Sebut Saja namanya Jimi, dan memang begitu dia memperkenalkan namanya kepada saya. Saat itu saya sedang berada di ruang tunggu F5 Bandara Soekarno-Hatta untuk perjalanan menuju Jogja, Sabtu tanggal 30 Juni 2011 pukul 13.00, ketika seorang ibu menghampiri saya. Dia minta tolong untuk mengeraskan volume HPnya agarlebih jelas kedengaran ringtone-nya saat ada telepon masuk.

Dari situ obrolan mengalir di antara kami. Saya tanyakan asal dan tujuannya. Ternyata dia juga akan ke Jogja, satu penerbangan pula dengan saya, GA212 pukul 14.00 nanti. Tak disangka, dia berasal dari Gunungkidul, sama dengan saya. Tak disangka pula dia adalah seorang TKW di Arab Saudi.

Wah, mumpung lagi hot-hotnya kasus Ruyati dan Dasem, saya berondong saja ibu itu dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kondisi di Arab sana. Berikut ini petikan “wawancara” saya dengan mbak Jimi.

Sudah lama kerja di Arab mBak?

Ini sudah dua tahun mas, mangkanya pingin pulang. Sebenarnya majikan saya memohon-mohon agar saya tinggal lebih lama lagi, paling nggak sampai setelah lebaran nanti. Tapi saya ngotot untuk pulang, padahal saya ditawari gaji dua kali lipat dan akan dibelikan HP lho mas. Saya menolaknya mas, saya pingin pulang aja.

Dah fasih bahasa Arab dong mbak?

Lumayan mas, ini kan yang kedua kalinya saya kerja di Arab. Tahun 2009 saya pernah setahun di Sana. Saya tinggal bersama majikan di kota Abaha, daerahnya persis kaya Gunungkidul, masih ada pohon-pohonnya, tapi susah air. Air aja beli di sana mas. Kalo di Mekah daerahnya gak ada pohon sama sekali, gunung semua. Harusnya kalo saya mau tinggal sampai lebaran nanti saya mo diajak ke Mekah lagi. Ramadhan lalu saya diajak ke Mekah. Banyak ketemu orang Indonesia di Mekah mas. Ini tadi saja, satu pesawat isinya oraang Indonesia semua, habis umroh.

Wah majikannya baik ya mbak?

Iya, baik tapi pelit mas, kalo belanja ini itu harus hemat.  Majikan saya itu hutangnya banyak mas. Dia seorang guru, anaknya sepuluh, istrinya hampir tiap tahun melahirkan. Ina aja kemarin baru pulang dari rumah sakit, habis melahirkan.

Anaknya ada yang menjadi polisi di Mekah. Dia kenal dengan orang-orang Indonesia di sana. Suka makanan Indonesia terutama sambel. Mangkanya kalo pulang ke Abaha dia minta saya masak sambel yang banyak.

Dia bilang saya bisa masak, mangkanya lebaran ini saya dilarang pulang, disuruh masak karena semua keluarganya akan pulang.

Disana itu mas kalo masak paling-paling cuma adonan tepung dikasih garam lalu dipanggang. Masak daging pun cuma dikasih garam dan paprika. Daging direbus dikasih garam, itu tok. Air rebusan dagingnya digunakan untuk masak nasi, mangkanya nasinya berlemak.

Istrinya saya ajarin bikin sambel, masak sayur terong, buncis, kacang panjang disambelin. Saya ajak belanja ke supermarket mas, tak beliin micin yang bungkus besar 2 kg. Saya bilang, kalo masak pakai ini, bikin enak. Keluarganya suka masakan saya mas.

(Dalam hati saya berkata, wah ngajarin yang gak bener nih ibu. Masak pakai micin yang banyak, bikin ketagihan keluarga itu)

Gajinya berapa mbak kalau kerja di sana?

Dikit mas, 800 real. Apalagi sekarang real lagi turun. Kalo majikannya baik bisa dikasih 900 real sebulan. Yang mahal kalo yang gak punya visa mas, bisa sampai 1.500 real.

(kok yang tanpa visa malah digaji lebih mahal ya?)

Kalo sopir di sana gajinya berapa mbak?

Sopir susah di sana mas, Cuma 1000 real, itu pun harus nanggung biaya hidup sendiri. Kalau kaya saya kan makan dan tempat tinggal ikut majikan, kalau sopir enggak mas.

Banyak sopir yang dari Indonesia mbak?

Dikit mas, kebanyakan dari Pakistan. Kalau pembantu paling banyak dari Jawa Barat dan NTB. Kayak mbak tadi mas, dia dari NTB, satu pesawat dengan saya tadi. Masih lama dia, terbang lagi jam 6 (jam 18.00) nanti. Yang dari Jogja cuma saya sendiri mas. Ada juga yang dari Filipina, Bangladesh dan Somalia. Filipina juga lagi distop sekarang mas, sama kaya Indonesia.

Mbak pakai Jilbab di sana? (saat itu mBak Jimi tidak Berjilbab)

Wah semua harus berjilbab di sana mas. Jilbabnya besar-besar. Saya malah suruh pakai burqa sama majikan perempuan saya.Tapi saya gak mau pakai burqa, nanti nabrak-nabrak. Jilbab besar itu saja sering bikin saya kesandung mas.

Pakaian saya yang satu gulung besar saya buang di Bandara Bahrain saat transit tadi. Gak betah saya mas.

(weleh-weleh)

Yang dari Filipina juga harus berjilbab mbak?

Semuanya mas, gak Cuma yang muslim saja. Di sana itu kalau yang wanita itu takutnya minta ampun kalau lihat laki-laki, kaya lihat hantu mas. Tidak boleh liat sama sekali. Majikan perempuan saya apalagi. Pernah kan ada tukang dari Pakistan sedang memperbaiki pintu di rumah. Terus tukang itu kan nggoda saya mas, bilang “haiii”. Nah, majikan perempuan saya langsung menyuruh saya masuk, semua lubang di pintu ditutup sama dia dengan koran, biar gak bisa lihat si tukang itu lagi. Pokoknya kaya lihat hantu mas, takutnya minta ampun. Perempuan gak boleh kerja di luar, pokoknya kerjaannya Cuma di dapur dan melahirkan aja. Kayak majikan saya itu, tiap tahun melahirkan, rumahnya ramainya minta ampun.

Kalau yang laki-laki sebaliknya mas, kalau lihat perempuan kayak kambing yang diiket terus liat kambing betina. Laki-laki di sana bejat semua mas. Sebejat-bejatnya orang Indonesia masih bejat orang sana mas.

Jangan kira orang-orang di sana alim semua lho mas. Banyak yang gak solat, banyak yang gak puasa. Majikan saya aja sering gak puasa. Kalo saya Tanya kenapa gak puasa? Jawabnya iya nanti saya puasa. Masak puasa-puasa malah suruh bikinin makan.

Ada keinginan mo balik lagi ke Arab mbak?

Enggak mas, mo dirumah saja. Anak saya kan dah lulus sekolah semua. Yang paling kecil lulus tahun ini. Katanya mo ke Malaysia ikut sama kakak saya. Kakak saya dah lama di Malaysia, sudah sukses di sana. Tahun lalu dia pulang ke Indonesia. Katanya dia bisa bantu siapa saja yang mau kerja di sana. Berapapun jumlahnya dia bisa masukkan. Makanya anak saya mau ikut dia saja.

Obrolan kami terhenti pukul 13.50, saat announcer memanggil para penumpang untuk segera masuk ke pesawat.