Apa jadinya jika kemasan rokok dibuat polos, tanpa ada desain warna-warni seperti yang saat ini beredar luas di masyarakat.

Plain packaging pada rokok adalah salah satu klausul yang akan diperjuangkan oleh para aktivis anti tembakau. Tujuannya jelas, menghilangkan daya tarik kemasan rokok yang mereka anggap berandil besar dalam menarik konsumen rokok.

Apakah taktik ini akan berhasil? Jika nantinya klausul ini mampu menembus tembok birokrasi pembuat regulasi dan disyahkan, diyakini peredaran rokok akan berkurang drastis.

Selama ini, ada rasa bangga tersendiri saat perokok menenteng kemasan rokok nan mewah beserta koreknya. Setidaknya itu yang dulu pernah saya rasakan saat menjadi perokok.

Tak dipungkiri memang, produsen rokok jor-joran mengguyurkan dana berlimpah ruah untuk menarik pembeli. Pertama, untuk mendesain kemasan rokoknya semenarik mungkin. Dalam bayangan saya, sang desain grafis yang dibayar sangat mahal dengan tekunnya menggarap desain kemasan rokok, ditemani asap rokok yang terus mengebul di sampingnya😀

Yang kedua, produsen rokok dipastikan mengguyurkan dananya untuk pembuatan iklan, baik iklan cetak maupun iklan gerak di televisi. (Mengenai iklan rokok yang berjuara akan dibahas di postingan lain)

Coba kita tengok etalase rokok di toko kelontong, di minimarket, di super market. Rokok menempati singgasana tertinggi, duduk di kursi raja, dipajang di samping kasir, tempat yang paling strategis, yang bakalan dilewati dan dilihat oleh hampir semua pengunjung.

Desain gagah aneka warna dengan kualitas kertas yang glossy abis pasti akan menarik perhatian calon konsumen.

Sekarang coba bayangkan jika kita menenteng bungkus rokok polos; tanpa merk mencolok, tanpa warna cantik. Masihkah ada ada rasa gagah yang ditimbulkannya?