15 Januari 2011

Kereta Bengawan baru saja berlalu meninggalkan kami di stasiun besar Kutoarjo. Butuh waktu dan usaha ekstra bagi kami tuk menurunkan carier-carier besar keluar dari kereta, diselingi dengan gerutuan penumpang lain tentunya, hehehe, maaf. Seperti biasa, kereta jarak jauh di akhir pekan selalu saja dipenuhi pemudik mingguan. Seperti biasa pula, banyak penumpang liar tanpa tiket menjalankan aksinya. Malam itu 2 orang dari rombongan kami juga menjadi salah satu oknumnya. Gokong dan Codet rela bersengsara ria, sembunyi di bawah bangku kereta, menaruh kepalanya diantara kaki-kaki bau demi tumpangan gratis senilai 34 ribu. Sesekali mereka melongokkan kepala keluar ketika mendengar suara bungkus makanan dibuka, minta jatah, wkwk. Ketika petugas pemeriksa tiket datang, mereka diam tak berkutik di bawah bangku, sementara anak-anak yang lain berusaha menutup kolong dengan apa saja tuk mengelabuhi petugas.

Sampai dengan naik minibus carteran menuju Parakan Temanggung, anak-anak Masa Bimbingan Gunung Hutan Stapala mengira saya dan Gokong akan turut dalam pendakian Sumbing via Jalur Cepit. Sampai akhirnya, ketika di pertigaan di mana banyak bus arah Wonosobo dan Magelang berhenti menunggu penumpang, saya dan Gokong berpindah ke bus umum menuju Magelang. Mereka baru tahu jika kami berdua akan mendaki Sumbing via Kaliangkrik.

Sebenarnya ini adalah pendakian dadakan bagi saya. Tak ada rencana tuk mendaki pada minggu itu. Hanya saja ajakan dari Gokong tuk melewati Jalur Kaliangkrik sangatlah sulit tuk ditolak. Sekalian bisa menuntaskan hasrat tuk menggapai puncak sejati Gunung Sumbing. Maklum pada pendakian sebelumnya saya gagal sampai di Puncak Sejati Sumbing.

Di antara kami berdua, belum ada yang pernah mendaki Sumbing melalui jalur Kaliangkrik. Informasi yang kami dapat mengenai jalur Kaliangkrik ini pun cukup minim. Kali ini kami cuma berbekal print out tiga catper dari pendaki tahun-tahun sebelumnya. Mengapa kami tertarik dengan jalur ini? Tak lain karena foto-foto dan ilustrasi dari pendakian Bang Sugi Qtynk pada Desember 2010 silam.

“Nanti kita balapan ya, siapa yang sampai puncak duluan nanti dipijet tim yang kalah”, dengan jumawanya kami berdua menantang tim Cepit untuk balapan sampai ke puncak Sumbing. Hehehe, kejumawaan yang akan berakibat hukuman alam bagi kami berdua pada nantinya.

Menjelang tengah hari, kami berdua sampai di Rumah Gokong di Salaman, tepatnya di belakang terminal Salaman. Saya sempatkan tuk BAB di kali belakang rumahnya, juga mandi di mata air kecil tak jauh dari lokasi BAB saya, hehehe.

Tak di sangka, Ibunya Gokong membekali kami dengan dua bungkus nasi, tongseng kambing, sayur sawi dan dua ‘’besek” ikan pindang mentah, pisang goreng, keripik tempe, serta “unthuk cacing”. Mantabe’!

Pukul dua siang kami berangkat dengan minibus jurusan Magelang-Kaliangkrik, ongkosnya 5 ribu rupiah. Tak sampai 1 jam kami tiba di pasar Kaliangkrik. Selain via Salaman ada juga trayek bis lain dari Magelang menuju Kaliangkrik ini. Startnya sama dari terminal Magelang, ongkosnya pun juga sama, hanya saja jalurnya beda, tidak melewati Salaman melainkan melewati Bandongan.

