Plain Packaging

Leave a comment

Apa jadinya jika kemasan rokok dibuat polos, tanpa ada desain warna-warni seperti yang saat ini beredar luas di masyarakat.

Plain packaging pada rokok adalah salah satu klausul yang akan diperjuangkan oleh para aktivis anti tembakau. Tujuannya jelas, menghilangkan daya tarik kemasan rokok yang mereka anggap berandil besar dalam menarik konsumen rokok.

Apakah taktik ini akan berhasil? Jika nantinya klausul ini mampu menembus tembok birokrasi pembuat regulasi dan disyahkan, diyakini peredaran rokok akan berkurang drastis.

Selama ini, ada rasa bangga tersendiri saat perokok menenteng kemasan rokok nan mewah beserta koreknya. Setidaknya itu yang dulu pernah saya rasakan saat menjadi perokok.

Tak dipungkiri memang, produsen rokok jor-joran mengguyurkan dana berlimpah ruah untuk menarik pembeli. Pertama, untuk mendesain kemasan rokoknya semenarik mungkin. Dalam bayangan saya, sang desain grafis yang dibayar sangat mahal dengan tekunnya menggarap desain kemasan rokok, ditemani asap rokok yang terus mengebul di sampingnya 😀

Yang kedua, produsen rokok dipastikan mengguyurkan dananya untuk pembuatan iklan, baik iklan cetak maupun iklan gerak di televisi. (Mengenai iklan rokok yang berjuara akan dibahas di postingan lain)

Coba kita tengok etalase rokok di toko kelontong, di minimarket, di super market. Rokok menempati singgasana tertinggi, duduk di kursi raja, dipajang di samping kasir, tempat yang paling strategis, yang bakalan dilewati dan dilihat oleh hampir semua pengunjung.

Desain gagah aneka warna dengan kualitas kertas yang glossy abis pasti akan menarik perhatian calon konsumen.

Sekarang coba bayangkan jika kita menenteng bungkus rokok polos; tanpa merk mencolok, tanpa warna cantik. Masihkah ada ada rasa gagah yang ditimbulkannya?

Punclut Bandung Utara, Pusat Kuliner Nasi Merah Hitam

10 Comments

Tadinya saya bingung apa nama daerah ini, apakah Puncrut, Punclut, ataukah Puncluk. Ternyata, seperti banyak istilah dalam bahasa sunda yang didapat dari menyingkat beberapa kata, daerah ini diberi nama dengan menyingkat dua kata: Puncak Ciumbuleuit. Ciumbuleuit adalah kecamatan di mana daerah ini berada.

Punclut adalah kawasan dataran tinggi yang mencapai ketinggian diatas 1000 meter dpl. Tempat ini bisa dicapai melalui Jl Cihampelas terus melewati Jl Ciumbuluit menuju arah RS Salamun.

Daerah ini menawarkan pemandangan yang luar biasa. Kita bisa melihat lanskap keseluruhan kota Bandung dari atas ketinggian. Tempat ini merupakan salah satu tempat favorit bagi warga Bandung untuk berwisata di malam Minggu.

Sambil menikmati pemandangan lampu kota, pengunjung akan dimanjakan oleh pelayanan warung-warung makan lesehan yang menyajikan makanan khas Sunda.

Ada beragam menu yang bisa kita pilih seperti nasi goreng ataupun nasi timbel. Namun, menu makanan paling populer di kawasan ini adalah nasi merah kehitaman yang disajikan dalam bakul dari anyaman bambu. Lauk yang bisa dipilih pun beraneka ragam; mulai dari udang, cumi, tutut, gorengan, ayam, empal, jeroan, ikan air tawar hingga belut goreng yang sungguh menggoda selera. Disertai dengan sambal terasi lengkap dengan lalapan petai mentah dan jengkol gorengnya, lengkap sudah rasa yang ditawarkan kepada pengunjung, sungguh istim lah.

Bagi pengunjung yang sekedar ingin menikmati pemandangan; jagung bakar dan bandrek adalah pasangan yang wajib dicoba untuk sekedar menghangatkan badan. Maklum, dengan ketinggian lebih dari 1000 meter, hawa di kawasan ini cukup dingin sampai menusuk tulang. Jaket tebal adalah atribut yang wajib dipakai jika mengunjungi tempat ini di malam hari.

Jika ingin merasakan kenyamanan kawasan Punclut, direkomendasikan menuju kawasan ini menggunakan motor saja. Jalan yang ramai lagi sempit menyusahkan pergerakan mobil pengunjung. Apalagi di malam Minggu, tempat ini sungguh ramai.

Dua hal yang sungguh di sayangkan dari tempat ini. Pepohonan yang minim serta maraknya pendirian bangunan di kawasan ini mengancam keselamatan lingkungan perbukitan ini. Lahan di Punclut didominasi oleh ladang sayur yang rawan erosi dan tanah lonsor. Bisa dibayangkan daerah ini begitu teriknya di siang hari karena minimnya penghijauan.

Eksploitasi ekonomi pada kawasan yang konon merupakan bekas kebun teh pada jaman Belanda ini sudah melampaui ambang batas. Sungguh ironis, daerah yang sejatinya merupakan daerah resapan air bagi kota Bandung dibiarkan rusak oleh keserakahan manusia.