atau nama kerennya Djancoek setinggi orang dewasa menjelang Cisentor. “Ah, biarlah”, dalam hati kami berbicara.

Perjalanan Menuju Mata Air 1 (1758 mdpl)

Sehabis dari Kantor KSDA, jalur pendakian yang pertama kami lewati berupa jalan berbatu lalu masuk melewati konblok sejauh 100meter lalu lurus tidak mengikuti konblok melalui jalan tanah yang becek. Saat di jalan yang becek ini kami bertemu dengan seorang ibu tunawicara. Dia berusaha berkomunikasi dengan kami dengan isyarat dan gerakan tubuhnya. Dari segala isyarat dan gerak-gerik tubuhya, si ibu ini seperti memperkenankan kami untuk melakukan pendakian dan juga menyatakan ketidaksukaanya terhadap pendaki atau pemburu kijang. Ya, kijang memang hidup di kawasan Pegunungan Yang Timur. Di sepanjang jalur tanah becek ini masih ada rumah penduduk yang berada di sebelah kiri bawah jalur. Tak lama kemudian kami menemui jalan yang cukup untuk dilewati mobil berupa jalan berbatu. Tak jauh dari simpangan tersebut, ada Pos 1 yang berupa gardu.

Jalur berbatu ini berada di pinggir punggungan dan mengikuti alurnya dengan tanjakan panjang landai dan masih beradab. Bila diperhatikan sebelah kanan jalur ada lembah dan punggungan bukit yang nampaknya indah bila cuaca cerah. Samar-samar terlihat aliran air yang tampak seperti air terjun kecil dan jumlahnya lebih dari satu. Namun karena cuaca yang cenderung mendung dan sedikit berkabut, kami tidak bisa mendapatkan penglihatan yang jelas. Bila sedang dalam kondisi cerah, jalur ini nampaknya akan menguras banyak tenaga karena benar-benar terbuka tidak terlindung dari sinar matahari tanpa terlindung pohon ataupun tanaman perdu.

Di sepanjang jalur ini ada 3 pos, dimana Pos 1 telah kami lewati. Setengah jam kami berjalan dengan diselimuti kabut tipis, kami tiba di “sisa” Pos 2 yang hanya tinggal semen pondasinya saja. Padahal menurut keterangan salah satu senior yang pernah mendaki, Pos-pos ini masih dalam keadaan baru pada tahun 2006. Nampaknya rentang 5 tahun cukup membuat pos ini rusak. Begitu juga kondisi Pos 3 yang berjarak 20 menit berada dalam kondisi miring menunggu waktu gravitasi bumi memeluknya untuk kembali ke dalam dekapannya. Di sepanjang jalur ini kami masih bertemu dengan penduduk yang sekitar yang mencari rumput dan kayu.

Batas Hutan

Tak lama setelah melewati Pos 3, kami memasuki batas hutan yang disambut dengan tanaman perdu dan semak-semak. Ada sebuah persimpangan jalur dimana jalur pendakian ada tanda medan berupa tali raffia, entahlah jalur yang lain menuju kemana. Derajat kemiringan kali ini bertambah, namun tergolong landai. Selang waktu 1 jam perjalanan, kami bertemu lagi penduduk yang habis mencari dan menanyakan pukul berapa saat itu.

Perjalanan kami dari Baderan menuju Pos Mata Air 1 membutuhkan waktu selama kurang lebih 4 jam. Pos Mata Air 1 ditandai adanya plang Pos Mata Air Pertama. Informasi plang tersebut cikasur berjarak 13 kilometer. Ada sebuah shelter di sebelah kanan jalur yang kira-kira cukup 6 tenda. Sedangkan mata airnya sendiri berada di sebelah kiri plang dan harus turun ke bawah. Kami tiba di Pos Mata Air 1 jam 18.00 dan langsung mendirikan tenda di tengah jalur.

Perjalanan Menuju Mata Air 2 (2056 mdpl)

Setelah masak dan packing, perjalanan dilanjutkan dengan tujuan Pos Mata Air 2. Start jalan jam 07.00, jalur pendakian masih dihiasi tanaman perdu, semak, dan ilalang. Namun kali ini ditambah suara burung yang bersahutan di pagi hari. 10 menit dari Pos Mata Air 1, kami bertemu dengan sekawanan monyet berbulu hitam yang gaduh memberikan suara peringatan kepada kawanannya karena kedatangan kami di daerahnya. Kami tetap berjalan menyusuri jalur yang tampak begitu jelas. Jam 10.15, kami tiba di persimpangan dimana ada plang petunjuk ke kiri menuju desa Taman Kursi, sedangkan Cikasur ke kanan. Dari persimpangan ini, tertulis Cikasur berjarak 11km.

