Melatih Tendangan Kaki Kiri

14 Comments

Aneh memang ya, kekuatan tangan dan kaki kita jauh berbeda antara yang kanan dan yang kiri.

Aneh juga, di antara kita ada orang yang kidal, kaki atau tangan kirinya lebih kuat dan aktif dari kaki/tangan kanannya. Kidal itu bawaan, tapi bukan berarti tak bisa dilatih.

Teman kantorku bertangan kidal, tapi tak berarti ia makan dengan tangan kiri. Bermain pingpong dan menulis dia canggih menggunakan tangan kiri. Tapi jika makan, ia paksakan dengan tangan kanan, dan itu sudah biasa bagi dia.

Waktu SD, temanku yang patah tangan kanannya dan harus digips, akhirnya bisa menulis dengan tangan kiri setelah dipaksa.

Saudara sepupuku, Mas Nur, bisa jago berpingpong ria dengan tangan kiri setelah tangan kanannya bengkok cedera waktu SMP.

Saya sendiri juga intens melatih kaki kiri saya agar bisa menendang bola dengan keras. Sejak SMP saya mulai melatihnya. Dan saya berhasil, tendangan kaki kiri saya hampir sekeras tendangan kaki kanan saya. Setidaknya, saya tak perlu berpusing ria mencari posisi menendang kaki kanan saat bola enak ditendang oleh si kaki kiri.

Coba lihat Ryan Giggs, Arjen Robben, Atau Arif “Keceng” Suyono yang kemampuan kaki kanan dan kirinya begitu timpang. Mereka kesulitan menendang jika bola tidak tepat di dekat kaki terkuatnya (Giggs dan Robben kidal, Keceng kaki kirinya “mati”). Pernah lihatkan Giggs gagal menceploskan bola matang dengan kaki kanan di depan gawang yang sudah kosong melompong ditinggal kipernya.

Butuh waktu yang lama memang untuk bisa melatih kaki kiri saya agar menyamai kekuatan tendangan kaki kanan. Saya baru menyadari tendangan kaki kiri saya kuat saat saya kuliah.

Kuncinya ketekunan berlatih.

Stress Karena Kerjaan, Coba Selesaikan Dulu “Gundhik”nya?

Leave a comment

Kerjaan menumpuk, seakan tak ada habisnya? Bikin stress tentunya. Bagaimana solusinya? Berikut tips dan trik mengatasi stress karena bejibunnya kerjaan:

  1. Relaks dan enjoy saja
  2. Bikin Prioritas, pilah-pilah kerjaan berdasarkan kategorinya.

Ada dua kategori utama kerjaan yang bisa menjadi penyebab stress : berdasarkan deadline dan berdasarkan berat-ringannya pekerjaan. Kerjaan-kerjaan dengan deadine mepet adalah biang stress. Kerjakan dulu kerjaan semacam ini.

Kategori kedua adalah berat-ringannya kerjaan. Berat ringan di sini adalah secara beban mental. Ada kalanya pekerjaan mudah terasa begitu membebani mental karena berasal dari big boss atau clien utama kantor. Jika ingin bebas dari stress, pastikan selesaikan lebih dulu kerjaan tersebut. Dijamin, beban akan hilang, pekerjaan yang menumpuk akan terasa berkurang banyak dan terasa plong jika “gundhik”nya dah diatasi. “Gundhik” adalah istilah untuk raja rayap yang bertubuh besar dan mengerikan.

  1. Yang terakhir dan paling penting, jangan tunda lagi tuk segera mengerjakan pekerjaan kita. Menunda-nunda pekerjaan hanya akan mengatasi masalah sementara saja. Menunda pekerjaan berarti menabung stress. Berat di akhir.

Tetangga Akhirat

Leave a comment

Ini kisah nyata dari keluarga saya di Gunungkidul sana.

Jika umur sudah kepala tujuh, maka sudah waktunyalah untuk meninggalkan dunia hitam. Maksudnya rambut hitamnya berubah menjadi uban semua, hahaha :P. Begitu pula untuk tindak-tanduknya, istilahnya sudah bau tanah (ups, maaf), saatnya banyak bertobat dan rajin beribadah. Beruntunglah bagi orang-orang yang diberi tanda-tanda kiamat kecil (kematian): umur sudah lebih dari 70, sering sakit-sakitan, punggung dah bungkuk, kerut di wajah, rambut memutih, … (apalagi ya?). Jika tanda-tanda itu telah nampak, berarti sisa hidup selanjutnya adalah bonus yang harus digunakan sebaik-baiknya.

Sudah menjadi kebiasaan di masyarakat daerah saya, jika umur seseorang sudah melebihi tujuh dasawarsa, maka keluarganya akan segera membuatkan rumah masa depan baginya. Bukannya ingin mendahului takdir, tapi kondisi alam yang memaksa harus demikian. Tanah pekuburan di daerah saya umumnya berada di lereng-lereng gunung dengan tanah berbatu cadas. Cukup sulit bagi penggali kubur untuk membuat “lubang” secara instan.

Nah dari situlah cerita ini berawal. Saat itu kakek dan nenek saya yang umurnya sudah mendekati 80 tahun dibuatkan rumah masa depan di areal pemakaman pinggiran desa oleh paman-paman saya. Pembuatan kuburan ini  didengar oleh salah satu adik dari kakek saya, mbah Wongso. Dia menyambangi rumah kakek untuk menanyakan langsung.

“Kang, kowe ojo gawe omah nang Mbrojo (nama dusun tempat pemakaman berada)(Kang, kamu jangan bikin kuburan di Mbrojo)”, kata mbah Wongso.

“Lha kepiye to nok, lha wes dadi je (Gimana to dik, sudah terlanjur ini)”, jawab kakek saya.

“Aku kan wes gawe sarean nang Ponjong (nama dusun tempat pemakaman yang lain) Kang, mbok kowe yo gawe nang kono. Galo isih ono panggon cerak nggonaku (Aku kan sudah bikin kuburan di Ponjong, mbok kamu juga bikin di sana, itu masih ada tempatnya di dekat punya saya”

“Kan ora kudu jejer to nok! (Kan gak harus bersebelahan dik!)”

“Ora ngono Kang, nek iso jejer, mengko nek aku mati kan aku ono kancane ngomong (Bukan begitu Kang, kalau bisa sebelahan, nanti kalau mati, saya ada temen buat ngobrol”. (GUBRAKKK!!!)

He he he, ada-ada aja simbahku itu. Beliau membayangkan kalau di alam kubur nanti, orang-orang yang dimakamkan disekitarnya akan menjadi tetangga layaknya hidup di dunia :).

Cerita lain yang hampir sama terjadi di Jogja ketika seorang Bali yang tinggal di Jogja mewanti-wanti keluarganya. Dia berpesan, kelak kalau dirinya meninggal harus dimakamkan di Bali sono, jangan sampai dimakamkan di Jogja. Alasannya, dia takut gak ada yang bisa diajak ngomong bahasa Bali, wehehehe