Tujuan kami selanjutnya adalah dusun Butuh, desa Temanggung, Kecamatan kaliangkrik, kabupaten Magelang. Dusun Butuh adalah dusun terakhir pada jalur pendakian Kaliangkrik. Jika hari pasaran Legi atau Kliwon, dari pasar Kaliangkrik ke dusun Butuh -dan sebaliknya,  akan banyak ditemui mobil pick up pengangkut sayur dan orang yang akan pergi ke/pulang dari pasar, onkosnya 3 ribu sahaja. Mobil pick up arah turun mengangkut sayur, sedangkan yang naik mengangkut beras dan kelapa, hasil pertanian yang jarang ditemui di dataran tinggi. Karena hari itu bukan hari pasaran, maka kami putuskan tuk naik ojeg dengan biaya  12.500 per orang, melewati jalan aspal mulus yang masih baru, sambil menikmati pemandangan sepanjang jalan yang di dominasi hamparan sayur-mayur.

Sesampainya di dusun Butuh, motor ojeg kami tak jua berhenti, masih sahaja menderu, meliuk memasuki gang-gang kecil di samping rumah penduduk hingga akhirnya sampai di depan rumah Pak Kepala Dusun, tempat para pendaki biasa melaporkan diri. Kami harus menunggu beberapa saat karena sang empunya rumah sedang ada kerjabakti perbaikan jalan. Sambil menunggu, kami sempatkan tuk mengamati rumah-rumah sekeliling. Hampir semua rumah sudah permanen dari bahan bata dan semen, rata-rata bertingkat menyesuaikan kontur tanah yang miring. Menjulang gagah di ketinggian, mengingatkan pada kampung-kampung di Kathmandhu atau Tibet di kaki Himalaya yang sering kita lihat di gambar-gambar. Anak-anak kecil bermain di atas atap rumah yang kebanyakan berupa cor beton datar. Atap yang berfungsi ganda, sekaligus sekaligus tempat menjemur pakaian dan hasil bumi.

Dua gelas teh tawar panas, satu toples roti dan satu toples penuh keripik singkong disajikan oleh bu Kadus. Hawa dingin menusuk tulang yang dihasilkan oleh ketinggian 1700 mdpl memaksa kami menghabiskan setengah toples keripik dalam sekejap, hehehe. Untunglah Pak Kadus segera datang, dan kamipun berbincang sejenak sekaligus melakukan registrasi, cukup mencatatkan nama di buku tamu, tanpa dipungut biaya.

Pak Mukhsinun, kadus yang satu ini masih muda, muda umurnya juga masa jabatannya. Baru beberapa bulan dia menjabat posisi kadus Butuh. Dia memenangkan pemilihan umum yang diikuti sekitar 500 warga. Dengan bahasa jawa halus dia meladeni pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan. Satu hal yang dia wanti-wanti, kami nanti akan melewati percabangan jalur di mana para pendaki biasa tersesat, salah memilih jalur. Jalur yang benar adalah belok ke kiri.  Yang membuat kami tenang, katanya di atas nanti kami akan sering bertemu penduduk yang sedang mencari kayu bakar. Pagi dan sore hari adalah jadwal rutin para penduduk tuk mencari kayu bakar di atas gunung. Kami disarankan untuk bertanya kepada mereka.

Selesai pamitan, berangkatlah kami berdua memulai pendakian. Membelah dusun yang juga terbelah oleh sebuah sungai, melewati jalan berundak, berpapasan dengan anak-anak kecil yang sedang bermain sambil momong adiknya, berpapasan dengan ibu-ibu pencari kayu yang baru turun gunung dengan beban luar biasa berat (untuk ukuran kami) di punggungnya, berpapasan pula dengan motor-motor tangguh pengangkut pupuk.

Dusun yang tenang pikirku. Hawa dingin, suasana sepi, embikan ternak, dan gemericik air dalam pipa pralon mewarnai perjalanan kami. Sesekali terdengar dialog Jawa halus di antara penduduk dusun.

“Ayo! badhe tumut bapak mboten?” ajak seorang ayah kepada anak perempuan kecilnya yang saya duga berumur 3 tahun.