Kami melanjutkan perjalanan dan tepat jam 08.00 tiba di Pos Mata Air 2 (Cemara Panjang). Pos Mata Air 2 ini juga ditandai adanya plang informasi jarak ke Cikasur 8km dan keberadaan mata air ada di sebelah kanan jalur. Pos ini juga disebut Cemara Panjang karena terdapat banyaknya pohon cemara. Ewel dan Kace mencoba untuk mengecek keberadaan mata air kedua namun karena medan yang dilalui lebih curam dibandingkan saat menuju ke mata air 1, mereka mengurungkan niatnya dan melanjutkan perjalanan.

Perjalanan Menuju Cikasur (2141 mdpl)

Perjalanan dilanjutkan menuju Cikasur yang melewati alun-alun kecil. Jalur menuju Cikasur bervariasi dari hutan ke savanna ke hutan lagi ke savanna lagi sampai kami lupa ada berapa savanna yang telah kami lewati. Setiap savanna kami berkelakar kalau mau bermain layangan disini tinggal mengulur saja nanti layangannya bisa langsung naik, angin berhembus cukup membuat kami sejuk karena teriknya panas matahari. Bila diperhatikan, di sepanjang jalur juga ada tanda medan “tambahan” berupa patok yang bertuliskan HM atau SM dan ada di setiap 100 atau 200 meter. Sekitar jam 09.00 kami tiba di alun-alun kecil yang berupa savanna. Istirahat sebentar di bawah pohon, lalu kami melanjutkan perjalanan menuju Cikasur. Memasuki area savanna yang kesekian, terlihat hamparan luas Cikasur dengan latar padang-bukit dan hutan cemara di kejauhan. ya, inilah cikasur dan kami tiba jam 11.30.

Cikasur yang menurut catatan-catatan pendaki lain menyebutkan burung merak sering berjemur disini, tetapi kami tidak menemuinya. Kami hanya melihat sebuah burung berwarna hitam berukuran cukup besar dengan sayap pink atau merah muda. Keistimewaan Cikasur yang lainnya yaitu adanya sungai Qolbu yang jernih dan tanaman selada air yang hidup alirannya. Segarnya air menggoda kami untuk menceburkan diri sekedar untuk menyegarkan tubuh yang selama pendakian dinaungi cuaca sangat terik. Selain makan siang disini, kami juga “memanen” sejumlah selada air untuk makan malam dan esok pagi.

Di Cikasur terdapat shelter yang dinding kayunya sudah terlepas, jadi tinggallah tiang dan atapnya saja. Disini juga ada papan peringatan berukuran besar yang berisi bahwa Cikasur adalah daerah rawan kebakaran karena luasnya serta angin yang berhembus cukup kencang sehingga bila ada kebakaran akan cepat menyebar. Pegunungan Yang Timur yang terdiri dari beberapa gunung, selain gunung argopuro, memang sering mengalami kebakaran hutan. Tak terasa kami sudah berjalan sejauh 13km dari Pos Mata Air 1.

Perjalanan Menuju Cisentor (2339 mdpl)

Setelah istirahat, tim melanjutkan perjalanan menuju Cisentor. Perjalanan menuju Cisentor tanaman perdu serta semak semakin lebat. Keberadaan tanaman kemaduh atau Djancoek juga semakin banyak. Disarankan untuk memakai baju lengan panjang dan celana panjang bila ingin menghindari sengatannya. Kami melewati sabana dan padang edelweis serta jalur dimana sebelah kanan atas ada batu-batuan besar yang cukup mengancam bila tiba-tiba longsor serta jurang di sebelah kiri dan sempat meniti kayu tumbang dimana sebelah kirinya adalah jurang. Tak lama setelah titian tersebut, jalur kembali menurun dan terlihat bangunan shelter yang berarti itu adalah Cisentor. Kami tiba di Cisentor jam 15.45 dan langsuhng mendirikan tenda.

Cisentor merupakan pos yang berada dekat dengan aliran sungai serta ada area shelter yang mampu menampung tenda dalam jumlah banyak. Di Cisentor juga merupakan pertigaan antara jalur Baderan, Jalur Bremi, dan jalur menuju puncak. Suhu di Cisentor tidak terlalu dingin karena terlindung oleh punggungan bukit dan lebatnya pohon cemara. Tim bermalam disini untuk memulihkan kondisi setelah hari ini berjalan sejauh 17,7 km dengan rincian Pos Mata Air 1-Cikasur 13 km + Cikasur-Cisentor 4,7km  (berdasarkan patok HM 140 di Cisentor dan HM 93 di Cikasur). Perjalanan panjang yang cukup melelahkan melalui jalur yang bervariasi, naik-turun, hutan-savanna-hutan, serta kecupan hangat tanaman Djancoek di tubuh kami. Amazing!

