sawah belakang rumah, 18 September 2011

Akhir-akhir ini diberitakan, berbagai daerah di Pulau Jawa mengalami kekeringan akibat musim kemarau yang Panjang. Salah satu daerah yang sering diberitakan mengalami kekeringan hebat adalah daerah saya, Gunungkidul. Jika ada berita kekurangan air, hampir pasti ada Gunungkidul. Sebaliknya, jika mendengar Gunungkidul, orang mengidentikkannya dengan daerah yang tandus kering dan terbelakang.

Begitu lekatnya stigma kekeringan di Gunungkidul, hingga banyak orang yang kaget saat mengunjungi daerah saya di Ponjong, salah satu kecamatan di Gunungkidul.

“Lho kok ada sawah di musim kemarau begini di Gunungkidul?”

“Kok sumurnya gak kering”

“Air PAMnya dari mana ini?”

Hehehe, memang ada beberapa kecamatan yang mengalami kekeringan. Itu terjadi tiap tahun saat musim kemarau. Tapi itu hanya beberapa kecamatan di pesisir selatan Gunungkidul.

Di kecamatan saya sendiri, air sangat melimpah, Alhamdulillah. Sawah-sawah bisa diolah sepanjang tahun dengan dialiri air dari banyak sumber mata air. Sumur warga dengan kedalaman 10-20 meter juga masih mengeluarkan air. Hanya pada musim kemarau yang parah saja sumur air itu kering. Itu pun masih bisa diatasi dengan menggunakan air PAM yang airnya disuplai dari penyedotan air bawah tanah (salah dua yang tersohor adalah proyek Bribin dan Seropan).