Mellow adalah pagi hari, ketika cuaca cerah duduk di emperan rumah, dengan angin sepoi-sepoi menghembus. Sering saya alami dulu jika sekolah pulang pagi. Pernah juga saya alami beberapa waktu lalu saat berangkat kerja agak siangan. Rasanya seperti dejavu saja saat itu.

Mellow adalah ketika bangun dari tidur siang yang dihiasi mimpi, menatap keluar jendela yang terpapar sinar matahari sore. Saat ini jarang saya mengalaminya karena jarang banget tidur siang. Dan hari ini saya merasakannya.

Mellow adalah ketika mendengar suara adzan dzuhur atau ashar. Apalagi yang adzan adalah orang-orang tua langganan muadzin di masjid kampong saya atau di kampong sebelah. Suara adzannya sih biasa saja, kalah jauh dengan adzan di tivi-tivi, tapi entah mengapa begitu syahdu terdengar di telinga dan menyayat hati.

Mellow adalah ketika bepergian ke kota dan menginap di sana. Akan terasa saat maghrib menyapa. Sering saya alami saat menginap di rumah saudara di Jogja. Pernah juga saat pergi ke Solo saat daftar ulang UNS. Juga di kota-kota lainnya. Anehnya saat di Jakarta, saya tak pernah merasakan perasaan itu. Dan baru hari ini saya merasakannya.

Dan Super mellow adalah ketika semua kondisi di atas dikombinasikan dengan mengingat kenangan masa lalu. Teringat akan orang-orang yang kita cintai, baik yang masih hidup di kampong maupun yang sudah mendahului kita. Bener-bener mellow, bahkan kadang sampe mbrebes mili. Dan biasanya diakhiri dengan tarikan nafas panjang, diiringi dengan do’a kepada orang-orang yang dicintai.

Mellow adalah ketika saya menulis catatan ini. ” Ya Allah, ampunilah dosa saya, dosa ayah ibu saya, adik kakak saya, kakek nenek saya, keluarga saya, dan dosa orang-orang yang saya cintai. Lindungilah kami, berilah kami petunjuk dan syafaat-Mu ya Allah. Masukkanlah kami ke surga-Mu yang abadi ya Allah”.

-Pisangan Lama, 3 Juli 2011, 18.30-