Bagi sebagian orang, krisis Ekonomi Global tahun 2009 sudah berlalu. Indonesia termasuk negara yang ikut terseret krisis tersebut. Kondisi ekonomi bangsa ini kolaps mengikuti beberapa negara tetangga. Hanya saja negeri ini termasuk salah satu negara yang dengan cepat pulih dari keterpurukan.

Hal itulah yang menjadi senjata bagi para incumbent republik ini untuk berkampanye. Bahwa mereka berhasil mencegah Indonesia jatuh untuk yang kedua kalinya ke dalam krisis moneter yang kronis.

Sementara itu, di kota satelit, 15 km dari pusat pemerintahan negara, deretan gudang tampak lengang. Gudang-gudang itu terbengkalai semenjak tutupnya pabrik-pabrik di kawasan itu.

Masuk ke kawasan pemukiman, nampak warung-warung makan yang tak buka lagi. Sudah jamak pula ditemui rumah kontrakan dan kamar kost yang kosong tak berpenghuni meskipun harganya dah dibanting hingga remuk.

Dan yang paling menjadi korban dari krisis global itu tak lain adalah para pekerja kontrak. Dari sekian banyak pekerja kontrak, Budi termasuk salah satu yang beruntung. Dua kali pindah kerja dalam dua tahun, kini dia bekerja di sebuah pabrik pvc. Penghasilannya tak seberapa, tapi cukup menolong bagi financial keluarganya yang kembang kempis. Istrinya dia tinggal di rumah orangtuanya di Jawa semenjak hamil tua.

Untuk menghemat biaya, dia kost di daerah Bantar Gebang, sementara tempat kerjanya berada di Bekasi Timur. Jarak yang lumayan jauh, apalagi dia ditempuh dengan bersepeda tiap harinya. Hal itu terpaksa dia pilih karena harga kost di Bantar Gebang jauh lebih murah.

Sementara itu Yanto tak seberuntung Budi. Dia harus balik kampung dengan memboyong seluruh keluarganya. Beberapa bulan lalu dia di-PHK oleh sebuah perusahaan garmen. Sempat mencoba tuk bertahan hidup dengan sedikit tabungan yang ia punya sambil berusaha mencari pekerjaan baru, akhirnya dia memilih kembali ke kampung. Tabungan dah ludes, sementara pekerjaan tak jua ia dapatkan. Pertimbangannya, di kampung biaya hidup jauh lebih murah, selain itu dia juga bisa menjadi buruh tani harian.

Ada banyak Yanto-Yanto lain di kampung saya. Mereka terpaksa pulang kembali ke kampung setelah kalah bertarung dengan kejamnya ibu kota dan kota-kota satelit disekitarnya. Mereka kini hidup dari kerja buruh serabutan di sawah-ladang. Padahal tahun-tahun sebelumnya mereka selalu tampak dengan hidup cukupnya. Setidaknya nampak saat lebaran tiba. Ketika mereka pulang mudik dengan berbalut kemewahan busana yang disandangnya, juga dengan banyaknya oleh-oleh untuk keluarganya.

Sementara itu di puat negara, Jakarta, pemerintah masih saja menggemborkan data statistika yang entah benar atau tidak keakuratannya. Bahwa pengangguran berkurang sekian juta, kemiskinan berkurang sekian puluh juta, pertumbuhan ekonomi sekian persen, bla bla bla…