“Piye kabare? Ganti nomer to? Pantesan susah dihubungi. Alhamdulillah sehat di sini, ini baru balik dari masjid. Alhamdulillah kerjaan lancar. Kerja tinggal pilih aja. Tadinya jadi supir setum (stom wall, silinder), sekarang pindah jadi tukang listrik. Saya lebaran gak balik, masih betah, dua tahun lagi baru balik.”

Dua bait sms masuk malam tadi, dari sahabat lama yang kini bermukim di negeri jiran Malaysia. Sudah hampir dua tahun ini dia merantau di negeri orang, setelah sebelumnya mengadu nasib di ibukota Jakarta nan kejam.

Tanah seberang sepertinya lebih menjanjikan untuk mencari penghidupan. Hampir sepuluh tahun malang melintang di Jakarta dan kota-kota satelit di sekitarnya, tak teritung berapa kali dia terpaksa berpindah tempat kerja dari satu pabrik ke pabrik lainnya, dari satu mall ke mall lainnya, dari satu kantor ke kantor lainnya.

Bukannya dia tak betah, tapi sistem kontrak dan ketatnya hari kerja memaksanya menjadi kutu loncat dari satu tempat kerja ke tempat kerja yang lain.

Upah yang ia terima di Malaysia mungkin jauh lebih kecil dari upah para Tenaga Kerja Wanita yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di jazirah Arab sana. Tapi setidaknya di negeri Upin dan Ipin ini ia bisa memilih pekerjaan apa yang akan dia tekuni. Yang sekiranya bisa memberikan upah yang lebih menjanjikan dari pada upah di Jakarta. Upah yang bisa menghidupinya di tanah rantau, yang sisanya cukup tuk ia kirim ke kampung halaman.

Negeri Malaysia sebenarnya bukan negara tujuan pertamanya. Sebelum terdampar di Malaysia, dia sempat berniat menjadi ABK kapal Vietnam. Jutaan uang sudah dia serahkan kepada seseorang yang menjanjikannya pekerjaan itu. Tapi apa lacur, entah benar apa cuma sekedar tipuan, orang tersebut mengaku sakit keras di kampung halamannya di Jawa TImur sana. Menguaplah impian bekerja di luar negeri beserta uang berjuta.

Tak patah arang, akhirnya bisa juga dia keluar negeri. Di negerinya Anwar Ibrahim ini dia merajut mimpi, mengumpulkan ringgit untuk bekal hidup di kampung halaman kelak. Tentu dengan pengorbanan yang cukup berat: dia tak akan bisa melihat anak perempuan kecilnya tumbuh besar selama empat tahun. Uang kiriman setiap bulannya itulah yang akan mewakili peluk kasih sayang seorang ayah kepada anak tercintanya.

Dia simpan rindu akut akan anak istri dan keluarganya, rindu tebal kepada kampong halamannya. Yang akan dia tukar dengan sedikit tabungan tuk memulai usaha baru di masa depan.

Sukses untukmu sahabat. Doaku menyertaimu.

Rawamangun, 26 Juni 2012.