Ayemnya Petani

Ibukku menggarap sebidang tanah warisan leluhur. Musim tanam kedua tahun ini tanah itu ditanami kacang tanah. Biaya operasional dari mulai mengolah tanah, membeli bibit, menanam, memupuk, menyiangi hingga memanen habis lebih dari satu juta. Terus hasil panennya? Hehehe, setelah dijual, kacang tanahnya laku tak lebih dari lima ratus ribu. Rugi dwong?

“Buk, ngapain capek-capek menggarap ladang? Toh hasilnya gak bisa menutup biaya operasionalnya”. Jawabannya cuma satu: “Ayem neh le”

Hehehe, jawaban sederhana yang tidak bisa terukur dengan hitung-hitungan matematika ataupun akuntansi.

Bisa menengok ladang sehabis pulang dari sekolah, melihat tanamannya tumbuh subur ijo royo-royo, tetangga-tetangga pun bisa terbantu dengan menjadi buruh harian. Mungkin itu yang membuat hati ayem tentrem.

Ayemnya Peternak Sapi

Bapak saya memelihara seekor sapi betina dengan seekor anaknya. Tiap hari dia harus menyediakan seikat besar rumput gajah untuk makanan kedua sapi tersebut. Sepetak ladang di ujung kampung memang ditanami rumput gajah, tapi sering pula rumput makanan sapinya harus dibeli di pasar. Tiap hari pula dia harus meramu minuman penambah nutrisi, paling sering dengan campuran air-garam dan dedak/bekatul.

Kalau dihitung-hitung lagi, biaya beli sapi ditambah biaya pemeliharaan akan lebih besar jika dibandingkan dengan harga sapi jika dijualnya. Lagi-lagi rugi secara financial. Akan tetapi bapak tetap saja mau memelihara sapi. Boleh dibilang ini semacam hobby bagi dia. Ya, seperti hobby yang lain, memelihara sapi mendatangkan kepuasan tersendiri. Jangan dilihat dari cost-nya karena hobby pasti memakan biaya yang tidak sedikit. Tapi puasnya itu loh, rasa letihnya akan hilang setiap melihat pertumbuhan ternak peliharaannya, melihat ternaknya berkembang biak. Juga ketika ternaknya mendatangkan produk sampingan berupa pupuk kandang yang lebih ramah terhadap tanah dibanding pupuk kimia.

Ayemnya Perokok

Seorang bapak yang saya temui di sebuah rumah sakit bertutur tentang kebiasaannya merokok. Saat duitnya terbatas, sering dia lebih memilih untuk membeli rokok dari pada membeli makan. Rasa asam di mulutnya mengalahkan rasa lapar di perutnya.

“Lambene kecut nek ra udud”

Diapun sadar rokok bikin tenggorokannya meradang, juga jadi penyebab penyakit batuknya yang sering kambuh.

“Lha yo piye yo mas. Nek ngrokok kie pikiran iso lego. Iso ngilangke pikiran sing ra karu-karuan.”

Ya begitulah, lagi-lagi rasionalisasi mengalahkan segalanya. Pokoke sing penting adem ayem tentrem.

Jadi ingat dengan kemasan klembak merk Pak Ayem. Seorang bapak duduk di bawah pohon sambil merokok, menikmati suasana. Nyaman sekali keknya si Bapak itu. Klembak adalah semacam bumbu khusus yang dipakai untuk membuat rokok lintingan. Dipadu dengan tembakau, cengkeh (dan kadang-kadang kemenyan) kemudian dibungkus dengan kertas sigaret jadilah sebatang rokok lintingan nan nikmat. Embah-embah di kampungku sangat gemar memakai klembak merk ini. Waktu kecil saya sering belajar membuat rokok lintingan untuk kemudian dihisap oleh kakek saya. Lintingan yg acak adul, hehehe.