“Teng pundi?”

“Ngangkut rabuk teng kebun’’

‘’Mboten”, jawab sang anak halus.

Selepas rumah terakhir, kami memasuki jalanan batu berundak diantara ladang sayur penduduk. Satu jam kemudian barulah kami masuk ke hutan pinus, masih dengan jalanan batu berundak meski sesekali diselingi dengan jalan tanah dengan undakan dari kayu.

Dan benar saja, sepanjang jalan kami bertemu dengan penduduk yang baru naik maupun yang sudah turun  membawa hasil kayu dari hutan di gunung. Saking banyaknya penduduk yang kami temui, sampai-sampai kami bosan bertegur sapa dengan mereka, hehehe. Parah memang ini gunung, tiap hari pagi dan sore, penduduk berduyun-duyun mengeksploitasi kayu dari hutannya. Pantesan saja Gunung Sumbing gundul begini.

“Ndherek langkung Pak”.

“Monggo, badhe teng kawah mas?”

“Nggih”

 “Naming tiyang kalih mas?”

“Nggih Pak”.

Akhirnya jalan berundak berakhir pada ketinggian 2500 mdpl. Tidak jauh dari ujung undakan, terdapat gubuk kecil di kiri jalur. Inilah Pos I jalur Kaliangkrik. Enak juga ya, jalurnya berupa undak-undakan hingga setinggi ini, setinggi Alun-alun Surken (Surya Kencana, TN Gunung Gede-Pangrango). Tak sampai dua jam waktu yang kami habiskan untuk menempuh jalur dari dusun Butuh sampai ke Pos ini.

Kami sempatkan tuk membuka bekal yang disediakan ibunya Gokong. Makan besar kita sore itu, nasi tongseng kambing plus sayur sawi, ajib tenannn.

Selepas Pos I jalur mendatar memotong beberapa sungai dan punggungan. Jalurnya sangat jelas mengingat jalur ini adalah “jalan raya” bagi para pencari kayu bakar. Saat itu mulai gerimis, tapi kami nekat saja tak memakai ponco.

Melewati sungai kedua, ketika kami berhenti untuk sholat ashar, kami disambut hujan deras. Mau tak mau ponco harus dikeluarkan. Wow, sungguh indah pemandangannya, air terjun berundak tersaji indah setiap kali kami menyeberangi sungai. Ada satu air terjun besar yang kami lewati. Sayangnya kami malas tuk mengeluarkan kamera. Besok saja pas turun, pikir saya.

Meski indah, hujan yang disertai petir ini membawa konsekuensi lain, tak seorang pun pencari kayu yang kami temui sepanjang jalan dari pos I. Kami mulai was-was karena tak jua menemukan pertigaan yang dimaksud oleh pak Kadus. Punggungan demi punggungan kami lewati, sungai demi sungai kami sebrangi, air terjun nan indah kami lewati, hingga hujan mereda tetap saja tak ketemu itu namanya percabangan jalur ke kiri.

Pukul 16.00 kami sampai di percabangan jalur. Meski jalur kekirinya tak jelas, kami putuskan untuk mencobanya hingga akhirnya jalur menghilang, hehehe. Ini jelas bukan jalur ke Puncak Sumbing. Akan tetapi ketika melongok ke atas tersaji hamparan rumput menguning dengan semak-semak edelweiss menghiasi. Sungguh penggoda iman yang sempurna. Jadilah kami menerobos ilalang, naik terus mengikuti punggungan.

Ternyata oh ternyata, itu hanyalah fatamorgana. Padang rumput yang jika dipandang dari bawah seakan rata seperti lapangan bola, ketika kami hampiri tingginya mengalahkan tinggi kami berdua sehingga menyusahkan pergerakan kami. Wekeke, ketipuuuu!

