Kami, Team Orienteering STAPALA (TOS) berangkat dengan target muluk: sapu bersih posisi 1-2-3 kategori umum. Saat pelepasan di depan poskopun yel-yelnya bukan lagi “Stapala Jaya”, melainkan “lima juta, yes”. Maklum, kami-kami saat ini lagi mata duitan, hehehe. Dengan menyabet juara 1 hingga 3, kami berharap bisa sedikit menyumbangkan dana tuk ekspedisi Elbrus Stapala. Selain itu, kami juga sudah haus gelar. Tahun ini TOS belum menyumbangkan piala ke posko. Terakhir kalinya kami juara di Kejuaraan Orienteering Sulfur Universitas Muhammadiyah Magelang tahun lalu.

MOC III 2011 diikuti oleh 56 team (37 team untuk kategori umum-mahasiswa dan 19 team untuk kategori pelajar). Team-team langganan juara dari kota Solo juga hadir. Ada om Furqon dari Brahmahardhika FKIP UNS, ada juga mas Yono dari Dinamik FT UMS, keduanya silih berganti menjuarai event2 Orienteering di Pulau jawa. Total hadiah yang diperebutkan Rp. 7.500.000.

Saat mengikuti technical meeting di kampus Budi Luhur, nyali kami sedikit terkikis: Indonesian Military Orienteering Team mengirimkan tiga tim ke MOC III kali ini. Dalam hati saya berujar: monggo mas-mas tentara, pialanya sekalian dibawa sekarang aja.

Ada juga sih bule pah-poh yang coba-coba ikut daftar, tapi kami yakin bule itu cuma sekedar numpang nampang saja, hahaha. Dan benar saja, saat hari lomba, si bule asal Swiss itu tak menampakkan batang hidungnya. Mungkin saja dia gak punya KTP, jadi gak lolos administrasi pendaftaran, hehehe.

Lomba Orienteering kali ini dilaksanakan di kampung Pasirawi, desa Leuwibatu, kecamatan Rumpin, kabupaten Bogor. Kalo dari peta sih lokasi lomba ini gak begitu jauh jaraknya dari Jakarta. Nyatanya kami harus menempuh waktu lebih dari tiga jam untuk sampai di lokasi. Rombongan harus memutar dulu melewati Parung-Ciseeng baru kemudian sampai di Rumpin. Namun yang paling bikin lama tak lain adalah akses jalan menuju desa Leuwibatu yang didominasi jalanan yang rusak parah. Sepanjang jalan perut kami dikocok oleh kondisi jalan aspal rusak dengan lubang-lubang menganga lebar. Salah satu peserta dari UMS Surakarta langsung muntah-muntah begitu sampai di tujuan🙂. Malam itu seluruh peserta diinapkan di gedung sekolah dasar Leuwibatu 6.

Lomba orienteering kali ini memakai metode score event, di mana juaranya ditentukan dari banyaknya nilai poin yang berhasil didapatkan. Ada 20 titik control poin, masing-masing titik poin memiliki nilai yang berbeda (mulai dari 50 s.d 250) dan setiap team bebas memilih jalur dan titik poin yang ingin diburunya.

Di setiap titik control, team harus mencatatkan diri dan menandai kartu control yang dibawanya dengan penanda berupa “punch”. Bentuknya mirip stapler kertas dengan paku-paku kecil di ujungnya. Punch ini akan memberi penanda yang khas, berbeda untuk tiap-tiap titik control, sehingga peserta tidak boleh salah dalam memberi tanda. Sering terjadi team memberi punch ke titik poin yang salah (salah kamar), biasanya karena salah dalam orientasi medan. Untuk kasus seperti ini maka nilai dari titik poin yang bersangkutan akan hangus.

Total nilai poin yang bisa diperoleh oleh sebuah team yang bisa menyapu bersih seluruh titik adalah 2100 poin. Jika ada team yang mempunyai nilai yang sama maka rangkingnya ditentukan oleh banyaknya titik yang berhasil didapatkan. Jika masih sama, maka akan dilihat waktu tempuh dari start hingga finishnya.

