Ini pertama kalinya saya mengikuti Dinamik Orienteering Competition. Kejuaraan Orienteering ini diselenggarakan oleh Mahasiswa Pecinta Alam Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta, tanggal 27 November 2011 di Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Dalam lomba ini sepertinya sayalah peserta paling tua, hahaha

Lomba ini luar biasa menguras tenaga, seperti info yang saya terima sebelumnya.

Lomba orienteering ini menggunakan system score event dua babak, babak penyisihan dan babak final.

Babak penyisihan terdiri dari 14 titik point dengan waktu 2 jam. Sedangkan babak final terdiri dari 10 point dengan waktu 1 jam.

Lomba ini diikuti oleh 41 team dari Jawa – Madura, yang masing-masing team terdiri dari 2 orang.

Hanya 19 team dari 41 team tersebut yang berhak maju ke babak final.

Sudah kami duga sejak awal, pemenang lomba ini akan sangat ditentukan oleh endurance team peserta. Bayangkan saja, 14 titik point harus kami temukan dalam waktu kurang dari 2 jam. Lomba-lomba yang lain biasanya menyediakan waktu 3,5 hingga 4 jam untuk 20 titik. Itupun hanya berlangsung satu putaran saja.

Jika mampu melewati babak penyisihan, peserta akan diadu lagi untuk mencari 10 titik point hanya dalam waktu satu jam.

Praktis, para peserta dituntut untuk mengatur strategi yang tepat untuk bisa menghemat tenaga di babak penyisihan.

Dalam prakteknya, sangat susah bagi kami untuk mengatur strategi tersebut. Pasalnya, kami tak bisa mengukur, berapa titik point minimal yang harus kami dapatkan untuk bisa lolos ke babak final.

Alhasil, satu-satunya cara adalah berusaha mencari point sebanyak-banyaknya pada babak penyisihan sebagai modal untuk melaju ke babak final.

Mungkin tak menjadi masalah bagi Gokong, rekan seteam saya, untuk berlari sepanjang lomba. Maklum dalam 3 bulan terakhir dia tanpa putus terus berlatih fisik sebagai rangkaian program Elbrus dan program acara ketangkasan di Malaysia.  Dua minggu terakhir bahkan dia berlatih secara intensif di perbukitan Menoreh, kawasan angker dan wingit di Kabupaten Magelang😛.

Sepanjang lomba dia “ethes” terus berlari tanpa mengenal lelah.

Saya berusaha mengimbangi kekuatan fisiknya, tapi apa daya, persiapan yang minim lagi-lagi membuat fisik saya kedodoran. Saya baru mulai jogging hari selasa, 5 hari sebelum lomba. Kalo Faktor U, saya kira tidak begitu berpengaruh, hehehe *gak mau kalah sama anak muda

Berkali-kali saya harus menelan bentakan dari gokong karena saya tertinggal jauh darinya. Bagian paling berat saya rasakan kira-kira sekitar 2 km terakhir sebelum finish babak penyisihan. Beberapa kali saya “ngebrok” di tengah jalan. Teriakan-teriakan penyemangat dari gokong sudah tidak mempan lagi. Muatan air di tas ransel runner yang kelebihan beban sudah saya buang. Satu kemasan balsem yang sebenarnya tidak terlalu berat sudah saya “lempar’’ ke Gokong, tapi tetep saja, kaki ini masih begitu berat untuk diayunkan. Apalagi saat harus potong kompas, menyeberangi jurang yang cukup curam, 100 meter menjelang finish. Saya naik dari dasar jurang sambil merangkak, hehehe.

Dengan berlari pelan menahan kram di betis dan di paha, akhirnya garis finish babak penyisihan bisa kami lalui, 3 menit sebelum batas waktunya. Kami masuk urutan ke lima, dengan selisih nilai 50 dari peringkat pertama.

Sebenarnya kondisi fisik seperti yang saya alami juga dialami team-team lain. Bahkan saya melihat ada salah satu peserta yang menarik teman satu teamnya dengan bantuan ranting pohon yang panjang, wkwk, ada-ada saja. Ada juga team dari resimen mahasiswa yang langsung ambruk pingsan dan harus digotong team medis begitu menyentuh garis finish.

Sebenarnya batas fisik saya masih jauh, saya masih belum pingsan seperti yang dialami peserta dari menwa tadi. Kram di betis dan paha juga belum mampu menghentikan ayunan langkah. Logikanya, batas fisik kita adalah pingsan dan kram akut hingga kita gak mampu lagi bergerak. Hanya saja, mental block yang menghalangi saya untuk terus berlari.

Mental block semacam itu yang sangat terasa saat babak final. Mental down setelah cukup lama kesasar ikut berpengaruh kepada semangat berlari. Hampir tiga puluh menit kami muter-muter area tanpa kunjung menemukan titik yang kami cari.

Berlari pada trek menanjak di bawah terik matahari jam 1 siang adalah ujian mental yang cukup menantang.

Hati kecil pingin terus berlari

“Ayooo lari terusssss”

Tapi di sisi lain, ada jeritan otot-otot kaki yang menuntut untuk berjalan pelan saja

“Jalan sebentar dong, capek neeh, sebentarrrr saja”

Dan perang batin ini terus berlangsung sepanjang babak final.

Ingin rasanya tuk berhenti, dan menyerah pada suatu titik. Apalagi saat ada motor melintas di depan kita, pingin memanggil sang pengendara dan ikut numpang ke garis finish😛.

Pada akhirnya mental block itu masih kuat berdiri, tak mampu saya robohkan. Kami hanya menemukan 4 titik point di babak final, plus keterlambatan 2 menit. Usaha gigih di babak penyisihan seperti terhapus begitu saja. Kami sekedar mendapat peringkat 12.

Di final ini ada dua team yang bisa menemukan 9 point. Salah satunya team dari Makopala Universitas Budi Luhur. Team ini sedang berusaha menuju garis finish ketika langkah mereka harus terhenti  1 km sebelum finish karena salah satu anggota teamnya terserang kram akut. Akibatnya, mereka tak bisa berlari lagi dan akhirnya harus kena penalty keterlambatan 11 menit.

Sedang team yang satunya adalah team Brahmahardhika UNS, di mana salah satu anggota teamnya ambruk tersungkur begitu menyentuh garis finish dengan keterlambatan 5 menit.

Jadi, maafkan saya yang belum pingsan dan belum kram tapi tidak juara.

Tahun depan ikut orienteering lagi yuuk . Ada seri lomba Orienteering di tahun 2012 dalam Liga O dengan system cross country perorangan.

Man behind the scene:

+ Teplok “Baru Klinthing” Azys Maghfur, sebagai official yang telah menjalankan tugasnya dengan baik. Menjemput team, menyediakan logistic dengan Cuma-Cuma (gulai mentog, mentog goreng, nasi satu rantang besar,  nangka dan mangga), sebagai tukang urut dadakan sekaligus sebagai fotografer amatir.