Warung Sate Solo Pak Warno Pisangan Lama

2 Comments

Sate Pak Warno Pisangan Lama

Yang paling saya suka sehabis olah raga adalah kelaparan meningkatnya nafsu makan kita. Malam ini, sehabis main futsal di Leoni court, Prumpung, saya langsung hunting makan malam.

Ketika mata menyapu pinggir jalan untuk mencari menu makan yang cocok, terdamparlah saya di sebuah warung sate baru di kawasan Pisangan Lama, deket dengan pasar Cipinang, Jakarta Timur.

Ada yang aneh di warung sate itu.  Warung ini belum lama buka. Meja, kursi dan angkringannya benar-benar masih baru. Akan tetapi pembelinya ramai sekali. Jarang sekali warung makan baru yang langsung bisa menggaet banyak pembeli.

Malam ini saya mencoba menu sate dan tongseng. Dibungkus untuk saya makan di kost-an bersama teman-teman. Setelah saya cicipi sate dan tongsengnya, mmmm, lejat brutal. Daging satenya empuk, manis kecapnya pass, dan sambal pelengkapnya wenak tenan. Begitupun tongsongnya, bumbu-bumbunya sungguh pas.

Mau coba? Datang saja ke warung sate ini. Letaknya di Jl. Pisangan Lama 3 (ujung selatan), sebelum belokan pinggir rel (Dekat dengan Pasar Enjo dan Pasar Induk Cipinang).

Untuk menunya sangat fariatif, tak cuma sate saja. Harganya? Hanya sate kambing dan sate sapi saja yang dibanderol dengan harga Rp 15.000, sedangkan menu lainnya dibanderol pada range harga Rp 10.000-Rp 11.000.

Pak Warno beraksi dengan perabotan yang masih baru

daftar menu

Pawon

1 Comment

the pawon

Pawon bisa berarti tungku masak, bisa pula berarti dapur atau ruangan untuk memasak. Gambar di atas adalah penampakan pawon di rumah saya di kampung.

Mungkin ada yang heran, hari gini masih pakai tungku kayu bakar untuk memasak? Tak perlu heran, tungku kayu bakar masih jamak digunakan di kampung saya di Gunungkidul. Kalau anda heran, berarti anda jarang berkunjung ke daerah-daerah. Jika pernah mendaki gunung, maka kita akan tahu bahwa masayarakat di kaki-kaki gunung masih setia menggunakan tungku kayu bakar untuk memasak. Meskipun kampung saya tidak berada di kaki gunung, tetapi tetap saja masih banyak yang menggunakannya. Bedanya, kalau masyarakat di lereng gunung mengambil kayu bakar dari hutan, maka warga kampung saya memakai kayu bakar dari pohon-pohon di sekitar pekarangan rumah.

Emangnya gak ada yang jualan minyak tanah atau gas ya di kampung saya? Jangan salah, minyak tanah dan gas dengan mudah bisa dibeli (dengan harga tinggi tentunya :P) di warung dan di pasar-pasar. Hanya saja, melimpahnya kayu bakar di kampung saya merupakan alasan utama warga masih menggunakan kayu bakar. Ranting-ranting pohon, pelepah pohon kelapa, ‘blarak‘ (daun kelapa kering), atau kayu sisa gergajian yang menumpuk di tiap dapur warga merupakan pemandangan biasa.

Bahkan konon katanya, masakan yang dimasak denga kayu bakar akan memiliki cita rasa khusus yang tak bisa ditemukan pada masakan yang dimasak dengan kompor minyak atau gas. Mungkin bau sangit dari kayu bakarlah yang memberi cita rasa khas tersebut.

Pawon pada gambar di atas terbuat dari batu ”giring“, batu yang agak lunak dengan warna abu-abu. Dulu biasanya ada penjual pawon keliling kampung, kurang tahu kalau sekarang, apakah masih ada atau tidak. Di pasar tradisionalpun penjual pawon sejenis itu banyak dijumpai.

Pawon merupakan ruangan favorit waktu kecil. Sambil menunggu ibuk memasak, biasanya kita “gegeni” atau menghangatkkan badan di depan tungku. Jika musim hujan, kita bakar jagung di tungku itu. Bakar singkong, ubi jalar atau talas juga sering kita lakukan. Tinggal benamkan saja ke abu panas dalam tungku.