Summit Attack!

Kami bangun jam 03.45 dan langsung segera masak selada air, yummy. Sarapan penting menurut kami untuk summit attack pagi ini karena berdasarkan catatan terdahulu perjalanan Cisentor-puncak Rengganis-Puncak Primer & Sekunder Argopuro-Cisentor memakan waktu sekitar 3,5 jam perjalanan belum termasuk waktu untuk istirahat. Jam 05.25 kami memulai perjalanan kami berbekal 1 daypack dan carrier kami tinggal di cisentor bersama tenda. Suhu pagi tersebut tidak terlalu dingin dan suasana juga sudah terang. Di awal perjalanan kami sedikit mengalami kesulitan karena semakin banyaknya pohon tumbang yang menutupi dan mengacaukan jalur. Berulang kali kami harus mengecek sebuah jalur karena terhalang pohon besar tumbang.

Sekitar 1 jam lebih kami berjalan dan melewati hutan pinus dan padang edelweis terdengar suara aliran sungai di sebelah kanan sabana yang kami lewati. Ya, kami rasa itu adalah Rawa Embik, sumber air terakhir sebelum puncak namun kami tidak melihat adanya plang dan kami memang tidak berniat untuk singgah di Rawa Embik. Beberapa saat kemudian kami memasuki jalur yang mirip sebuah lorong dari tanaman yang sebelah kirinya berupa jurang.

Kira-kira 1 jam dari Rawa Embik kami sudah sampai di Puncak Rengganis. Di sebuah sabana sebelum puncak kami disambut kabut tipis dan burung merak, Thanx God, kau perlihatkan kepada kami salah satu ciptaaan-Mu yang cantik. Di sekitar area puncak Rengganis juga terdapat reruntuhan bangunan istana Dewi Rengganis. Komplit sekali memang Argopuro ini, jalur pendakian yang bervariasi ditambah lagi situs sejarah Istana Dewi Rengganis dan bahkan nanti di puncak sekunder ada sebuah arca meskipun kepalanya hilang.  Di sekitar reruntuhan istana kami kembali menemui burung merak.

Di area reruntuhan istana juga terdapat bekas sisa-sisa sampah pendaki maupun penziarah  serta tidak lupa kami mampir ke sebuah memoriam atas nama Anang Purwanto dari STIE PERBANAS yang meninggal 20 februari 1997. Saat menjelang puncak rengganis kabut  semakin tebal hingga kami sedikit sulit mencari puncak Rengganis. Setelah mencoba mengikuti jalur, tampak samar-samar bukit yang menjulang yang terselimuti kabut dimana bau belerang santer tercium.

Puncak Rengganis ditandai adanya tumpukan batu yang sering disebut sebagai makam Dewi Rengganis. Tebalnya kabut dan kencangnya angin berhembus menyambut kami di puncak sehingga tidak ada pemandangan yang dapat terlihat, bahkan puncak primer Argopuro pun tidak.

Tak lama-lama di Puncak Rengganis kami menuruni bukitnya yang berupa batuan putih dan langsung menuju puncak primer dan sekunder Argopuro. Kami berada lama di sekitar area reruntuhan istana Dewi Rengganis karena tidak menemukan pertigaan yang menghubungkan Puncak Rengganis dan Puncak Primer. Kabut semakin mempersulit usaha kami mencari bukit puncak primer argopuro. Hampir setengah jam kami berputar-putar disini dan kami memutuskan kembali ke sabana terakhir sebelum istana untuk mencari jalur menuju puncak primer dan benarlah keputusan kami. Pertigaan jalur ternyata jauh dibelakang dan jalur setapak yang menuju puncak primer  tidak terlihat begitu jelas bila dibandingkan ke puncak Rengganis.

Dari pertigaan tersebut puncak primer ke kanan, Rengganis ke kiri. Tak lama dari pertigaan tersebut terpampang jelas bukit yang menjulang dan semakin yakinlah kami kalau ini adalah jalur yang benar. Sekitar 20 menit menaiki bukit tersebut tibalah kami di Puncak Primer Argopuro (3088 mdpl) yang ditandai adanya sebuah tugu ketinggian.

