Move on bagi saya adalah jika saya bisa bebas dari kecanduan social media: facebook dan twitter.

Ketika bisa konsentrasi bekerja di kantor. Kerjaan kacau karena sebentar-sebentar buka fb dan twitter

Ketika bisa tidur lebih awal. Tidur larut karena tadarus fb dan twitter

Ketika bisa menjamah kembali buku-buku yang sudah mendebu di rak kayu. Lebih asyik baca status fb dan timeline twitter

Bangun tidur, berdoa, sembahyang, lari pagi. Bangun tidur, mata masih kriyip-kriyip langsung buka fb dan twitter

Sehabis sholat bisa puas-puasin dzikir. Habis salam, tangan langsung meraih hp: update status fb dan twitter

Ketika baca Quran, hadist dan buku agama dalam seharinya bisa lebih lama dari pada melayari fb dan twitter.

Dan langkah awal moving on itu saya mulai hari ini, ketika saya serahkan password fb dan twitter saya kepada belahan hati saya tuk diganti.

Memangnya sudah separah itukah kecanduan saya akan social media? Sejak kapan? Gak bisakah dikontrol saja? Mengapa tak ganti saja HPnya dengan HP jadul? Kenapa gak di-deactivated aja akunnya? Emangnya gak ada manfaat sama sekali ya fb dan twitter itu?

Yes, I’m a social media addict. I’m fb-ing and twittering all day long.

Dari mana semua itu berawal? Saya tak ingin ketinggalan informasi apa saja. Dan fb serta twitter menyediakannya dengan sangat baik hati. Saya dapatkan banyak informasi dari fb dan twiiter. Saya beli kaos dengan design yang bagus via fb, sy dapatkan informasi kegiatan bermutu di ibukota ini dari twitter. Review buku-buku yang bagus bertebaran di fb. Foto-foto yang luar biasa bagus dipajang di fb. Semua semua semua ada di sini.

Saya terkoneksi dengan teman sd-smp-sma melalui fb. Chat dengan teman di Papua via fb. Olok-olokan dengan rekan di sulawesi lewat twitter. Saya bisa melakukan apa saja dengan media ini.

But, it goes wrong. Fb dan twitter telah menyita sebagian besar waktu saya. Ketika sembahyang dinomorsekiankan, ketika kerjaan diterbengkalaikan, ketika waktu tidur diconvert menjadi waktu lek-lekan membaca teks fb dan twitter.

Kini waktunya untuk menjadi normal.

Link terkait:

Confessions of a Social Media Addict

A social-media addict tries to disconnect