Penampilannya sangat khas, meski bukan pensiunan pegawai negeri, seragam korpri yang lengan panjang itu sering melekat di badannya. Dengan celana kolor hitam gombrong sebatas bawah lutut, (dan ini yang paling khas) ia mengendarai sepeda onta tua loreng hitam putih. Sepeda onta bermotif ular “weling” itu menunjukkan bahwa dia akrab dengan hewan berbisa yang satu itu. Kesan seram dan menakutkan bertambah dengan jengot putih panjangnya, bikin takut anak kecil lah pokoknya😀

Usianya tak lagi muda, juga bukan setengah baya, renta lebih tepatnya. Setang sepeda yang dikendarainya pun selalu bergetar, menandakan fisiknya yang sudah kian lemah. Namun, jangan ragukan semangatnya. Dari dusun ke dusun, desa kedesa, bahkan antar kecamatan dia sambangi. Bukan untuk show off sepeda anehnya, tapi untuk mengunjungi bekas “pasien”nya.

Gambaran visual di atas saya lihat saat saya SD. Dan tiga tahun lalu dia baru benar-benar “menyerah”, meninggal karena sakit tua. Ia dimakamkan bersama kemampuan luar biasanya menyembuhkan korban gigitan ular berbisa, tanpa ada yang mewarisinya.

Seberapa hebat dia?

Dia bukan nabi yang bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Pun ketika korban gigitan ular berbisa terlambat ditanganinya, ia pun tak kuasa menyembuhkannya. Namun kemampuannya sudah terkenal seantero kecamatan. Banyak korban ular berbisa selamat dari maut, tertolong oleh kemampuannya menawarkan racun. Ibu saya salah satunya.

Petang itu, dengan tergesa ibuku berlari kecil mengejar jamaah maghrib di masjid kampung mBugel. Sampai di perempatan dusun, ibuk merasa menginjak benda hidup. Sekejab kemudian sebuah sengatan terasa di kakinya. Seekor ular kecil ternyata. Beberapa orang yang mendengar teriakan ibukku berhasil menangkap ular kecil hitam itu dan membunuhnya.

Seperti kebiasaan di kampungku, jika ada yang digigit ular, masyarakat pasti langsung meminta Pak Wir Wariso untuk datang menawarkan bisanya. Alhamdulillah, setelah bisa ular dikeluarkan, ibuk bisa lolos dari maut.

Bagaimana dia menawarkan racunnya?

Pak Wir menawarkan atau lebih tepatnya mengeluarkan bisa ular dari korban dengan cara menghisab racun dari luka gigitannya. Mirip dengan adegan di film-film. Pertama-tama dia keluarkan “gaman” andalannya, sebuah keris kecil. Keris itu diusapkan kebibirnya, sedikit dijilat, kemudian dia sedot racun ular dan meyemburkannya keluar.

Dilihat dari sisi medis modern, cara ini sangat tidak dianjurkan karena bisa membahayakan orang yang menyedot bisanya. Salah-salah maut bisa menjemput karena bisa ular yang masuk ke mulutnya. Namun, mungkin karena sudah kebal, bisa ular itu tak berakibat fatal bagi Pak Wir.

Bukan dia tak pernah bersinggungan dengan maut dengan aktivitasnya sebagai tabib ular ini. Maut pernah mendekatinya ketika ia digigit salah satu ular peliharaannya. Memang konon katanya, dia memelihara beberapa ular di dalam rumahnya.

Kunjungan terakhir sang Tabib

Beberapa hari sebelum meninggal, Pak Wir sempat berkunjung ke rumah saya menemui bapak. Tidak seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya ketika dia meminta tembakau untuk rokok lintingan, kali ini dia meminta celana bekas pakai dari bapak. Tak mau dia diberi celana baru, dia ngotot minta celana bekas. Untuk kenang-kenangan katanya. Mungkin dia sudah merasa ini akan jadi kunjungan terakhirnya.

Akhir-akhir ini sering kejadian ular masuk ke dalam rumah saya. Beberapa diantaranya ular berbisa. Kini tak ada lagi orang yang bisa diminta mengusir ular dari pekarangan rumah secara “halus”. Terpaksa bapak harus membunuh ular-ular itu.