Puncak Argopuro memang unik, masih terdapat banyaknya pohon cemara. Bahkan kami sempat sedikit sangsi kalau ini adalah puncak primer Argopuro. Namun bila menilik foto-foto pendaki Argopuro, inilah puncak primernya yang dikelilingi pohon cemara. Melengkapi keunikan Argopuro lainnya yaitu tersedianya sumber air di sepanjang perjalanan.

Perjalanan Menuju Danau Taman Hidup

Jam 09.25 kami kembali turun ke Cisentor dan tiba di cisentor jam 11.00 packing tenda dan persiapan lainnya untuk turun melalui jalur Bremi. Sekitar jam 1 kurang kami memulai perjalanan turun melalui jalur Bremi yang berada di belakang pos. Target perjalanan kami hari ini adalah bermalam di Danau Taman Hidup. Diawal perajalanan, jalur yang kami lewati berupa sabana dan rerumputan perjalanan yang makin penuh tantangan. Medan seperti roller coaster, naik turun melingkari pegunungan. Kira-kira 1 jam kemudian kami tiba di Aeng Kenek yang ditandai adanya aliran sungai kecil yang tertutupi rimbunnya semak dan ilalang.

Setelah Aeng Kenek kami jalur terberat, menurut saya, menemui medan yang hampir semua jalur tertutup oleh semak-semak, rumput tinggi, sejenis tanaman bambu, dan tanaman Djancoek yang tumbuh secara sporadis di beberapa titik yang bahkan memiliki tinggi 2 meter. Banyaknya luka lecet di sekujur tangan dan kaki membuat kami sedikit lebih kebal terhadap sengatan Djancoek dibandingkan saat perjalanan naik. Lebatnya tanaman sepanjang jalur ini juga terkadang menutupi jalur setapak dan diperlukan ketelitian dan kehati-hatian disini.

Selepas lebatnya semak, rumput tinggi, dan tanaman lain, kami memasuki bukit yang terasa tak berakhir. Naik turun dan mengitari bukit demi bukit, inilah uniknya Argopuro. Di kala turun pun naik bukit pun masih harus dilalui. Entah sudah berapa belas tanjakan yang kami lalui selain berputar-putar di punggungan bukit. Lelah kami memutari bukit ini sedikit berkurang dengan terhibur melihat seekor burung Elang yang terbang tepat diatas kami yang sedang beristirahat. Setelah itu kami memasuki hutan lumut yang tidak terlalu berat dan bisa bergerak cepat untuk menuju Danau Taman Hidup karena hari sudah mulai gelap. Berjalan dan terus berjalan, tanda-tanda keberadaan danau belum tampak sedangkan kondisi di hutan lumut sudah gelap gulita dan kami menggunakan senter selama di hutan lumut ini.

Tak lama kemudian kami melewati sebuah sungai yang seukuran dengan sungai di Cisentor dengan aliran lebih tenang dan ada semacam area yang bisa untuk mendirikan 2 tenda dan pada akhirnya kamipun bermalam disini karena selain sudah gelap, hujan juga turun untuk pertama kalinya selama kami mendaki Argopuro. Area ini banyak potongan-potongan kulit kayu. Hujan pun turun sepanjang malam hingga subuh.

Perjalanan Menuju Bremi

Setelah sarapan dan mencuci semua peralatan makan kami di sungai, kami melanjutkan perjalanan ke Danau Taman Hidup yang ternyata hanya berjarak sekitar 15 menit dari tempat kami bermalam. Kata seorang teman di Surabaya, tempat kami  bermalam di pinggir sungai tersebut memang tempat sering “nyangkutnya” pendaki yang mengira Danau Taman Hidup masih jauh. Tiba di Danau Taman Hidup, kondisi jalur sangat becek terutama karena hujan sepanjang malam tadi malam. Beceknya kondisi sekitar danau tidak mengurangi indahnya danau tertinggi yang pernah kami lihat. Di seberang danau tampak seorang pemancing dan bivaknya yang mirip tenda pramuka.

Puas foto-foto di danau dan di dermaga yang sudah mulai rusak, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Bremi. Setalah danau ada banyak pecabangan yang tidak jelas arahnya yang dibuat oleh penebang kayu. Ya, ada aktifitas penebangan pohon namun legal (menurut kami) karena ada sebatang pohon yang telah ditebang ada tulisan KSDA 66, februari 2011. Tersesat ke jalur yang nampaknya memutari danau, kami memutuskan kembali ke danau dan menanyakan jalur yang benar kepada pemancing di danau. Saya dan Kace menghampiri pemancing tersebut dan Ewel menunggu di pos.

