Ini kisah nyata dari keluarga saya di Gunungkidul sana.

Jika umur sudah kepala tujuh, maka sudah waktunyalah untuk meninggalkan dunia hitam. Maksudnya rambut hitamnya berubah menjadi uban semua, hahaha😛. Begitu pula untuk tindak-tanduknya, istilahnya sudah bau tanah (ups, maaf), saatnya banyak bertobat dan rajin beribadah. Beruntunglah bagi orang-orang yang diberi tanda-tanda kiamat kecil (kematian): umur sudah lebih dari 70, sering sakit-sakitan, punggung dah bungkuk, kerut di wajah, rambut memutih, … (apalagi ya?). Jika tanda-tanda itu telah nampak, berarti sisa hidup selanjutnya adalah bonus yang harus digunakan sebaik-baiknya.

Sudah menjadi kebiasaan di masyarakat daerah saya, jika umur seseorang sudah melebihi tujuh dasawarsa, maka keluarganya akan segera membuatkan rumah masa depan baginya. Bukannya ingin mendahului takdir, tapi kondisi alam yang memaksa harus demikian. Tanah pekuburan di daerah saya umumnya berada di lereng-lereng gunung dengan tanah berbatu cadas. Cukup sulit bagi penggali kubur untuk membuat “lubang” secara instan.

Nah dari situlah cerita ini berawal. Saat itu kakek dan nenek saya yang umurnya sudah mendekati 80 tahun dibuatkan rumah masa depan di areal pemakaman pinggiran desa oleh paman-paman saya. Pembuatan kuburan ini  didengar oleh salah satu adik dari kakek saya, mbah Wongso. Dia menyambangi rumah kakek untuk menanyakan langsung.

“Kang, kowe ojo gawe omah nang Mbrojo (nama dusun tempat pemakaman berada)(Kang, kamu jangan bikin kuburan di Mbrojo)”, kata mbah Wongso.

“Lha kepiye to nok, lha wes dadi je (Gimana to dik, sudah terlanjur ini)”, jawab kakek saya.

“Aku kan wes gawe sarean nang Ponjong (nama dusun tempat pemakaman yang lain) Kang, mbok kowe yo gawe nang kono. Galo isih ono panggon cerak nggonaku (Aku kan sudah bikin kuburan di Ponjong, mbok kamu juga bikin di sana, itu masih ada tempatnya di dekat punya saya”

“Kan ora kudu jejer to nok! (Kan gak harus bersebelahan dik!)”

“Ora ngono Kang, nek iso jejer, mengko nek aku mati kan aku ono kancane ngomong (Bukan begitu Kang, kalau bisa sebelahan, nanti kalau mati, saya ada temen buat ngobrol”. (GUBRAKKK!!!)

He he he, ada-ada aja simbahku itu. Beliau membayangkan kalau di alam kubur nanti, orang-orang yang dimakamkan disekitarnya akan menjadi tetangga layaknya hidup di dunia🙂.

Cerita lain yang hampir sama terjadi di Jogja ketika seorang Bali yang tinggal di Jogja mewanti-wanti keluarganya. Dia berpesan, kelak kalau dirinya meninggal harus dimakamkan di Bali sono, jangan sampai dimakamkan di Jogja. Alasannya, dia takut gak ada yang bisa diajak ngomong bahasa Bali, wehehehe