Saya ngotot untuk terus naik, karena puncakan punggungan tinggal sedikit lagi (lagi-lagi ini mungkin juga fatamorgana, hehe). Tapi ajakan Gokong tuk kembali ke jalur pencari kayu dibawah akhirnya meluluhkanku. 30 menit terbuang begitu saja tuk mencoba jalur itu. Sambil istirahat di jalur semula, kami buka-buka lagi referensi dari catper pendakian terdahulu yang kami bawa. Salah satu catper mengisahkan bahwa mereka harus melambungi beberapa punggungan dan menyeberangi beberapa sungai. Diceritakan disitu bahwa mereka mendirikan camp dengan latar belakang gunung Sindoro. Hah, Sindoro?

Kesalahan berikutnya yang kami buat: mempercayai catper yang belum tentu kebenarannya. Mengingat dari tempat ini gunung Sindoro belum kelihatan maka kami putuskan tuk terus melambungi beberapa punggungan, mengejar penampakan sosok Gunung Sindoro. Satu pertigaan lagi kami lewati, ada jalur naik lurus mengikuti punggungan, hanya saja kali ini kami tidak mencobanya (ssst, jika memilih jalur ini sebenarnya bisa sampai ke kawah, hihihi), kami terus saja melambung ke punggungan berikutnya, menyeberangi sungai dan jurang. Jalurnya jelas? Mmm, sebenarnya jalurnya tidak sejelas jalur pendakian gunung pada umumnya, hanya saja jejak-jejak manusia masih sering kami temui.

Hari mulai gelap, senter kami keluarkan. Sial, senter Gokong gak bias nyala, untungnya saya bawa headlamp cadangan. Kali ini kami putuskan tuk naik mengikuti satu pungungan saja, berharap puncak Sumbing ada di ujung pandangan. Semak-semak kami terabas, jalur pendakian benar-benar sudah hilang. Di sinilah kami baru benar-benar yakin bahwa kami tersesat. Hello, kemana aja tadi? Hahaha… Bayangkan, pada awal pendakian kami tepat berada di lereng selatan Gunung Sumbing. Kini, kami berada di lereng timur. Begitu jauhnya kami melambung, wkwk.

Hanya satu alasan kami tuk terus naik waktu itu. Berharap tanah yang nampak di ujung itu adalah akhir dari punggungan, artinya itulah Puncak Sumbing. Sesekali kami teriakkan “STAPALA” keras-keras, berharap teman-teman yang mendaki dari jalur Cepit mendengarnya. Ya, saya memang yakin bahwa jalur Cepit berada di balik punggungan sebelah kanan kami.

Hari sudah larut, stamina sudah habis, altimeter menunjukkan ketinggian 3000 mdpl, kawah masih sekitar 200 meter lagi. Kami sebenarnya masih mau lanjut, akan tetapi tebing tinggi di depan kami adalah alasan yang kuat untuk menghentikan langkah.

Ok, hari ini kami menyerah! Didirikanlah tenda di bawah tebing. Agak ngeri juga karena dari penampakannya, tempat ini sepertinya adalah sarang hewan gunung. Tanah yang datar, cerukan yang melindungi dari hujan serta jerami kering di tanah yang tersusun rapi menandakan tempat ini sering disinggahi makhluk lain. Tapi apa boleh buat, mau tak mau kami harus ngecamp di situ, tak ada tanah datar lainnya.

Mental kami terpukul, tapi itu bukan alasan tuk langsung tidur. Acara camping ceria harus tetap berjalan, hehehe. Diterangi sinar bulan yang bercahya terang dan gulungan awan yang rata jauh di bawah sana dimulailah acara masak malam itu.

”Goreng ikan pindangnya kong!”

Satu insiden yang terjadi malam itu: “susu spirtus”. Gokong dengan cerobohnya merebus spirtus dicampur susu.

”Buehhh!!!” Seketika ia semburkan susu-spirtus keluar tenda begitu sadar yang dia minum adalah spirtus, bukan air, wkwkwk, mabok.

Yah, malam itu kami ngecamp di tempat antah barantah itu, In the middle of nowhere, di bawah tebing, pada ketinggian 3000 mdpl, disinari sinaran bulan nan terang. Samar-samar Gunung Merbabu dan gunung Merapi (lengkap dengan kepulan asapnya) terlihat di arah tenggara. Gunung Sindoronya? Hahaha, dasar catper sesat, sudah kami bela-belain melambung sejauh itupun sosok Gunung Sindoro tidak jua menampakkan batang hidungnya😛.