Saat kami memutari danau, ternyata aliran sungai dekat tempat kami bermalam berasal dari danau Taman Hidup dan ditemukan juga banyak sampah bahkan botol miras. Menyedihkan indahnya Danau Taman Hidup bila tercemar sampah. Setelah bertanya jalur yang benar, kami melanjutkan perjalanan dengan mengikuti dan mencoba-coba jalur dan akhirnya kami mendapati jalur yang benar. Setelah ini jalur setapak begitu jelas. Jalur ini berada di hutan tropis yang lembab dan sepanjang perjalanan turun dengan derajat kemiringan yang cukup curam cukup membuat lutut ini bergetar dan sesekali jalur menurun yang landai sehingga terkadang kami berlari menuruninya. Waspadai juga adanya pacet disepanjang jalur ini, bahkan seekor pacet telah selamat menjejakkan tubuhnya di Bintaro dengan bersembunyi di sepatu Kace.

Keluar dari hutan, kami kembali harus menyusuri pinggir punggungan yang di sebelah kanan merupakan jurang yang cukup dalam. Saat menyusuri bukit, tak lama kemudian ada sebuah jalur yang longsor. Sempat ragu untuk melewatinya namun bila diamati cukup aman untuk dilewati oleh kami. Disini sinyal selular juga sudah ada, kamipun menyalakan handphone kami sambil beristirahat memandangi jajaran bukit yang diselimuti kabut. Disini kami bertemu 3 orang bapak yang membawa kayu hasil tebangan di sekitar Danau Taman Hidup.

Sekitar jam 11 lewat kami telah memasuki kawasan perkebunan kopi dan desa Bremi sudah terlihat. Tepat tengah hari, jam 12 kami tiba di Polres Krucil, Bremi. Disana kami menumpang mandi di kamar mandi yang ada di sebelah kantor Polres. Selain mandi kami juga menjemur tenda dan pakaian kami yang basah. Setelah selesai mandi, packing, dan membuang sampah pribadi selama pendakian, kami melanjutkan langkah kaki ini ke warung Bu Rusdi. Makan makanan peradaban sangat nikmat rasanya setelah 3 hari makan seadanya. Nasi rames + rendang dan teh manis benar-benar memuaskan hasrat lapar kami.

Migrasi ke Lawu

Sehabis makan, jam tangan menunjukkan jam 14.30. Berarti kami harus menunggu bis AKAS yang akan membawa

kami ke probolinggo hingga jam 15.30. Selagi menunggu di warung Bu Rusdi, ternyata tepat jam 15.00 warga sekitar yang juga bermata pencaharian sebagai penghasil susu segar, berduyun-duyun berdatangan menyetorkan susu hasil sapi perahan milik mereka ke Koperasi Susu yang tepat berada di samping warung. Ada yang mengantarkannya dengan sepeda motor, ada juga yang dengan cara tradisonal, menaruh di atas kepala mereka. Kace sampai takjub melihat ibu-ibu yang mengangkut kaleng susu di atas kepala tanpa memeganginya, benarlah ungkapan practice make perfect.

Selagi asik memperhatikan orang-orang yang sedang menyetor susu sambil ngobrol, terlihat bis AKAS seukuran metromini berjalan perlahan. Tepat jam 15.30 bis berhenti di depan warung dan kami berpamitan dengan pak rusdi yang sedang bermain bersama cucunya. Perjalanan Bremi-Probolinggo menempuh waktu 1,5 jam. Di sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemandangan Pegunungan Yang Timur.

Dari probolinggo kami kembali naik bis AKAS menuju Surabaya yang menempuh waktu selama 4 jam. Tiba di Terminal Bungur Asih jam 21.30, kami langsung mencari makan malam. Ayam dan bebek goreng jadi pilihan kami malam mini. Sehabis makan kami menuju mesjid dan disana bertemu 3 orang pendaki berasal dari semarang yang habis mendaki Welirang. Dari merekalah kami tahu kalau di Arjuno sedang badai dan jalur pendakian ditutup. Kami teringat tim MU yang sehabis dari Raung akan melajutkan ke Arjuno-Welirang.

Setelah solat dan kembali ngobrol-ngobrol bersama mereka, kami berpisah menuju Solo. Semoga bisa bertemu di lain kesempatan. Jam 23.00 kami berangkat meninggalkan Bungur Asih menggunakan bis Sumber Kencono. Menurut saya supir bis ini “memaksimalkan potensi mesin” kendaraannya di sepanjang perjalanan. Tidak ada kata pelan, tentu saja saya senang karena akan lebih cepat sampai di Solo. Terjaga hanya 1 jam kemudian kamipun terlelap hingga sampai Solo.

