Masih ingat enam tahun lalu saat Pak Andie Megantara menyampaikan ceramahnya kepada para siswa diklat prajabatan golongan II BPPK Depkeu. Beliau menanyai siswa satu persatu apa alasan meraka masuk menjadi PNS. Dan sudah bisa diduga, rata-rata siswa diklat menjawab: “pengabdian”. Mereka akan mengabdi kepada negara meskipun gajinya kecil. Ada yang sedikit terpaksa karena mengikuti keinginan orang tua. Ada yang bertujuan membangun karier di pemerintahan. Ada yang ingin hidup aman dengan mendapatkan gaji yang konstan, dan ada pula yang ingin mendapatkan penghasilan besar karena mereka menganggap di sektor publik pun gajinya bisa gede.

Terus apa tanggapan Pak Andie?

Hidup ini pilihan, tidak ada yang namanya terpaksa. Dan semua pilihan mempunyai akibat atau konsekuaensi. Semua yang terjadi pada diri kita sekarang adalah pilihan kita sendiri. Seperti apa masa depan kita adalah konsekuensi dari pilihan masa lalu dan masa kini kita.

Begitu pula dengan keputusan menjadi PNS, itu adalah pilihan kita. Dari sekian banyak pilihan pekerjaan, kita memilih menjadi PNS. Maka kita harus menerima segala konsekuensinya. Bahwa gajinya kecil, terikat berbagai peraturan pegawai, menerima dana pensiun dan sebagainya adalah konsekuensi menjadi PNS.

Selanjutnya, kita harus bertanggungjawab atas pilihan yang kita buat. Karena kita sudah memilih menjadi PNS, maka kita harus menjadi PNS yang baik. Nrimo dengan gaji yang kecil (tidak korupsi) dan mentaati segala peraturan yang ada.

Semua ada pilihannya, tak ada yang terpaksa. Termasuk saat ini, di titik ini kita berdiri, kita masih bisa memilih. Tetap menjadi PNS (yang baik) atau keluar.