Oh iya, setiap team terdiri dari dua orang dan waktu yang diberikan kepada setiap team untuk mencari titik-titik poin itu adalah 3 jam 50 menit. Setiap keterlambatan satu menit akan dikenakan penalty berupa pemotongan nilai sebesar 100 poin, terlambat dua menit dipotong 200 poin, begitu seterusnya. Setiap keterlambatan dalam hitungan detik akan dibulatkan keatas. Misalkan terlambat 5 menit 2 detik akan dibulatkan menjadi 6 menit.

Jalannya Lomba

Lomba dimulai pukul delapan esok harinya (Minggu, 10 Juli 2011). Saat menerima peta lomba, kami optimis bisa sapu bersih semua poin. Bahkan setelah lomba berjalan separuh waktu, tim-tim Stapala (kecuali tim saya, hehe) masih sangat yakin bisa melakukannya. Kondisi medan lomba merupakan kombinasi dari perkampungan penduduk, sawah-ladang, sungai, dan perbukitan.

-pemanasan sebelum bertanding-

Dilihat dari petanya, perbedaan kontur tanahnya tidak terlalu besar. Artinya kami tidak harus berjibaku naik turun bukit yang terlalu terjal. Hanya saja musuh utama kami saat itu adalah cuaca yang sungguh sangat terik. Empat botol air mineral 600 ml yang team saya bawa habis pada pertengahan lomba sehingga kami harus refill air di pancuran air di pinggiran sungai.

Waktu dah hampir habis. Tim Stapala 1 (Gokong-Bowas) dan Stapala 2 (Samin-Kower) blom juga kelihatan dari garis finish. Tim saya sendiri sudah menyentuh garis finish jauh sebelum waktunya habis. Hanya saja, poin yang kami dapatkan juga “seadanya”, hehehe. Menit-menit terakhir sebelum waktu habis, masing2 tim tsb akhirnya nongol di ujung jalan, lari tergopoh-gopo. Nampaklah wajah-wajah lelah menuju garis finish. Teriknya matahari siang itu menjadi tantangan tersendiri bagi semua team.

Dan waktunya pengumuman hasil Lomba, inilah hasil lombanya untuk kategori umum:

  1.  Jaya (TNI-3), nilai 1960 (dari 2100 maksimal nilai yg bisa diperoleh)
  2. AM (Talaseta FE Universitas Pancasila Jakarta): 1770
  3. DC (Dinamik FT Universitas Muhammadiyah Surakarta): 1740
  4. Stapala 1 (STAN Jakarta): 1750 (kena penalti, terlambat 15 detik, pemotongan nilai: 100, nilai akhir: 1650)
  5. Stapala 2: 1640
  6. Putih (TNI-2): 1610
  7. BMH (Brahmahardhika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surakarta Solo): 1580
  8. Merah (TNI-1): 1430
  9. MEPA (Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surakarta Solo): 1330
  10. Stapala 3: 1330 (team saya nih gan, :malu)

Dan wajah-wajah kecewa langsung terpancar dari anak- stapala. Cemberut kabeh. “15 detik coy!”, “Coba kita dapatkan satu poin lagi!”, “wuasu telat limolas detik tok!”, dan sumpah serapah lain meluncur dari mulut kami.

Tim Stapala sempat mengajukan protes resmi ke panitia (mbayar 300ewu) mengingat saat pencatatan di garis finish tim Stapala-1 sempat tertahan beberapa saat ketika harus antri di belakang tim2 lain. Diyakini proses antri ini memakan waktu lebih dari 15 detik. Namun akhirnya protes kita ditolak panitia karena bukti yang tidak kuat.

Well, banyak pelajaran dari lomba kali ini. Berikut beberapa evaluasinya:

