Petang itu jalan Pejompongan sedang macet-macetnya. Ketika sedang “enak-enaknya” menembus kemacetan parah itu untuk menuju Senayan, terlihat dua orang wanita saling bentak di depan saya. Mereka sama-sama naik motor, beriringan depan-belakang. Perempuan yang berada didepan turun dari motornya, menstandarkan (apa ya bahasa indonesianya “nyetandarke”? wekeke), menyambangi wanita di belakangnya kemudian mendampratnya dengan makian. Rupanya roda belakangnya barusan kena senggol motor di belakangnya.

Tak mau disalahkan begitu saja, wanita yang belakang ganti menyalahkan wanita yang mendampratnya itu. Dia merasa tak bersalah, justru pengendara yang depan yang ngerem mendadak. Cekcok semakin seru keti wanita yang didepan menggebrak lampu depan motor dan menendang roda motor lawannya.

Percekcokan kemudian berakhir karena para pengendara di belakang sudah semakin sewot karena jalan mereka terhalangi. Rame-rame mereka berteriak ”woiii, jalan woiii”, sambil membunyikan klakson.

Jalanan yang macet dan kondisi fisik yang capek memang formula yang ampuh tuk menaikkan emosi jiwa. Saya sendiri pernah mengalaminya di kawasan Kebayoran baru selepas maghrib. Saat itu roda depan saya menyenggol spatboard roda belakang motor di depan saya. Karenan menganggap sudah biasa kejadian semacam itu ketika macet mendera, saya tidak meminta maaf. Tak di sangka kaki pengendara motor tersebut menjulur ke belakang dan balas menendang roda motor saya. Tak ingin panjang urusan, saya diamkan saja. Ego saya juga juga yang membuat saya tak lantas meminta maaf.

Cerita drama di jalanan lainnya yang sempat tertangkap mata saya terjadi di jalan tol JORR TB Simatupang pada bulan Maret lalu. Saat itu saya baru saja turun dari mobil tumpangan gratis yang menurunkan saya (secara ilegal, hehe) di dekat pintu tol Pondok Indah. Dua arah jalan tol dalam kondisi lancar jaya ketika tiba-tiba terdengar decit rem mobil dari tol di seberang.

ciiiiiiit, ciiiiiiiiiit, brakkkkkk

Dua mobil berhenti dengan tiba-tiba di ruas jalan paling kanan, tol arah Pondok Indah-Pasar Rebo. Mobil yang belakang sempat menabrak bagian belakang mobil di depannya. Rupanya pengemudi yang depan kaget dengan mobil yang mengerem mendadak di depannya. Ia ikut-ikutan mengerem mendadak, alhasil bagian belakang mobilnya diseruduk mobil dibelakangnya.

Masing-masing pengemudinya kemudian keluar dari mobil, memeriksa akibat dari tabrakan tadi. Pengemudi yang depan adalah bapak-bapak setengah baya, kurus dan rambutnya dah memutih. Sedangkan pengemudi mobil belakang berbadan besar, berkaos singlet yang menampakkan tato di badannya.

“Waduh, kalau berantem pasti kalah neeh bapak yang kurus itu”, pikir saya. Saya sempat menduga kalau pengemudi mobil yang belakang akan marah-marah.

Tapi ternyata yang terjadi diluar perkiraan saya. Setelah memeriksa kondisi kedua mobil, mereka tersenyum, bersalaman, dan saling berpelukan. Pria bertato itu pula yang memulakan membuka lengannya mengajak berpelukan.

Mungkin saja mereka masih sangat bersyukur diberi keselamatan. Kondisi jalan tol yang ramai lancar saat itu memang memberi kesempatan kepada tiap pengemudi untuk melajukan mobil sekencang-kencangnya. Hal itu tentu saja bisa mengakibatkan kondisi yang lebih buruk, yakni tabrakan berantai. Untunglah hal itu tak terjadi.

Mereka kemudian masuk kembali ke mobil masing-masing dan menjalankan kembali kendaraannya. Sungguh pemandangan yang mengharukan.

Mengapa saya berprasangka buruk kepada mereka? Tak lain karena adanya cerita yang tersebar luas di milis-milis dan blog beberapa tahun yang lalu yang menceritakan betapa ugal-ugalannya pengendara mobil di Jakarta ini. Ceritanya bisa dibaca di blognya Pak Indra Pramana atau Pak Priyadi. Sangat prihatin membaca cerita itu, apalagi peristiwanya melibatkan salah satu senior saya di kampus dan STAPALA, hihihi.