Aneh memang ya, kekuatan tangan dan kaki kita jauh berbeda antara yang kanan dan yang kiri.

Aneh juga, di antara kita ada orang yang kidal, kaki atau tangan kirinya lebih kuat dan aktif dari kaki/tangan kanannya. Kidal itu bawaan, tapi bukan berarti tak bisa dilatih.

Teman kantorku bertangan kidal, tapi tak berarti ia makan dengan tangan kiri. Bermain pingpong dan menulis dia canggih menggunakan tangan kiri. Tapi jika makan, ia paksakan dengan tangan kanan, dan itu sudah biasa bagi dia.

Waktu SD, temanku yang patah tangan kanannya dan harus digips, akhirnya bisa menulis dengan tangan kiri setelah dipaksa.

Saudara sepupuku, Mas Nur, bisa jago berpingpong ria dengan tangan kiri setelah tangan kanannya bengkok cedera waktu SMP.

Saya sendiri juga intens melatih kaki kiri saya agar bisa menendang bola dengan keras. Sejak SMP saya mulai melatihnya. Dan saya berhasil, tendangan kaki kiri saya hampir sekeras tendangan kaki kanan saya. Setidaknya, saya tak perlu berpusing ria mencari posisi menendang kaki kanan saat bola enak ditendang oleh si kaki kiri.

Coba lihat Ryan Giggs, Arjen Robben, Atau Arif “Keceng” Suyono yang kemampuan kaki kanan dan kirinya begitu timpang. Mereka kesulitan menendang jika bola tidak tepat di dekat kaki terkuatnya (Giggs dan Robben kidal, Keceng kaki kirinya “mati”). Pernah lihatkan Giggs gagal menceploskan bola matang dengan kaki kanan di depan gawang yang sudah kosong melompong ditinggal kipernya.

Butuh waktu yang lama memang untuk bisa melatih kaki kiri saya agar menyamai kekuatan tendangan kaki kanan. Saya baru menyadari tendangan kaki kiri saya kuat saat saya kuliah.

Kuncinya ketekunan berlatih.