Mendengar berita, kampung halaman sudah mulai masuk musim hujan. Alhamdulillah, tanah kering akan segera menghijau, hutan jati meranggas akan segera menyemi kembali. Ladang-ladang bertanah merah yang telah dibalik tanahnya segera bisa ditanami dengan bibit-bibit padi, jagung, ketela, dan beragam palawija.

Hujan di awal musimnya adalah euforia luar biasa bagi masyarakat gunungkidul, menandai dimulainya musim tanam baru. Maklum saja sebagian besar masyarakatnya adalah petani ladang tadah hujan.

Simpanan bibit pilihan yang telah lama disiapkan segera mereka keluarkan. Untaian jagung yang berada di lumbung segera dipipil, pun begitu dengan untaian padi gogo, siap untuk disebar di ladang. Bibit ketimun, koro, benguk, gambas, dan tanaman rambat lain menyusul tuk ditanam di pekarangan.

Pagi hari setelah hujan deras pertama yang benar-benar deras, para petani berbondong-bondong menuju ladang, siap menebar bibit. Sebuah pemandangan menarik yang bisa ditemui disetiap sudut desa. Konon katanya, dahulu pada jaman awal orde baru, hari itu semua sekolah diliburkan, murid-murid dipersilahkan membantu orangtuanya menebar bibit di ladang.

Musim penghujan meninggalkan momen-momen manis bagi saya. Saat kecil dulu, saya ikut hanyut oleh euforia menyambut datangnya musim hujan. Bermain bajak tanah dan menanam jagung di kebun mini di samping rumah adalah sebagian momen indah yang tak akan pernah terlupa. Kebun jagung itu yang akan kami amati terus dari hari kehari setiap kali pulang dari sekolah. Riang luar biasa ketika biji jagungnya mulai tumbuh dan daun hijau mudanya menyeruak ke permukaan tanah. Sebaliknya, sedih luar biasa jika melihat kuncup-kuncup muda daun jagungnya habis dipatok ayam🙂.

Berhujan-hujanan di sawah, mengejar burung dan belalang yang kesulitan terbang akibat kuyub air di bulu-bulunya  adalah kegiatan yang sangat mengasyikkan bagi kami anak-anak kecil. Dan seringkali momen-momen itu diakhiri dengan berkumpulnya keluarga: adik-kakak-bapak-ibuk-simbah kakung-putri di pawon, membakar jagung atau bikin sambel bawang sego thiwul sambil menikmati curahan air hujan yang tak terhenti.

Sungguh, musim hujan di kampung adalah momen luar biasa yang sangat saya rindukan.