Anak perempuan yang sangat manis duduk di sampingku. Bangku no 16B, gerbong 6, kereta Progo.
Dengan rok mini warna pink di atas lutut, spatu pink, kaos merah dan jaket pink, mengipas-ngipaskan kipas hingga anginnya terhembus juga ke arahku.
Kakinya digoyang-goyangkan, sambil terus bertanya kapan kretanya jalan. Panggilan telpon ke sebrang sinyal -mungkin kepada orang terkasihnya- gagal nyambung.
Jarum jam menunjuk ke takik antara angka 8 dan sembilan. Perlahan kreta bergerak. Dan sorak riang anak genit itu berderai.
“Ayah, kretanya jalan!”,
disusul tos akrab anak manis 3 tahunan itu dengan ayahnya.
“Kita telpon ibu lagi ya dik!”, pinta sang ayah untuk anaknya.

Di bangku lain, gerbong yang lain, di atas kereta yang lain, dalam malam tanggal yang lain pula nampak seorang kakek merapikan buku yang habis dibacanya. Buku yang masih rapi meski kertasnya sudah menguning dimakan tahun itu dia satukan dengan tumpukan buku lain yang tak kalah kuningnya, di dalam tas plastik yang ia taruh di rak barang dalam gerbong.
Remang lampu dalam gerbong tak menyurutkan minat bacanya meski harus dengan bantuan pseudoeye-nya (kaca mata- red).
Lalu dia buka bekal nasinya. Dikeluarkannya satu persatu lauk yang terpisah dalam masing-masing plastik. Lahap nian dia santap nasi lauk itu.
Kelar dengan urusan perut, dia lanjutkan mengasupi otaknya, melahap lembar demi lembar kitab kuning itu.