Masih inget percakapan dengan mas Arbi dan Slamet selepas makan siang di kantin Mbak Yanti di belakang kantor beberapa hari yang lalu.
“Saya sudah apatis dengan dunia pendidikan. Malas nglanjutin kuliah lagi, belajar sistem ekonomi yang jelas-jelas diharamkan oleh agama kita. Belajar ilmu hukum yang bertentangan dengan hukum agama kita”, ujar mas Arbi.
Pertannyaan dari Mas Arbi: “kalian mengejar beasiswa yang akan mengajarkan kepada kalian sistem ekonomi riba? Gek kepiye koweki dokán”
“Iya ya. Belum lagi kalau harus menuntut ilmu di negara kafir”, timpal saya.
Slamet beralasan: “kan untuk mengubah sesuatu harus paham dulu kelemahannya, harus dipelajari dulu itu, hehehe”.
Lhah tapi mas, kita aja sekarang bekerja jadi “polisi mbako” yang notabene diharamkan oleh banyak ulama, hayo looo. Juga ngurusi pajak impor yang menurut sebagian ulama haram hukumnya. Alangkah beruntungnya lulusan STAN yang tidak ditempatkan di Bea Cukai dan Pajak.
Belum selesai diskusi debat tentang ilmu, giliran Slamet yang bertanya: “Lha terus ngapain kita mengejar karir yang justru akan menyibukkan diri kita dengan dunia dan melalaikan akhirat?”
Sedikit statistik sederhana, ratusan pelaksana solat jamaah setiap hari di masjid kantor. Puluhan kepala seksi ikut di dalamnya. Dan kurang dari lima eselon tiga yang ikut solat berjamaah di masjid. Sementara eselon dua kadang-kadang ada 1, kadang 2, kadang 3, dan kadang tak ada sama sekali. Kalau eselon satu? Hehehe, ada gak ya?
“Kalau posisi sekarang lebih dekat dengan Allah, mengapa mengejar posisi yang justru akan menjauhkanmu dariNya?”
Alasan saya: “Kan kalau ingin ingin merubah keadaan menjadi lebih baik, kita harus ambil peran yang terbesar.”
Haduuh, galau yang tak berkesudahan kalau memikirkan hal-hal tersebut.
Obat galau:
1. Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat
2. Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat.