Cap sebagai seorang pendaki sudah melekat pada diri saya meskipun sudah setahun saya tidak lagi naik gunung.

“Kapan naik lagi? Ajak-ajak dong!” adalah pertanyaan wajib yang bikin bosan tuk ngejawabnya😀.

Dua pertanyaan lain yang juga sering ditanyakan kepada saya adalah “Pernah lihat hantu di gunung gak?” Dan “nemu edelweiss gak?”

Pertanyaan pertama, bikin dongkol bin jengkel. Jawaban saya: seumur-umur saya belom pernah lihat hantu. Hellow, hari gini masih percaya hantu? Itu jin iseng kaleee, yang berusaha menggoyahkan iman kita.

Tak bisa dipungkiri memang, setiap gunung selalu ada cerita mistis yang terbangun di kalangan masyarakat di kaki gunung. Gunung Ciremai contohnya, populer dengan Nini Peletnya. Gunung Semeru dengan arca kembar mistisnya. Gunung Argopuro dengan kisah Dewi Rengganisnya, dan masih buanyak lagi.

Tapi sekali lagi, itu pemahaman yang salah. Sama halnya dengan kepercayaan masyarakat akan Nyi Roro Kidul. Bahwa mungkin ada pernah masyarakat yang pernah melihat penampakannya, tak lain itu hanyalah tipu daya jin.

Kalau masalah edelweiss, hampir di tiap gunung ada. Ada tuh puluhan hektar “kebun” Edelweiss di Alun-alun Surya Kencana Gunung Gede. Di Argopuro bahkan “kebun”nya lebih luas lagi.

Pertanyaan itu menjurus ke satu hal. Bahwa mendaki gunung identik dengan oleh-oleh sekuntum bunga abadi edelweiss. Sama seperti kalau kita mo naik gunung trus temen-temen awam pada nitip dibawakan oleh-oleh bunga edelweiss.

Saya sebut teman-teman “awam” karena mereka belum paham kode etik pendaki gunung. Bahwa kita dilarang untuk memetik, mengambil atau merusak sesuatu dari gunung, termasuk memetik sang Edelweiss yang langka ini.

Pernah di suatu waktu dalam perjalanan pulang dari mendaki Gunung Sindoro, saya bercakap-cakap dengan kondektur bus. Begitu tahu saya dan team baru saja turun gunung, langsung saja dia bertanya: “dapat edelweiss gak mas?”

Belum sempat saya menjawabnya, dia langsung cerita dengan bangganya, bahwa dia dulunya juga sering mendaki. Tiap kali turun gunung, yang dibawa adalah segenggam bunga edelweiss untuk diberikan ke gadis pujaan. Miris gak tuh?

Di lain kesempatan, saat mendaki Merbabu, anggota team saya langsung kalap begitu melihat edelweiss bermekaran. Langsung saja dia petik edelweiss dengan rakusnya. Prihatin gak tuh?

Tak hanya kalangan pendaki awam yang salah persepsi dengan edelweiss ini, yang mengira bunga ini bisa dipetik sesuka hati. Teman-teman yang katanya anggota organisasi pecinta alampun banyak yang melanggar kode etik ini. Foto-foto narsis dengan bunga edelweiss di genggaman tangan menjadi bukti ke”cubluk”an pikir mereka.
Sedih gak tuh?