Sabtu lalu saya ikut latihan atlet Ekspedisi Elbrus Stapala di bukit Senayan yang telah memasuki fase speed. Sekedar nimbrung sih, mengingat saya sudah mundur dari seleksi atlet beberapa minggu sebelumnya.

Maghrib berkumandang ketika kami selesaikan latihan bagian pertama. Latihan akan dilanjutkan setelah buka puasa dan sholat maghrib di Masjid Al Bina, tepat di sebelah komplek bukit itu.

Jamaah pertama sudah selesai saat saya masuk ke dalam Masjid Al Bina petang itu. Langsung saja saya ikuti jamaah baru yang sudah siap. Nampak seorang pemuda tampil sebagai imam. Penampilannya cukup menarik perhatian saya. Rambutnya panjang dan digimbal; memakai celana kargo loreng dengan banyak saku menempel; kaos oblong hitam dengan sablon menghiasi bagian belakang kaosnya.

Pede amat ini orang, bisik saya dalam hati. Tapi begitu dia mulai membaca Al Fatihah, baru saya tahu bacaannya sungguh bagus, makhrojnya mantab. Kekaguman saya tak berhenti di situ. Selesai Al Fatihah dia membaca surat Ar Rahman dari ayat pertama hingga ayat 13 dengan fasihnya. Sementara di rokaat kedua dia baca surat Al Jumu’ah ayat 9 sampai 11, masih dengan makhrojul huruf yang baik sekali.

Sungguh tak kuduga, dibalik penampilannya yang nyeleneh itu tersimpan hafalan Qur’an yang bagus. Surat Ar Rahman dan Al Jumu’ah, dua surat yang saya sendiri belum bisa menghafalnya….(:maluuu)