Pagi ini cuaca cerah sekali. Sinar mentari menyinari genangan air di halaman gedung rektorat UGM,  memantulkan bayangan pilar-pilar kokoh gedungnya. Saya duduk disamping pilar-pilar tinggi itu,  menerawang jauh kebelakang, ke masa lalu, memanggil memori yang terekam lebih dari dua dekade  yang telah lalu.

Saat itu saya masih SD. Saya dibonceng pakdhe saya berkeliling kampus UGM dengan menggunakan  motor GL 100nya sehabis mengambil beasiswa di kanwil pendidikan DIY. Gambaran pilar-pilar tinggi  gedung rektorat UGM begitu mengakar dalam benak pikiran saya. Tanpa sadar, saya pun berangan-  angan suatu saat nanti bisa menimba ilmu di kampus ini. Asa itu terus terjaga dalam hati saya. Ketika  kelas tiga sma menginjak akhir masanya, saya membangun asa untuk masuk teknik industri UGM. Hanya  pengumuman penerimaan UNS melalui jalur PMDK lah yang memudarkan asa itu. Kemudian benar-  benar tenggelam saat saya memilih belajar di STAN.

Asa itu kembali hidup saat saya lulus dari DIV STAN dan mulai mencari-cari alternatif beasiswa S2.  Gambaran pilar-pilar tinggi gedung rektorat UGM kembali muncul menjadi asa. Setiap kali pulang ke  Jogja menemui istri (saat itu masih pengantin baru), selalu kami sempatkan untuk putar-putar kampus  UGM, membangun sugesti bahwa suatu saat nanti saya bisa belajar di kampus impian ini. Melawati  simpang empat MM UGM, kami sedikit bercanda bahwasanya inilah kampus masa depanku.

Akhir tahun 2013, mimpi itu menjadi kenyataan. Melalui beasiswa SPIRIT saya bisa mengambil program  double degree dalam dan luar negeri. Sebuah paket kejadian yang sekaligus bisa mewujudkan dua mimpi  besar saya sejak kecil: kuliah di UGM dan di universitas luar negeri.

The law of attraction?

Ketika mendengar kata The Law of Attraction, ada rasa percaya dan tidak percaya dalam diri  saya. Sebagai umat beragama, saya percaya bahwa segala sesuatu itu sudah ditentukan oleh yang maha  kuasa. Hanya saja, beberapa pengalaman yang saya alami menguatkan hipotesis The Law of Attraction  itu. Entahlah, antara percaya dan tak percaya.

Suara burung bangau penghuni hutan kampus UGM menyadarkanku. Tak terasa genangan air tumpah  dari sudut mataku. Sungguh tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Kuliah sambil “berwisata” tiap hari di  Jogja harus segera berakhir. Kini saya sedang mengurus persyaratan wisuda, sudah saatnya saya lulus  dari kampus tercinta ini.

 

-Balairung UGM, 25 Juni 2016, satu bulan menjelang wisuda-

Advertisements