Pernah lihat fenomena rumah makan yang begitu ramai hingga harus antri?

Apa coba kunci sukses utama suatu rumah makan hingga pembelinya bejibun seperti itu?

Kalau dari analisis orang awam macam saya ini, kunci sukses yang pertama pasti karena makanannya enak, jadi kualitas adalah nomer wahid. Nah yang akan saya bahas lebih lanjut di sini adalah kunci sukses nomer dua, yakni marketing. Rumah makan dengan rasa se”maknyus” apapun pasti tak akan dilirik pembeli jika tak ada yang tahu bahwa makanan di rumah makan itu rasanya super wenak.

Dari pengamatan saya, usaha yang ramai akan terus bertambah ramai berkali lipat disebabkan karena “getok tular” para pembelinya. Para pembeli biasanya akan tergiur ikut membeli suatu produk karena ajakan atau anjuran orang lain, entah itu ajakan teman, atau karena membaca artikel testimoni di enternet.

Masalahnya, bagaimana cara mengenalkan produk baru kepada calon pembeli? Cara-cara “mengelabuhi” calon pembeli sebenarnya bisa ditempuh. Memasang testimoni ”palsu” di internet atau memajang mobil dan motor “pajangan” di tempat parkir rumah makan bisa menjadi contoh cara instan menggaet pelanggan.

Cara yang lainnya adalah dengan promo melalui social media. Meskipun harus bersabar, tapi efeknya sungguh luar biasa. Jika berhasil menggaet pelanggan setia, maka melalui jalur socmed itu juga pelanggan setia tadi akan menjadi sales sukarela bagi produk kita. Dia akan mensuggest teman-temannya untuk ikut mencoba, begitu seterusnya dan akan berefek bola salju.

Memang awal usaha menjadi kuncinya.

Pemandangan menarik di stasiun Jatinegara saat mudik lebaran kemarin mungkin bisa jadi acuan.

Seorang perempuan muda menjajakan permen “Sugus” dalam kemasan tupperware kepada para pemudik di ruang tunggu stasiun. Satu jam pertama tak ada yang membelinya. Tapi anehnya, begitu dia berhasil menjual dua kemasan permen ke seorang ibu dan seorang anak, maka selanjutnya dia mudah saja menghabiskan dagangannya dalam waktu kurang dari setengah jam berikutnya.

Ternyata calon pembelinya awalnya ragu untuk membeli produk yang dijualnya. Tapi begitu ada beberapa pembeli lain yang melakukan transaksi, maka calon pembeli yang ragu tersebut ikut-ikutan membelinya.