Apa hubungannya naik haji dan naik gunung?
Bagi saya, yang ada mungkin perbedaannya: saya sering naik gunung tapi belum sekalipun naik haji meski sama-sama kepinginnya.
Yang ingin saya bahas di sini adalah mengenai hubungan naik haji dan kesenjangan sosial.
Kita lihat fenomena di masyarakat kita, di satu sisi ada yang berkali-kali naik haji atau umroh ke tanah suci. Sedangkan di sisi lain, atau bahkan di sisi tembok kompleks rumahnya, banyak keluarga yang mengalami kesulitan mendapatkan sesuap nasi untuk satu hari saja.
Pernah diangkat di twitter, sindiran mengenai fenomena di atas. Kira-kira kicauannya seperti ini:
“Orang yang berkali-kali naik haji tidak punya perasaan, mending gunakan dananya untuk membantu rakyat miskin”.
Tanggapan saya?
Segala sesuatu yang menyangkut keyakinan, maka yang tak masuk akal pun akan menjadi mungkin.
Israel menjajah tanah Palistin, teror bom dari Jamaah Islamiyah dan Al Qaeeda, smua kita anggap perbuatan gila. Namun itu keyakinan mereka, Israel menduduki Palistin karena dijanjikan oleh kitab sucinya, begitupun JI dan Alqaeeda yang memburu surga dalam keyakinan mereka.
Balik lagi ke naik haji 9-10 kali jika mampu. Mereka yakin dengan derajat ibadah di tanah Nabi yang beribu-ribu kali lipat pahalanya. Mereka yakin dengan berkah yang akan didapatkan di dunia dan di akhirat: rejeki lancar dan masuk surga. Mereka mengejar apa yang mereka yakini. Toh amal sosial: zakat, sodaqoh dan infaq juga tetap mereka kerjakan.
Alasan lainnya, bisa saja ibadah haji telah menjadi semacam “candu” bagi mereka. Sepulang haji rejeki melimpah, derajat sosial melambung, hati tenang dan bayangan surga di depan mata. Kalau sudah begitu, siapa yang tak ingin mengulangi naik haji.

Hubungan dengan naik gunung belom terjawab bos!
Oh iya, jadi begini: kicauan di twitter di atas ternyata juga menyentil saya. Kira-kira begini: “yang bolak-balik naik gunung (gunung yang sama pula), yang dicari apaan sih? Buang-buang duit sahaja. Mending buat sumbang orang miskin, atau kalau gak gunain aja tuk beli barang yang lebih bermanfaat, atau untuk kegiatan lain yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain.

Jawaban saya?
Masalahnya kalian belum pernah naik gunung sih. Belom tahu “nikmatnya” naik gunung. Kalau udah pernah, pasti akan ketagihan.
Nah, jawaban di atas mungkin juga bisa menjawab pertanyaan tentang naik haji berkali-kali tadi:
“Jika kamu pernah merasakan naik haji, pasti kepingin mengulanginya”🙂

-Cimahi-13 Mart 12, di tengah ceramah widyaiswara yang mengantukkan-