Tahukah Anda, berapa berat beban logistik dan perlengkapan yang dibawa tim ekspedisi seven summits Mahitala Unpar saat mendaki Everest? 7,5 ton coy, manteb kan😀

Berapa biaya tiket pesawat Jakarta-Punta Arenas Chile yang harus dibayarkan tim ISSEMU? 250 juta jack @_@.

Dan tahukah Anda bahwa makanan yang dikonsumsi oleh tim ISSEMU selama di Vinson Massif Antartika adalah makanan kaleng “sisa” yang
ditinggalakan oleh sebuah tim tahun 2006 yang sebenarnya sudah kadaluarsa. Namun karena disimpan dalam suhu ekstrem di bawah nol derajat, maka tanggal kadaluarsanya menjadi tidak berlaku🙂.

Fakta-fakta tersebut di atas adalah sebagian dari kisah dan pengalaman yang dibagi oleh dua seven summitter Indonesia pada acara Deep and Extrem di Jakarta Convention Center, Sabtu 30 Maret 2012.

Cerita yang lain yang terjadi selama berlangsungnya Indonesian Seven Summits Expedition Mahitala Unpar adalah perjuangan hidup mati anggota ekspedisi menghadapi keganasan alam.

Seperti yang dituturkan oleh Sofyan Arief Feza, anggota ekspedisi paling senior, dirinya dan salah seorang sherpa mengalami kejadian yang nyaris berakibat fatal. Saat berusaha menggapai puncak tertinggi dunia, Everest, mereka hampir saja terkubur hidup-hidup oleh avalance (longsoran salju) yang meluncur dari atas tebing menuju tepat di depan mereka dalam jarak hanya 50 meter saja. Dia ceritakan bahwa sang sherpa langsung lari tunggang langgang meninggalkan tas carrier penuh beban begitu mendengar suara gemuruh dari atas tebing. Sang sherpa berhasil lolos dari maut setelah berlindung dalam cerukan salju yang sempat dia gali. Namun, carrier yang ditinggalkannya itu pada akhirnya terkubur salju dan tak ditemukan lagi. Sementara Ian (panggilan Sofyan Arief Feza) terkena hempasan ujung longsoran salju yang cukup kuat untuk membuatnya jatuh terguling-guling.

Cerita “horor” yang lain datang dari Broery Andrew Sihombing, anggota ekspedisi yang lain. Kejadiannya ketika mereka mendaki puncak tertinggi Antartika, Vinson Massif. Ia jatuh terperosok kedalam sebuah craverse (jurang yang tertutup salju rapuh) yang cukup dalam. Dirinya diselamatkan oleh tali yang memang sengaja dikaitkan ke pendaki lain. Teknik pendakian dengan cara ini disebut moving together, di mana pendaki satu dengan yang lain saling terhubung oleh tali kernmantel yang berfungsi sebagai pengaman. Andaikat salah satu pendaki terjatuh ke lereng bawah atau jurang, maka pendaki yang lain masih bisa menahannya dengan tali pengaman tersebut.