Lawu, 11&12 maret 2011

Sambutan Reog Ponorogo

04.50 kami tiba di Terminal Tirtonadi dan langsung menuju mesjid  untuk solat dan sekedar cuci muka. Istirahat 1 jam di mesjid cukup membuat kami rileks dan siap melanjutkan perjalanan ke Tawangmangu. Selama di perjalanan, bis yang kami naiki penuh oleh pelajar SMP dan SMA. Dari jauh tampak Gunung Lawu dengan gagahnya berdiri dengan gumpalan awan di atasnya, hah, siang nanti kamipun akan berada disana. Sampai di Tawangmangu, kedatangan kami disambut Reog Ponorogo. Di Tawangmangu kami sarapan dan membeli perlengkapan serta logistik. Tidak lupa juga mengabarkan perkembangan perjalanan kami. Sialnya, ketika baru berhasil meng-upload beberapa foto, terjadi mati lampu. Yowislah, yang penting sudah ada beberapa foto bukti perjalanan ke Argopuro kemarin yang sudah berhasil dipublikasikan.

Cukup lama kami di Tawangmangu, hingga salah satu orang senior yang menyarankan kami naik Gunung Lawu via Cetho. Kami yang sebelumnya menyiapkan perjalanan naik melalui Cemoro Sewu dan turun Cemoro Kandang berembuk apakah mau mencoba jalur Cetho yang notabene tidak sepopuler Cemoro Sewu ataupun Cemoro Kandang. Akhirnya kami memilih Cetho sebagai jalur pendakian kami untuk naik. Dengan berbekal catpernya  Asig dan smsnya (thanx ya infonya), kami kembali  turun ke bawah ke Terminal Karang Pandan yang telah kami lewati saat perjalanan menuju Tawangmangu.

Setibanya di Karang Pandan kami lanjut naik bis kecil menuju Pasar Kemuning. Tiba di Pasar Kemuning jam setengah 11, kami tidak langsung naik ke Cetho untuk membeli makan siang nanti dan mempelajari medan yang akan kami lewati  nanti. Beres semuanya, kami naik ojek menuju Candi Cetho sebagai tempat start pendakian. Perjalanan naik ojek ini disuguhi pemandangan kaki Gunung Lawu yang menakjubkan. Tiba di pintu masuk candi cetho kami packing ulang dan memakai kembali sepatu. Tak lama kemudian datang beberapa wisatawan menuju Candi Cetho. Untuk memasuki Candi Cetho, setiap wisatawan hanya diwajibkan membayar retribusi Rp 3.000. Menurut warga sekitar, menuju puncak Lawu lewat jalur Cetho hanya membutuhkan waktu 4-6 jam perjalanan.

Candi Kethek

Setelah pamitan dengan warga sekitar yang sedang berada di Candi Cetho, kami memulai pendakian jam 11.45. Kami tidak masuk lewat candi Cetho, tetapi langsung belok kiri dan langsung melipir lewat jalur setapak di pinggir rumah warga dan terlihat aliran sungai kecil yang disana kami mengisi air dan cuci muka untuk menyegarkan badan. Setelah mengisi dan menyeberangi sungai, jalur menanjak dengan kemiringan 30-45 derajat. Tak lama kemudian, kira-kira 5menit dari sungai, kami sampai di Candi Kethek.

Foto-foto sebentar di Candi, kami melanjutkan perjalanan melalui jalur yang ada di sebealah kiri candi. Dari jalur ini masih terlihat perkebunan warga dan ada tand medan berupa plang besi yang ada di pohon. Tak lama dari candi kami disambut kembali oleh tanaman perdu dan semak-semak. Minimnya pohon-pohon berukuran besar serta di beberapa titik tanaman perdu rendah, keringat kami langsung bercucuran karena terik matahari langsung menerpa tubuh kami tanpa penghalang. Kondisi jalur juga jelas selama perjalanan menuju Pos 1 dengan derajat kemiringan 30-45 derajat.

Kami tiba di Pos 1 jam 12.30 atau 45 menit dari Candi Cetho.  Shelter pos 1 ini berupa semacam tenda besar yang atapnya terbuat dari ayaman bambu yang dilapisi plastik dan karung di bagian dalamnya. Lokasinya berada di tengah punggungan di sebelah kiri jalur. Di belakang Pos 1 ada sebuah pohon besar yang tumbang.