Sementara hamparan awan putih berkilauan diterpa sinar rembulan berada jauh di bawah sana. Indah, sungguh indah. Kamilah orang-orang di atas awan, The Highlander, hehehe, jumawa lagi.

GPS pada HP tidak bisa menangkap satelit, hanya Sms dari tim Cepit saja yang masuk ke HP saya, mengabarkan bahwa mereka (juga) tersesat🙂, tidak mencapai kawah dan akhirnya ngecamp di puncak sebelah barat kawah.

Pagi harinya setelah masak (lagi-lagi ikan pindang goreng, hehe) dan packing kami berdua berembuk sebentar tuk menentukan langkah selanjutnya. Cuaca di atas cerah-panas, namun gulungan awan hitam mulai merangkak naik dari dataran rendah. Itulah alasan kami tuk mengakhiri perjuangan, turun kembali ke Dusun Butuh. Huff, keputusan yang sulit, padahal tinggal dikit lagi ya, hikhikhik😦.

Dalam perjalanan turun kami menemukan jejak hewan besar di gunung itu. Tapak kaki dan kotorannya mirip kambing. Kemungkinan jejak rusa gunung. Kemungkinan juga hewan inilah yang mendiami tempat kami camp semalam. Waktu turun itulah kami bertemu denga para penduduk pencari kayu yang menunjukkan jalur-jalur mana saja yang bisa dilalui untuk menuju Puncak Sumbing. Hehehe, andai saja kemarin kami bertemu dengan satu saja pencari kayu😦. Air terjun indah yang terlihat kemarin sore sudah tidak ada lagi. Sungai-sungai sepanjang jalur ini ternyata hanya temporer saja, akan kembali kering jika tidak hujan.

Dan ternyata pertigaan misterius yang sering terlewat oleh para pendaki Jalur Kaliangkrik terletak pada sungai ke-enam dari pos I. Sungai yang dimaksud di sini adalah sungai yang kering maupun yang berair. Kebetulan saat itu sungainya berair semua karena sedang hujan.  Jalur yang benar berbelok ke kiri dan agak menanjak. Sedangkan jalur pencari kayunya lurus-datar-menyeberangi sungai. Memang tak ada petunjuk yang jelas di persimpangan jalur itu. Hanya saja ada beberapa coretan, vandalisme di batu-batu sungai yang bisa menjadi petunjuknya. Juga ada batang kayu yang ditancapkan sebagai penanda persimpangan jalur. Semoga saja kedepannya ada yang bikin penanda jalur yang jelas di tempat ini.

Tak butuh waktu lama bagi kami untuk sampai di dusun Butuh lagi. Menjelang siang hari kami dah sampai di perkampungan. Langsung saja kami naik mobil pick up menuju pasar Kaliangkrik. Berakhirlah pendakian kami kali itu. Kejumawaan yang harus ditebus dengan gagalnya menggapai puncak sejati Sumbing, hehehe. Boro-boro puncak sejati, kawahnya aja tidak sampai.

Catatan:

Tanggal 14 Maret 2011, Gokong mendaki seorang diri melalui jalur Kaliangkrik (jalur yang benar tentunya :D). Kali ini dia bisa menuntaskan hasratnya, menebus rasa penasaran akan jalur Kaliangkrik ini. Dari infonya, tak dibutuhkan waktu yang lama tuk menempuh jarak dari pertigaan “Sesat” di sungai hingga sampai ke kawah Sumbing. Tak lebih dari 3 jam.

Jalur Kaliangkrik ini akan berujung pada lembah savana indah yang diapit tebing tinggi di kanan kirinya. Jika mengikuti lembah ini maka akan sampai di kawah sumbing.

Dalam pendakian itu pulalah di menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa masih ada rusa yang tersisa di Gunung Sumbing. Alhamdulillah, semoga tetap terjaga kelestariannya.