Ketika datang hari perhitungan, seluruh umat manusia dikumpulkan di padang Mahsyar. Saat itulah akan nampak diantara umat manusia itu ada segelintir manusia berleher jenjang. Mereka berjalan dengan kepala tegak dan lebih menonjol dari yang lain. Mereka ditinggikan oleh Allah.

Siapakah gerangan mereka itu? Dikisahkan bahwa mereka adalah umat yang sewaktu hidup di dunia menyerukan adzan, memanggil umat yang lain untuk menegakkan sholat jamaah di masjid. Berleher panjang diartikan bahwa mereka mempunyai derajat lebih tinggi dari yang lain.

Begitu utamanya amalan seorang muadzin. Sudah seharusnyalah kita berebut untuk menyuarakan adzan di masjid.

Sayangnya, yang terJadi di sekitar kita justru sebaliknya. Muadzin seakan dimonopoli oleh sedikit orang saja. Yang adzan pasti yang itu-itu terus. Ada 2 kemungkinan yang terjadi: pertama, petugas adzan memang sudah dipilih dan ditetapkan oleh pengurus masjid dari orang-orang yang bersuara merdu dengan nafas yang panjang sehingga akan indah didengarkan oleh jamaah. Jika ini yang terjadi, selayaknyalah tak hanya satu orang yang ditunjuk, namun beberapa orang dengan jadwal yang jelas.

Kedua, dan ini saya rasa yang banyak terjadi. Banyak yang enggan untuk jadi muadzin. Bisa karena minder suaranya parau, bisa juga karena malas. Malas datang paling awal ke masjid😀

Seperti yang terjadi di kampung saya, masjid Baiturrahim. Selama berpuluh-puluh tahun, muadzin dijabat oleh mbah Sis (bukan sis NS lho) yang (maaf) untuk melafalkan kata “Allahu akbar” dengan benar saja susah. Justru yang terdengar adalah “Alohu wabar”. Mbah Sis terpaksa lengser dari kursi muadzin setelah dipanggil oleh yang Maha Kuasa. Mudah-mudahan Allah memberi tempat terbaik bagi mbah Sis di alam akhirat.

Yang terjadi di masjid-masjid tetangga dusun juga demikian. Rata-rata muadzin tunggalnya adalah kakek-kakek sepuh yang tinggal di dekat masjid. Dengan nada adzan yang sama dan jauh dari merdu, sehari selama lima kali dan telah berlangsung berpuluh tahun🙂

Memang berat untuk menjadi seorang muadzin. Dibutuhkan nyali yang besar dan modal nafas yang panjang. Salah sedikit, maka jamaah yang mendengar pasti akan menertawakannya. Seperti yang pernah saya alami saat masih sekolah dulu. Pernah saya salah ambil nada awalan yang terlalu tinggi. Akibatnya, di tengah adzan, suara tidak sampai bagai tercekik. Malu lah saya dibuatnya. Apalagi pengeras suara yang dipakai bisa melengkingkan suara hingga ke seluruh penjuru kampung, ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ

Sebenarnya saya ingin menjadi manusia berleher panjang kelak. Namun, suara cempreng dan nyali yang rendah mengurungkan keinginan itu. Bertahun-tahun lamanya tidak mengumandangkan adzan, minggu lalu saya diberi kesempatan melakukannya lagi. Saat diklat di BDK Cimahi, beberapa kali saya menjadi muadzin. Sempat deg-degan juga dibuatnya. Tapi Alhamdulillah, meski dengan nada yang standard banget, adzan berhasil dikumandangkan dengan lancar. Cukup mengobati kerinduan masa-masa aktif di organisasi remaja masjid dulu.