Masih inget percakapan dengan salah satu senior dan teman seangkatan saya selepas makan siang di kantin Mbak Yanti di belakang kantor beberapa hari yang lalu.
“Saya sudah apatis dengan dunia pendidikan. Malas nglanjutin kuliah lagi, belajar sistem ekonomi yang jelas-jelas diharamkan oleh agama kita. Belajar ilmu hukum yang bertentangan dengan hukum agama kita”, ujar senior saya.
Pertannyaan dari beliau: “kalian mengejar beasiswa yang akan mengajarkan kepada kalian sistem ekonomi riba? Gek kepiye koweki dokán”
“Iya ya. Belum lagi kalau harus menuntut ilmu di negara non muslim. Bakalan banyak sekali tantangannya”, timpal saya.
Temen satu leting saya berargumen: “kan untuk mengubah sesuatu harus paham dulu apa yang mau kita ganti itu, apa kelebihan dan kekurangannya, harus dipelajari dulu itu, hehehe”.
Bener juga ya. Sama seperti tempat kita kerja ini. Meskipun kita sekarang bekerja jadi “polisi mbako” yang oleh beberapa ulama diharamkan, namun ada “ultimate goal” yang bisa kita jadikan pegangan.
Belum selesai diskusi tentang ilmu, teman seangkatan saya bertanya lagi: “Lha terus ngapain kita mengejar karir yang justru akan menyibukkan diri kita dengan dunia dan melalaikan akhirat?”
“Kalau posisi sekarang lebih dekat dengan Allah, mengapa mengejar posisi yang justru akan menjauhkanmu dariNya?”
Alasan saya hampir sama dengan alasanmu di atas bro. Kalau kita ingin merubah keadaan menjadi lebih baik, kita harus ambil peran yang terbesar. Orang di posisi atas mempunyai kesempatan lebih banyak untuk memberi dan bermanfaat bagi orang banyak. Ya nggak? Temen saya cuma manggut2.
Haduuh, galau yang tak berkesudahan kalau memikirkan hal-hal tersebut.
Obat galau:
1. Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat
2. Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat.