Tiket kereta ekonomi jarak jauh yang di loket resmi harganya 35 ribu, di tangan calo baru bisa dilepas dengan harga 100 ribu. Bahkan ada penumpang yang menebusnya dengan harga 130 ribu. Sedih gak tuh?

Kok bisa ya harga calo melambung setinggi itu. Kok mau-maunya beli tiket dengan mark up 300 %.

Pertama, karena jumlahnya sangat terbatas. Semenjak pembatasan penumpang kereta sebanyak jumlah tempat duduk, tiket kereta, khususnya ekonomi adalah barang langka. Bayangkan saja, sebelum kebijakan pembatasan -dimana masih tersedia tiket berdiri- aja, penumpang tidak mampu ditampung. Apalagi setelah ada pembatasan. Belum lagi ditambah dengan limpahan penumpang kereta kelas bisnis dan ekonomi AC (yang juga dibatasi) yang sangat rela untuk down grade ke kelas ekonomi. Bisa dibilang tiket kereta ekonomi menjadi rebutan. Setelah harga dikerek tinggi-tinggipun, masih saja diperebutkan.

Dari sisi sang calo, dengan tingginya permintaan, maka akan membuatnya berani mematok harga tinggi tanpa kawatir tiket tak laku.

Yang kedua, karena selisih harga tiket kereta kelas ekonomi dengan kereta kelas di atasnya sangat jauh. Harga tiket ekonomi sangat murah karena diberi subsidi oleh pemerintah. Sedangkan kereta ekonomi AC yang tidak bersubsidi dipatok pada harga di atas seratus ribu. Bahkan untuk libur panjang, harganya bisa mencapai 170 ribu. Apalagi jika dibandingkan dengan harga tiket kelas bisnis, jelas sangat jauh. Akibatnya, dengan harga calo yang tinggipun sepanjang masih lebih murah dari tiket ekonomi AC, penumpang akan tetap membelinya, meski dengan rasa terpaksa.

Seorang bapak yang saya temui di stasiun Pasar Senen menuturkan, bahwa ia terpaksa membeli tiket dari calo dengan harga tinggi karena tak mau harus pulang balik dan batal berangkat.
“Malas kalau harus ngantri lagi besok mas. Itu pun belum tentu dapat”.

Sedangkan bapak-bapak yang lain yang juga membeli tiket dari calo beralasan, ia tak mungkin menunda keberangkatan ke Jawa Tengah karena ada urusan penting dan mendesak.

Orang-orang dengan kepentingan mendesak seperti bapak tadilah yang akan terus jadi sasaran empuk para calo tiket.