Pos 2 vs terik matahari

Perjalanan menuju Pos 2 masih diiringi jenis tanaman yang sama, perdu dan semak-semak, sesekali pohon besar menaungi jalur. Derajat kemiringan jalur bertambah dan  teriknya matahari memaksa kami untuk berhenti setiap 10 atau 15 menit sekali. Keringat semakin membasahi tubuh kami berjalan di punggungan yang untungya tanaman perdu yang ada cukup tinggi sehingga masih ada tempat istirahat yang tidak terkena sinar matahari langsung. Di sepanjang jalur juga masih banyak terdapat tanda medan yang terpasang di pohon disepanjang jalur. Jam 13.07 kami tiba di Pos 2 dengan keadaan basah kuyup karena keringat dan nampaknya matahari tidak mau berkompromi dengan kami. Bentuk shelter Pos 2 ini sama persis dengan shelter Pos 1 tetapi berada di sebelah kanan jalur. Waspadai simpangan setelah Pos 2

Pos 3, Botol Kosong

Sejenak istirahat di Pos 2, kami siap melanjutkan perjalanan. Perjalanan setelah Pos 2 semakin menanjak yang membutuhkan tenaga ekstra. Untungnya perjalanan menuju Pos 3 kabut tipis menyelimuti punggungan yang kami lewati, lumayan daripada terik matahari yang menerpa kami. Kondisi jalur yang semakin menanjak dan terkadang harus menggunakan tangan utnuk membantu pergerakan tetap membuat kami untuk berhenti 10 atau 15 menit sekali. Banyaknya pohon tumbang sesekali memaksa kami untuk menunduk bahkan merangkak. Tanda medan juga masih banyak terpasang. Jam 14.13 kami tiba di Pos 3 yang memiliki bentuk shelter yang berbeda dengan 2 Pos sebelumnya. Beberapa bulan sebelumnya ditemukan mayat seorang wanita disini yang tanpa membawa perbekalan apapun. Disini pula kami makan siang dengan nasi bungkus yang telah kami beli di Pasar Kemuning tadi.

Pos 4, Runtuhnya Shelter kita

Setelah makan siang, jam 14.38 kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 4. Kondisi jalur sama seperti sebelumnya, tanjakan tanpa ampun. Di  jalur ini ada persimpangan yang kalau ke kanan ada rembesan/bocoran pipa, tetapi saat kami mencoba mengeceknya rembesan/bocoran pipa tersebut sudah ditambal. Dari lokasi tempat rembesan/bocoran pipa ini akan terlihat pemandangan indah berupa jurang dan di depan ada sebuah punggungan juga yang berjalan seiringan dengan jalur yang kami lewati. Istirahat sebentar sambil menikmati pemandangan, kami melanjutkan perjalanan dan lagi-lagi disetiap 15 menit sekali kami berhenti untuk istirahat.

Jam 15.35 akhirnya kami tiba di Pos 4. Shelter pos 4 sudah dalam keadaan rubuh dan bila dilihat dari material yang digunakan, shelter pos 4 sama dengan shelter pos 3 dengan beratapkan seng. Disini kami menunaikan solat jama’ qashar berjamaah karena tempatnya yang memungkinkan untuk solat berjamaah bertiga.

Hargo Dalem

Jam tangan menunjukkan pukul 15.52 saat kami melanjutkan perjalanan menuju Hargo Dalem. Diawal jalur perjalanan kali ini cenderung landai bahkan turun setelah melewati 2 pohon cemara besar. Lalu akan menanjak lagi menaiki sebuah bukit dengan pohon cemara di sekelilingnya. Setengah jam dari 2 pohon cemara, kami masuk ke area sabana dan ada batu propinsi. Saat memasuki area sabana ini kabut semakin tebal dan tak lama kemudian hujan rintik-rintik mulai turun. Sekitar jam 17.15 kami memutuskan untuk berhenti karena paha saya terasa kaku dan bermalam di area pohon cemara yang berada diantara 2 sabana. Sesaat sebelum berhenti, saat berjalan di sabana ada seekor burung yang seolah-olah menuntun kami untuk terus mengikuti jalur. Burung tersebut bertengger di batang pohon di dekat jalur dan ketika kami sudah dekat dengannya, burung tersebut terbang tidak jauh dan kembali bertengger di batang pohon dekat jalur. Malam itu hujan hingga subuh ditambah angin yang tidak terlalu kencang namun karena tenda kami berada dibawah pohon, hanya terasa rintik-rintik saja.

Mbok Yem Attack!

Pagi terasa amat dingin menusuk tulang hingga kami enggan untuk keluar dari tenda. Kami meninggalkan tempat ini

jam 08.20 dan kembali ke sabana. Setengah jam berjalan di sabana, kami tiba di sebuah sabana dengan banyak batu yang tersusun. Oh, kami memasuki Pasar Dieng a.k.a Pasar Setan. Pemandangan dari tempat ini sangat indah. Hamparan sabana dan gumpalan awan di depan.