  1. Waktu sangat berharga, 15 detik yang berharga 1 juta. Andaikan team kami gak kebanyakan jalan kaki, andaikan kami berlari sedikit lebih cepat, andaikan kami tak terlalu lama istirahat, andai Bowas gak menginjak kotoran manusia di sungai dan lama membersihkannya, andaikan kami lebih cepat mencatatkan diri, dan andai-andai lainnya. Kami Cuma bisa mengandai…
  2. Memperpendek nama team. Diyakini proses menulis kata STAPALA 1 dalam setiap poin control memakan waktu lebih dari 15 detik. Katakanlah untuk menulis 8 karakter itu diperlukan waktu 5 detik, jika dikalkulasikan untuk 20 titik control bisa lebih dari satu menit. Kami juga melihat nama2 team unggulan yg cuma terdiri dari 2 atau 3 huruf saja macam DC (Dinamik) dan BMH (Brahmahardhika). Sepertinya mereka jauh lebih berpengalaman dalam menghemat waktu (yaiyalah). Memang pada tahun 2006 dalam event Menpora Orienteering Championship pernah kejadian ada dua team yang memperoleh poin yang sama (poin tertinggi dalam lomba, berhasil sapu bersih semua poin) dengan waktu tempuh yang sama. Akhirnya dilakukan tanding ulang untuk menentukan juaranya. Disepakati nama tim Stapala untuk kedepannya adalah TOS (Team Orienteering Stapala).
  3. Minta bliin bph stop watch, mengingat tim stapala tidak mengatur waktu dengan baik. Bahkan detail waktu start dan finish pun atletnya tidak tahu.
  4. Meningkatkan fungsi official. Official yang harus aktif berkomunikasi dengan panitia, menyiapkan segala keperluan atlet, dan yang gak kalah penting mendokumentasikan momen-momen penting macam saat start dan finish.
  5. Team yang juara adalah team yang kuat terus menerus berlari sepanjang lomba selama hampir 4 jam. Banyak peserta yang mengalami kram otot ditengah lomba. TOS pun sedikit keteteran fisik dalam lomba ini karena kurangnya latihan endurance.
  6. Tidak boleh minder lagi, buktinya  2 team TOS mengungguli 2 tim TNI dan tim langganan juara dari Brahmahardhika FKIP UNS.
Kesan dan saran untuk penyelenggaraan lomba:
  1. Pencatatan waktu finish hendaknya dilakukan oleh lebih dari satu orang dengan alat pencatat yang mempunyai akurasi tinggi. Saat lomba kemarin, posisi pencatat tidak tepat berada di samping garis finis, melainkan berada di teras SD dan tergabung dengan meja penyerahan atribut lomba. juri pencatat waktu hanya terdiri dari satu orang dan mencatat secara manual dengan melihat waktu di layar laptop. Masalah timbul karena banyak team yang datang secara bersamaan, sehingga harus antri di meja pencatatan, menunggu team di depannya selesai menyerahkan atribut lomba.
  2. Lomba terkesan garing. Mungkin karena kurang dikemas bersama dengan event lainnya. Minggu pagi jam 07.30 peserta langsung diperintahkan untuk bersiap-siap start memulai lomba. Tidak ada ceremonial khusus seperti pembukaan lomba, sambutan2 dan sebagainya mengingat pembukaan event dilaksanakan di kampus saat technical meeting.  Begitu finish, peserta dibiarkan menunggu penghitungan nilai. Dan event diakhiri dengan pengumuman juara dan penyerahan juara, that’s all. Memang ada sih pembagian door prize, akan tetapi masih terkesan garing karena sekedar mengambil undian kemudian membagikan hadiahnya.
  3. Kalau bisa hadiahnya dinaikin dwong, hehehe. Jumlah team yang bertanding tentunya akan terkatrol dengan besarnya jumlah hadiah.
  4. Apresiasi untuk panitia yang memberikan sertifikat lomba kepada semua peserta.
Oh iya, satu hal yang menarik dari kebiasaan penduduk kampung di sekitar lokasi lomba. Tiap pagi dan sore hari penduduk berbondong-bondong menuju sungai yang membelah kampung dengan berbekal handuk, peralatan mandi dan cucian kotor. Seluruh kegiatan MCK terpusat di sungai yang lumayan besar itu.
Menyedihkan sekali melihat kesadaran penduduk yang masih rendah untuk menjaga kesehatan. Penduduk dengan entengnya buang hajat di sungai, padahal di saat yang bersamaan, sebagian penduduk yang lain dengan asyiknya mandi dan mencuci pakaian di bagian sungai yang lain. Jika dilihat dari kondisi rumah-rumah penduduk yang sudah permanen semua, seharusnya masing-masing rumah sudah dilengkapi kamar mandi dan WC. Tapi kenyataannya bertolak belakang, mayoritas rumah tidak punya kamar mandi dan WC. So sad😦

Demikian laporan pandangan mata dari MOC III 2011. Ditunggu penyelenggaraan lomba yang lebih baik tahun depan.

Kita bisa juara lagi!!! TOS jaya!