Sejak kapan memeluk agama ini?

Mmm, Kapan pastinya saya mulai tertarik dan mendalami ajarannya, saya tidak tahu pasti. Yang saya ingat, saat piala dunia 94 di US, saya sudah gandrung dengannya. Ingat betul dengan selebrasi goal Bebeto dengan gaya gendong bayinya. Juga selebrasi goal dengan goyang pantat yang lucu ala pemain afrika (saya lupa nama dan negara asalnya) di pojok lapangan. Saat itu saya masih kelas 5 SD.
Ketertarikan saya dengannya berlanjut saat dihelat Euro 96 di England. Kembali saudara sepupu saya, mas Nur Jauhari yang menularkannya. Nama-nama seperti Sheringham, Shearer, Klinsmann, Roberto Baggio, Lombardo, David Platt mulai familiar di telinga.
Usai pergelaran Euro 96, saya mulai menggemari Liga negara. Ada 2 liga top yang disiarkan waktu itu: liga seri A Italia di RCTI dan Inggris di SCTV. Namun entah mengapa saya lebih tertarik dengan liga Inggris. Mungkin saja atmosfir stadion yang menggelegar telah menyihir saya. Gemuruh teriakan suporter begitu riuhnya saat pemain mencetak gol. Atmosfirnya sangat jauh beda dengan liga Italia. Mungkin karena design stadion-stadion di Inggris yang lebih kecil dan hampir tertutup.
Iklan keramik Ezenza adalah iklan yang tayang waktu itu dan masih membekas sampai sekarang. Sebelum pertandingan, saat jeda, dan setalah pertandingan berakhir tag line “No tile like it” diputar berulang-ulang di layar kaca. Layaknya iklan rokok yang diberlakukan sama pada saat sekarang ini. Maklum, merekalah sponsor utama siaran langsung pertandingan bola itu.

Tim favorit saya?

Biasanya, tim papan atas liga akan dipilih oleh seseorang yang baru mengenal dunia sepakbola untuk menjadi tim favoritnya. Begitupun saya, memilih MU karena saat itu mereka sedang jaya di liga Ingris. Eric Cantona dan Ole Gunnar Solksjaer adalah dua pemain favorit saya, selain Steve Mc Manaman dari Liverpool. Saking ngefansnya sama Cantona, tiap kali pake kaos berkerah, selalu saja kerahnya diberdirikan menutup leher layaknya vampire, hehehe

Memasuki SMP, ajaran agama ini makin merasuki jiwa saya. Saat pelajaran berlangsung, kerjaan saya hanyalah menggambar kostum tim-tim liga Inggris, lengkap dengan nama sponsor masing-masing club. Yang paling populer adalah kostum MU dengan SHARP, Arsenal dengan JVC dan tentu saja Liverpool dengan Carlberg-nya. Jadilah buku tulis yang harusnya berisi catatan pelajaran, saya penuhi dengan gambar kostum bola, nama-nama stadion di Inggris, line up pemain klub, dan juga kartun lucu kepala plontos ala tabloid Bola.

Yang tak pernah ketinggalan, begitu bel istirahat berbunyi, langsung saya berlari menuju koran yang dipajang di papan kaca di lorong antara laboratorium dan ruang guru. Halaman pertama yang dituju tentu saja halaman khusus olahraga, mencari tahu update skor liga-liga top Eropa. Maklum, saat itu belum ada internet, ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ.
Setiap Sabtu, menjelang bel pulang sekolah berdering, kaki sudah gatal ingin segera beranjak dari kelas. Dan begitu bel berbunyi, langsung saja terayun langkah seribu, berlari pulang. Bukan karena lapar atau apa, tapi karena tak ingin ketinggalan acara nombor wahid: Planet Futsal di RCTI jam 1 siang dengan pembawa acara Maya Asterik. Sayang, acara itu kini telah almarhum😦. Dulu, saya biasa nonton acara ini di rumah tetangga atau rumah Siwo (Budhe). Maklum tivi di rumah yang hitam putih itu hanya dihampiri siaran TVRI, TPI dan Indosiar😀
Saat SMP ini pula untuk pertama kalinya saya memiliki kostum tim sepakbola. Saudara sepupu di Jakarta mengirimkan kostum tim Aston Villa dan Barcelona. Sungguh senang luar biasa bisa memakai kostum tersebut meskipun entah KW berapa.

Sabtu malam adalah malam yang paling saya tunggu, tak lain karena ada siaran langsung pertandingan liga Inggris di SCTV. Sering saya menginap di rumah Siwo untuk melihat siaran ini. Meski tak jarang pula harus rebutan dengan empunya rumah yang lebih memilih sinetron berseri😀

Sejauh mana ajaran agama ini merasukimu?

Well, tak ada agama yang sedahsyat sepakbola. Ia telah menyihir pemujanya. Salah satu contohnya, tiap kali liga Champion digelar (biasanya pada dini hari tengah pekan) dengan ikhlas saya “tahajud” menghabiskan sepertiga malam untuk memelototi layar kaca. Saya bisa betah menghabiskan waktu berjam-jam untuk melihatnya. Pun kalau saya membaca berita bola, topik berita lain menjadi semacam pelengkap saja.

Begitu dahsyatnya agama baru ini, penganutnya milyaran, tersebar di seluruh penjuru dunia. Doa saya, smoga saya bisa segera murtad dari agama ini, agama dengan pemeluk paling banyak di seantero jagad. Agama bernama sepakbola.

-malam dingin di Cimahi, minggu kedua diklat, yang harusnya ngerjain tugas-