Tak berlama-lama disini kami melanjutkan perjalanan menuju Hargo Dalem karena kabut tipis yang menyelimutinya telah tersingkap dan dari tempat ini pula dapat terlihat. 10 menit kemudian kami tiba di Hargo Dalem (3170 mdpl) dan disambut wangi kemenyan yang semerbak. Tanpa disangka, burung yang kemarin sore “menuntun” kami, ada di hargo dalem sedang mencari makan. Tak jauh dari Hargo Dalem, Warung Mbok Yem dalam satu area dengan hargo Dalem.

Di warung Mbok Yem kami memesan susu jahe dan istirahat sebentar sebelum summit attack. Saat istirahat itulah  burung “penuntun” kami, datang dan meminta “jatah”. Ya, burung ini ternyata setiap hari mapir ke warung Mbok Yem dan diberi makan oleh Mbok Yem sendiri. Kalau kata Mbok Yem itu burung jenis jalak blablabla (lupa). Itu burung emang suka begitu, mengikuti pendaki. Biasanya kalau ada pendaki tersesat burung tersebut bakalan terbang berputar-putar diatas pendaki yang tersesat tersebut. Tetapi kalau kayak kami kemarin yang sudah di jalur yang benar, paling hanya mengikuti atau ada di depan pendaki. Dari Mbok Yem juga kami tahu telah terjadi peristiwa tsunami di jepang. Setelah hampir 6 hari tanpa mengikuti perkembangan dunia.

Summit Attack!

Istirahat setengah jam sambil nyeruput susu jahe membuat badan menjadi tambah segar, jam 09.28 kami bertiga menuju puncak. Hanya butuh waktu 15 menit dari Mbok Yem sampai di puncak Lawu (3265 mdpl). Yeah, puncak kedua kami dalam event “Rally Seven Summit East Java 2011”.

Disini kami bertemu 2 pendaki dari semarang yang, Wahyu & Seto. Mereka naik bertujuh namun baru mereka yang baru sampai puncak.

Jam 10.40 kami tiba kembali di Mbok Yem dan memesan nasi pecel. Selama menunggu dibuatkan nasi pecel oleh Mbok Yem, saya tertidur sedangkan Kace dan Ewel berkeliling di luar. Hah, akhirnya jadi juga nasi pecelnya yang nikmatnya dan murah pula, ga mengada-ngada harganya.

Cemoro Sewu Stone

Jam 11.30 kami turun dengan tujuan Cemoro Sewu. Tiba di Sendang Drajat bertemu dengan 5 pendaki dari Makupella, Yogyakarta. Ngobrol-ngobrol sebentar dan mengisi air kami langsung berpamitan untuk turun. Jalur turun dengan batu tersusun mememudahkan kami bergerak cepat tanpa perlu takut tersesat dengan konsekuensi lutut pegal. Jam 12.25 kami tiba di Pos 3.  Istirahat sebentar lanjut lagi dan tiba di Pos 2 jam 12.55. Jam 13.35 kami tiba di Pos 1 dan jam 14.05 tiba di gerbang Cemoro Sewu. Terhitung sekitar 40an pendaki hari itu yang naik melalui cemoro sewu dan semuanya dari semarang.

Setibanya di gerbang, kami langsung mandi di mesjid An-Nur seberang gerbang cemoro sewu.

Jam 15.30 setelah solat kami langsung ke solo naik L300 dan bis dan tiba di Terminal Tirtonadi Solo jam 17.30. Disini kami berpisah menuju rumah masing-masing

Contact Person

Argopuro

Pak Susiono, Petugas KSDA Baderan = 08113651015

Mas Suryadi, Peugas KSDA BAderan  = 081336017979

Transportasi

Jakarta – Surabaya (KA.Kertajaya)                       = 34.000 

Sta.Pasar Turi – Terminal Bungur Asih                  = 5.000

Terminal Bungur Asih – besuki                            =  ……

Besuki – Baderan                                              = 9.000

Bremi – Terminal lama Probolinggo                       = ……

Terminal lama Probolinggo – Terminal Probolinggo  = 2.000

Probolinggo – Surabaya                                      = 14.000

Surabaya – Solo                                                = 24.000

Solo – Tawangmangu                                        = 15.000

Tawangmangu – Karangpandan                          = 3.000

Karangpandan – Pasar Kemuning                         = …….

Pasar Kemuning – Candi Cetho (ojek)                   = 12.000

Pendaki

Joneh925/2011

Ewel892/2010

Kace927/20011